SEMARANG (jatengtoday.com) – Ranar Pradipto, seorang travel photographer Indonesia ini patut diikuti jejaknya. Kecintaannya terhadap alam Indonesia dan fotografi menghantarkannya menjadi suatu profesi yang menjanjikan.
Hal itu dibeberkan Ranar saat mengisi talkshow fotografi pada event Semarang Photo Festival 2019 di DP Mall Semarang, Kamis (25/4/2019) malam.
Baginya, menjadi seorang travel photographer merupakan minat yang telah ada pada dirinya sejak duduk di bangku kuliah. Hanya saja, Ranar serasa salah jurusan. Sebab, saat kuliah bukannya mengambil jurusan fotografi atau sejenisnya, malah mengambil Teknik Sipil.
“Kaya ada salah jurusan juga sih, karena masuk di Teknik Sipil,” ujarnya. Ranar menempuh kuliahnya di UGM Yogyakarta untuk jenjang D3, serta di Universitas Diponegoro Semarang pada jenjang S1.
Meskipun jurusan kuliah tak selaras dengan hobinya, bukan berarti kecintaannya pada alam dan dunia fotografi dikesampingkan. Di sela-sela itu, Ranar banyak menghabiskan hari-harinya dengan traveling. Fotografi, katanya, membuat setiap perjalanan lebih berwarna.
“Sejak awal kuliah pada 2007, saya pegang kamera. Dari situ belajar sampai akhirnya saya tinggal di Semarang pada tahun 2010. Dan saya mulai menggelutinya secara serius,” imbuhnya.
Di Semarang ini pula ia menemukan rekan-rekan yang sehobi. Bagi Ranar, mengikuti suatu komunitas yang sejalan dengan hobinya dapat mengembangkan potensinya. Sebab, di situ bisa banyak belajar dari orang lain.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa kecintaannnya pada fotografi terus menguat. Terhitung dari tahun 2010 sampai sekarang, 2019, Ranar total di fotografi. “Pokoknya pas mulai di Semarang sampai sekarang, saya udah total di situ,” jelasnya.
Namun, ketotalannya terhadap fotografi bukan berarti telah sukses. Ranar mengaku membuat hobinya sekaligus menjadi sebuah profesi baru pada tahun 2015. “Saya di situ mulai buka tour fotografi. Di situ saya juga mulai ngajar komunitas-komunitas foto, ngajar peserta-peserta trip saya, terus saya jadi mulai keliling Indonesia,” ungkapnya.
Sampai saat ini, katanya, ia sudah hampir berkeliling seluruh Indonesia. Total sudah ada 28 provinsi di Indonesia yang ia kunjungi.
Dari berbagai destinasi itu, bagi Ranar semuanya bagus-bagus. Tapi ada yang paling berkesan, yakni saat berkunjung ke Taman Nasional Lorentz, Papua. Sebab, selain tantangannya yang berat, suguhan alamnya sungguh menakjubkan.
“Bangga karena di sana ternyata saya jadi tahu bahwa Indonesia juga punya tempat yang seperti di New Zeland. Terus ketika sampai di ketinggian 3800 MDPL itu saya dikawal sama TNI juga. Jadi membuat sadar betapa sulitnya ngambil sebuah foto,” ceritanya.
Perjalanan keliling bumi nusantara terus bergulir, tentunya bersama biro tour yang ia kelola. Dari situ, ia memiliki banyak stok foto. Tak terhitung pula ia sudah mengikuti dan memenangkan berbagai lomba foto. Sampai akhirnya, kata Ranar, karirnya semakin melejit ketika dia ditarik untuk menjadi kontributor oleh beberapa majalah.
Tak tanggung-tanggung, majalah yang menawarinya adalah yang berkelas. “Pernah ngisi di National Geographic, Color Magazine, Majalah Mutiara Biru, Majalah Sriwijaya, dan banyak juga lainnya,” beber Ranar.
Ranar menambahkan, pada saat mengikuti kontrak dengan majalah itu, upah yang ia hasilkan terbilang menjanjikan. Bahkan, ketika menjalani kontrak dengan majalah luar negeri, satu lembar fotonya dihargai di atas Rp 20 juta.
“Kontrak yang paling besar ke majalah luar negeri. Untuk bayarannya di sana cukup gede, di atas Rp 20 juta-an per lembar majalahnya. Itu untuk foto kontraknya sama majalah,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga pernah menjual beberapa karya fotonya dengan harga yang melejit. “Kalau untuk foto saya yang dibeli, pernah sampai sekitar perfotonya sampai Rp 22 juta. Itu saya kejual sekitar 8 foto. Itu untuk foto kalender perusahaan besar di Indonesia,” tandasnya.
Karena itu, Ranar berpesan kepada para fotografer, khususnya bagi yang pemula, agar jangan patah semangat. Sebab, saat seseorang menekuni apa yang disukai, pasti bakal ada jalan untuk sampai pada sebuah kesuksesan.
“Hidup kita cuma sekali. Jadi kejarlah apa yang kamu pengen. Saat kamu pengen sesuatu, udah fokus saja di situ. Kalau gila jangan nanggung. Fotografi itu banyak juga rezekinya,” tandas Ranar. (*)
editor : ricky fitriyanto