in

147 Karya Kartun Jitet Kustana Ramaikan Pameran Bergengsi di Eropa

SEMARANG (jatengtoday.com) – Nama Jitet Kustana sudah tidak asing lagi di dunia seni kartun Indonesia. Bahkan pria asli Semarang yang juga pendiri Komunitas Gold Pencil Indonesia itu telah mencuri perhatian mendunia. Kurang lebih 180 penghargaan kartun tingkat internasional telah diraihnya. Sebuah pencapaian yang tidak sederhana.

Kali ini, sebanyak 147 karya pilihan milik Jitet bakal dipamerkan di panggung seni bergengsi Eropa, yakni European Cartoon Center (ECC) Kruishoutem, Belgia. Pameran akan berlangsung mulai 27 Januari hingga 14 April 2019.

“Sebuah kehormatan buat saya bisa pameran di ECC. Saya tidak pernah membayangkan dapat undangan ini,” kata Jitet, Rabu (9/1/2019).

Jitet akan bertolak ke Kruishoutem, Belgia pada 24 Januari 2019 mendatang. Undangan pameran di Belgia bermula ketika Jitet mendapat email dari manajemen ECC. Melalui email tersebut, pengelola ECC meminta Jitet untuk mengirimkan sejumlah karyanya. ECC berminat untuk memamerkan karya-karya Jitet.

“Oktober 2018 lalu, mereka minta 130 karya, saya kirim 147 karya,” kata lelaki kelahiran 4 Januari 1967 itu.

ECC merupakan pusat kartun di Eropa yang dibuka pada 2007 silam. Tempat ini dikenal menjadi surga bagi kartunis dan penggemar kartun. Selain menyelenggarakan kontes dua tahunan Euro Kartoenale, ECC juga membuka ruang untuk pameran tunggal, kuliah dan kegiatan yang relevan dengan seni kartun.

Jitet mengungkapkan, sebagian besar karya yang dipamerkan di Eropa nantinya merupakan karya yang pernah memeroleh penghargaan internasional selama ini. Jitet saat ini telah mengantongi lebih kurang 180 penghargaan kartun tingkat internasional. Yang terbaru, ia dinobatkan sebagai kartunis terbaik 2018 versi Cartoon Home Network International yang berbasis di Norwegia.

Pameran di Belgia kali ini, Jitet bakal berduet dengan kartunis asal Portugal, Cristina Sampaio. Selain itu, dalam lawatan ke Belgia kali ini Jitet juga bakal terlibat dalam penjurian Euro Kartoenale yang mengangkat tema “The Wall”. (*)

editor : ricky fitriyanto

Abdul Mughis