in

Waspada, Banjir Rob di Pesisir Jawa Tengah

Fase Bulan Perigee (jarak terdekat dengan bumi) berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum.

Banjir rob merendam kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Senin (23/5/2022) siang. (foto: tangkapan layar ponsel)

JAKARTA (jatengtoday.com) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi terjadinya banjir pesisir (rob) di sejumlah wilayah. Termasuk di wilayah pesisir Jawa Tengah.

Pusat Meteorologi Maritim BMKG menyampaikan bahwa banjir pesisir tersebut berpotensi terjadi pada periode 19 November-2 Desember 2023.

“Adanya fase Bulan Perigee (jarak terdekat dengan bumi) berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum,” demikian keterangan BMKG pada Minggu (19/11/2023).

Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di beberapa wilayah pesisir Indonesia.

Di Pesisir Sumatera Utara, banjir rob berpotensi terjadi di Kecamatan Medan Belawan, Medan Marelan, Medan Labuhan pada 23 November-1 Desember 2023. Sedangkan di Pesisir Lampung diprediksi terjadi pada 27 November-1 Desember 2023.

Selain itu, banjir rob juga berpotensi terjadi di Pesisir Barat dan Selatan Banten pada 26 November-30 November 2023. Di Pesisir Utara Jakarta bakal terjadi 26 November-2 Desember 2023.

Pesisir Jawa Tengah

Potensi banjir rob diprakirakan juga melanda Pesisir Jawa Tengah pada 19-25 November 2023. Adapun wilayah yang terdampak di antaranya Kota Semarang, Demak, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang.

BMKG juga menyampaikan potensi banjir rob di Pesisir Maluku, yaitu Teluk Ambon, Saumlaki, Kep Kai, Kep Dobo, Kab Seram bagian Timur pada 25-30 November 2023.

“Potensi banjir rob ini berbeda waktu di tiap wilayah, yang secara umum berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di permukiman, serta aktivitas di tambak garam dan perikanan darat,” kata BMKG. (*)

Tri Wuryono