in

Usai Sembuh dari Covid-19, Gadis Semarang Ini jadi Pendonor Plasma Darah

SEMARANG (jatengtoday.com) – Dhedhe (25) berhasil melewati masa-masa sulit. Ia sempat terpapar Covid-19 dengan keluhan yang cukup serius. Setelah berjuang, gadis tersebut akhirnya dinyatakan sembuh.

Dhedhe bercerita, gejala yang dirasakan awalnya tidak enak badan lalu tidak nafsu makan karena lidah terasa pahit. Dua hari berikutnya mengalami demam, kemudian muncul gejala batuk.

“Batuknya nggak biasa, sampai berdarah. Sesak nafas juga,” ujar Dhedhe dalam program Ngobrol Bareng EP05 yang tayang di channel youtube Jateng Today https://youtu.be/-QTMWjVLINY. Program tersebut dipandu Pemimpin Redaksi jatengtoday.com Ricky Fitriyanto sebagai host.

Pada akhir Juni 2020 ia menjalani opname di sebuah rumah sakit di Semarang. Hasil rontgen Dhedhe mengarah ke bronkitis. Seminggu setelah itu hasil swab test keluar dan menyatakan Dhedhe terkonfirmasi Covid-19. Padahal hasil rapid test awal adalah nonreaktif.

Kondisi kesehatannya sempat memburuk sampai tak diperbolehkan untuk turun dari bed kamar rumah sakit, apalagi ke kamar mandi.

Namun, saat yang sama ia masih kuat untuk makan. Dokter mengarahkan untuk makan makanan yang tidak manis. Untuk menyembuhkan batuknya yang cukup parah yang untuk ngomong saja susah. Tiap hari diwajibkan meminum obat seabrek.

Ibu Meninggal

Ternyata penderitaan yang dialami Dhedhe tak hanya itu. Pada waktu yang bersamaan, kedua orang tuanya juga dinyatakan terpapar Covid-19. Bahkan, ibunya sempat diopname pada waktu yang sama di ruangan berbeda.

Kemudian kabar buruk itu pun datang. Ibunya meninggal dunia, tepat saat Dhedhe masih terbaring lemas di ruang opname.

“Perasaan saya jelas sedih, hancur, sebagai anak kok tidak bisa mengantarkan ke peristirahatan terakhir. Cuma bisa nangis,” tuturnya.

Namun, ia tak ingin berlarut dalam kesedihan. Keluarganya juga memberi support penuh. “Ibu sudah tak ada, saya harus sembuh biar bisa ke makam ibu,” imbuh Dhedhe.

Pasca itu, semangat untuk melawan penyakit yang dideritanya semakin kuat. Selain mengikuti petunjuk dokter,dia juga berusaha mengelola stres. Caranya dengan memilah informasi yang berpotensi menambah beban pikiran.

Setelah menjalani perawatan selama 22 hari di rumah sakit, Dhedhe pun dinyatakan sembuh. Dia berhasil melewati masa kritis.

Pasca Sembuh

Usai sembuh, Dhedhe masih harus menjalani isolasi mandiri di rumahnya. Saat itu, ayahnya ternyata belum diperbolehkan pulang, masih diisolasi di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.

Kekhawatiran baru pun datang. Ia takut orang-orang di lingkungannya tidak bisa menerima dia sebagai penyintas Covid-19 atau orang yang sudah berhasil sembuh. Takut dikucilkan.

“Awal-awal pulang masih tak pikir, tapi lama kelamaan saya abaikan,” kata Dhedhe. Dia yakin orang yang mengucilkan penyintas karena kurang edukasi, sehingga parno dan takut tertular.

Padahal, ia berusaha taat protokol kesehatan. Tidak bepergian jika memang tak mendesak. Kalau pun pergi selalu mengenakan masker, mencuci tangan, dan menghindari tempat kerumunan.

Dia memberi pesan menohok untuk orang-orang yang sampai saat ini masih belum mempercayai adanya Covid-19. “Saya sudah merasakan sendiri,” tegas Dhedhe.

Covid-19 tidak mengenal usia. Dhedhe yang notabene masih muda bisa terpapar. Padahal ia sering olahraga, juga menjaga kesehatan dan pola makan. Dia mengajak semua orang untuk berhati-hati dan selalu mengikuti arahan pemerintah.

Donor Plasma Darah

Setelah selesai menjalani isolasi mandiri di rumah selama 30 hari, Dhedhe akhirnya bisa beraktifitas normal lagi. Sebagai penyintas, ia mendedikasikan diri untuk turut berperan memberantas Covid-19.

Dhedhe menjadi pendonor plasma darah. Donor hanya bisa dilakukan mereka yang sudah pernah terinfeksi Covid-19 dan sembuh dari infeksi tersebut.

Terapi plasma konvalesen dikenal sebagai bentuk pengobatan yang menjanjikan bagi pasien Covid-19. Cara pengobatan ini dilakukan dengan pemberian plasma dari donor pasien Covid-19 yang telah sembuh kepada pasien Covid-19.

Terapi plasma konvalesen sendiri merupakan bentuk vaksinasi pasif. Sebab plasma darah pasien Covid-19 yang sembuh mengandung kekebalan atau antibodi. Antibodi inilah yang akan diambil untuk diberikan kepada pasien Covid-19.

“Per November ini saya sudah dua kali donor plasma darah untuk penyembuhan pasien Covid-19,” pungkasnya. (*)

 

 

editor: ricky fitriyanto