in

Usai Bariatrik, Berat Badan Pria Asal Semarang Turun Drastis

Jacky meminta penderita obesitas tak malu dan memiliki keinginan untuk berubah.

Jaikishin (kanan) dan ahli bedah biatrik RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Abdul Mughni. (ajie mahendra/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Jaikishin (33) memilih operasi bariatrik untuk melepaskan predikat obesitas. Operasi yang dilakukan pada awal 2020 itu terbilang efektif menyusutkan berat badannya. Awalnya 230 kilogram, kini hanya 110 kilogram.

Jacky, sapaan akarabnya, bercerita saat obesitas dulu, seabrek gangguan kesehatan yang dialami. Mulai dari darah tinggi, kolesterol, hingga berhenti napas saat tidur.

Dia pun khawatir bakal kehilangan nyawa gara-gara berhenti napas saat tidur. Bahkan istrinya, harus terjaga saat Jacky tidur. Ketika Jacky lupa napas, istrinya akan langsung membangunkannya.   

“Saya selalu mengalami henti nafas saat tidur. Jadi istri saya harus standby harus jaga, ketika nafas saya berhenti saya harus disenggol supaya ada reflek untuk bernafas lagi. Saya juga mendengkur dan itu keras sekali mungkin bisa terdengar dari jarak beberapa meter,” ucapnya saat ditemui di sela-sela acara Run and Walk for Obesity, Minggu (12/9/2023).

Obesitas ini tentu mengganggu Jacky. Meski begitu, dia tidak sadar jika dia mengalami over berat badan.

“Itu saya enggak sadar, kita ngerasanya normal aja biasa aja, tiba-tiba kalau naik tangga capai, terus saya beranikan ngaca dan nimbang ternyata beratnya sudah 230 kilogram, sudah over timbangannya. Itu saya sadar waktu Oktober 2019,” terangnya.

Jacky merasa kehidupannya kacau setelah menderita obesitas. Selain ruang geraknya terbatas, kesehatan Jeki juga terancam karena ia menderita beberapa penyakit.

“Saya itu ada diabetes dan penyakit bawaan darah tinggi. Hormon saya juga kacau, saya gampang lelah, pekerjaan saya terganggu, naik tangga sudah enggak bisa, menyetir mobil juga kesulitan,” jelasnya.

Jacky mengaku pola makannya sempat tidak terkontrol. Bahkan ia bisa makan berat 6 kali dalam sehari dengan porsi luar biasa besar. Ia juga hobi ngemil dan amat menggemari junk food.

“Saya itu makannya banyak sekali ya, sekali makan itu satu piring numpuk. Dan itu bisa 6 kali makan. Saya juga suka sekali sama junk food dan ngemil. Makanya beratnya sampai over seperti ini,” ceritanya.

Operasi Bariatrik

Jacky akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi ke RSUP Dr Kariadi Semarang dan bertemu dr Abdul Mughni.

Dia disarankan untuk melakukan operasi bariatrik guna menurunkan berat badannya dengan cepat.

“Setelah operasi itu berat badan saya turun sekitar 100 kilogram. Sekarang tinggal 120 kilogram. Setelah operasi badan jauh lebih baik lagi, nafsu makan terkontrol, tidak mudah lelah. Saya juga tidak mengalami henti nafas lagi saat tidur,” jelasnya.

Meski begitu, dia tetap diwajibkan untuk terus berolaharaga dan beraktivitas. Ia juga diharuskan mengontrol asupan makanan yang masuk ke lambungnya. Ia kini menghindari makanan bertepung, minuman manis, garam dan gorengan.

“Usus dan lambung saya kan dipotong, jadi cepat kenyang, tapi tetap harus jaga makan karena usus bisa melar lagi kan. Saya juga olaharga renang dan jalan kaki setiap hari untuk mempertahankan berat yang sekarang,” terangnya.

Jacky juga menekankan pentingnya dukungan dari keluarga. Dia meminta penderita obesitas tak malu dan memiliki keinginan untuk berubah.

“Keluarga itu sangat penting itu support nomor 1. Bagi saya obesitas bukan aib, tapi kita juga harus berani dalam arti ayo kita semangat berolaharga, belajar mengurangi berat badan, atau kalau perlu konsultasi ke ahli gizi atau dokter,” tegas Jacky.

Usus dan Lambung Dipotong

Sementara itu, ahli bedah biatrik RSUP Dr Kariadi Semarang, dr Abdul Mughni mengatakan, usus dan lambung Jacky dipotong karena ia menderita obesitas ekstrem.

“Lambungnya dipotong sampai 20 persen kemudian usus tinggal separuh, kita pendekin karena biasanya orang obesitas itu ususnya 6 sampai 6,5 meter. Itu kita potong separuhnya. Jadi tidak mudah lapar, karena di dalam lambung ada hormon lapar, ketika itu dikurangi maka laparnya juga berkurang,” jelas dr Mughni.

Dikatakan, tren obesitas dari tahun ke tahun mengalami tren kenaikan. Menurutnya, gaya hidup dan pola makan sangat mempengaruhi akan hal ini.

“Peningkatannya itu 3,9 persen tiap tahun di Indonesia atau 23 persen. Itu penelitiannya dari sampel 16.000 orang dari seluruh Indonesia dan itu ada 23 persen yang obesitas. Itu jurnal dari orang Indonesia, itu yang saya inget. Paling ngaruh itu life style kita ya, sekarang orang makan enak banget, ya kaya kita ini lah, malam-malam pulang kerja makan. Minuman manis. Makanya harus rajin olaharga, makan sayur supaya mataboliknya bagus,” tandasnya. (*)

Ajie MH.