in

Tiga Modus Tikus Bank Main Bunga APBD

SUDAH semestinya, pengelolaan uang pajak dari rakyat yang dikelola oleh pemerintah harus transparan. Hal itu agar jangan sampai pejabat terlibat korupsi. Sudah banyak lembaga pengawas, mulai Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kepolisian, kejaksaan, hingga peran masyarakat melalui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) turut melakukan pengawasan.

Namun celah praktik korupsi tetap saja ada. Salah satu celah yang patut diwaspadai adalah cuci uang APBD di bank secara rapi. Sehingga terjadilah penyelewengan pengeloaan keuangan. Saking rapinya, uang negara terkesan tidak ada yang hilang. Tetapi ada celah permainan bunga bank yang diolah dari APBD maupun Silpa di setiap pemerintah daerah.

Sholicul Huda

Direktur Indonesia e-Fraud Watch, Dr Solichul Huda, Mkom, menjelaskan berdasarkan kasus perbankan yang pernah terjadi, sedikitnya ada tiga modus penyelewengan uang APBD melalui sistem perbankan.

Modus Pertama

Mengambil keuntungan dengan cara mengambil selisih jasa bunga giro dengan bunga deposito. Layaknya tikus bank, pelaku bisa menggerogoti endapan bunga bank tanpa ada kesan uang negara diambil.

“Saldo rekening giro ditarik, kemudian disimpan ke beberapa rekening baru dengan bentuk produk bank berbeda, misalnya membuka dua rekening deposito dengan periode berbeda, 3 dan 6 bulan,” kata Huda.

Jika pengawas, peneliti, maupun penyidik tidak cermat, maka praktik tersebut sulit diungkap. Sebetulnya praktik tersebut mudah ditelusuri menggunakan sistem perbankan terpadu, dengan menganalisis event logs.

Modus Kedua

Adalah saldo rekening giro ditarik, kemudian disimpan di bank lain dalam bentuk deposito. Yang perlu diingat, lanjutnya, bunga deposito antar bank bisa berbeda. “Kalau modusnya seperti ini, maka penyidik harus minta event logs aplikasi giro untuk mengetahui kapan dan siapa yang melakukan penarikan. Jejak informasi pelaku ada di event logs,” bebernya.

Celah ini biasanya dimainkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, karena didata transaksi sebagian besar tidak tertulis penerima pembayaran bunga. Jadi nanti bunga dimasukkan secara manual dengan cara disetor ke rekening kasda.

Modus Ketiga

Saldo rekening giro ditarik total, dipindah ke rekening baru di bank yang sama dengan nama berbeda. “Kalau pembobolan sesuai dengan modus ini, pelaku akan membuka deposito dengan jangka yang terpendek, mungkin dua atau tiga bulan dengan perjanjian tanpa pinalti,” katanya.

Kalau pemerintah daerah akan mengambil uang di rekening giro, maka deposito langsung dicairkan tanpa pinalti. Kalau yang terjadi seperti ini, pasti ada kerjasama antara pejabat dengan oknum bank.

“Tetapi apapun modusnya, menggunakan analisis event logs bisa ditelusuri. Sebab, serapi-rapinya penyelewengan perbankan tetap saja meninggalkan jejak kejahatan,” katanya.

Modus tersebut juga untuk mengambil keuantungan selisih antara jasa giro dengan bunga deposito. Biasanya, pelaku memainkan selisih bunga. Contoh, jasa bunga giro 2 persen. Sedangkan deposito 4 persen. Jika pembayaran bunga deposito dengan model pembayaran cash waktu pencairan, maka pelaku mendapat keuntungan 2 persen.

“Untuk menghindari kesan korupsi, pelaku akan membayarkan jasa bunga giro 2 persen ke rekening giro. Maka ketika diperiksa oleh BPK seolah-olah tidak ada yang merugikan keuangan negara,” katanya. (abdul mughis)

Editor : Ismu Puruhito