in

Solusi Rumah Darurat, Hanya Rp 6,5 Juta Dibangun 6 Jam Siap Huni

SEMARANG (jatengtoday.com) – Rumah menjadi surga dunia. Tempat pulang dari segala aktivitas seseorang. Tidak memiliki rumah, tentu menjadi makhluk asing di negeri sendiri.

Tapi berbagai kondisi tertentu seringkali membuat seseorang seketika kehilangan rumah. Dalam sekejap, harta benda yang dimiliki bisa hancur rata dengan tanah. Salah satunya ketika terjadi bencana. Baik gempa bumi maupun tsunami. Bencana tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta menjadi sejarah menyedihkan bagi warga Indonesia.

Terakhir, bencana gempa di Lombok, tak kurang dari 1.000 rumah warga hancur. Ribuan warga terpaksa hidup di barak-barak pengungsian. Tentu, hal ini mengundang keprihatinan. Pemerintah dan siapapun yang memiliki rasa kemanusiaan tentunya berkeinginan untuk membantu saudara yang sedang terkena musibah.

DR dr Budi Laksono, salah satunya. Ia termasuk salah satu tokoh yang aktif dan kreatif dalam merancang gerakan sosial kemasyarakatan. Hidupnya dipersembahkan untuk bisa membantu masyarakat yang membutuhkan. Salah satunya pembuatan rumah darurat untuk korban bencana. Ia mendesain rumah sangat sederhana, cepat dan murah.

“Setiap rumah hanya membutuhkan biaya kurang lebih Rp 6,5 juta, dibutuhkan waktu pembuatan 6 jam dan 6 orang,” kata Budi Laksono kepada jatengtoday.com, Rabu (1/8).

Konsep rumah cepat dan murah yang diberi tipe AB6 itu juga dibangun untuk penanganan darurat ketika terjadi bencana tsunami di Aceh dan gempa di Yogyakarta beberapa tahun silam. “Bencana gempa di Lombok, ada kurang lebih 1.000 rumah hancur,” katanya.

Dalam teknis pembuatannya melibatkan warga sendiri. Setiap rumah membutuhkan 6 orang awam. “Diperkirakan dalam waktu satu minggu, semua keluarga bisa kembali menempati rumah sederhana, dibangun sendiri, bukan hidup tenda,” katanya.

Rumah berbahan dasar kayu ini juga didesain tahan gempa. Selain itu, pengadaan rumah tersebut terbebas dari potensi korupsi karena dikerjakan berbasis community based development.

“Tinggal di tenda, sangat dibatasi oleh beberapa faktor seperti ketahanan tenda, psikologi penghunian, kenyamanan dan lain-lain. Maka perlu menciptakan rumah murah, cepat dan tumbuh sangat diperlukan. Terutama bencana besar yang mengakibatkan ratusan hingga ribuan rumah rusak dan perlu pengganti,” katanya.

Maka ia bersama jaringan komunitasnya mengusulkan kepada pemerintah terkait pembuatan rumah cepat untuk upaya tanggap cepat dalam situasi darurat. Dibuat dalam 6 jam oleh 6 orang biasa, murah karena dana 6 jutaan, bisa dikembangkan oleh penghuni. Rumah tersebut beratap seng, dinding kayu, lantai semen, ukuran 4 x 5 meter dan 2 x 4 beranda. “Rumah model ini pernah disumbangkan masyarakat Semarang kepada pengungsi di Desa Meunasah Bak-u, Leupung, Aceh Besar,” kata pendiri International WC For All Organization ini.

Mengapa tahan gempa? Karena rumah ini ringan dan pada setiap sisinya menggunakan penyilang. Sehingga menjadikan dinding kokoh dan rigid. “Rumah ini tidak besar karena sebagai hunian cepat, tetapi sangat memungkinkan dikembangkan oleh penghuni menjadi sesuai yang diperlukan,” katanya.

Bahkan pembangunan ini menggunakan metode community self-development sehingga menjamin 100 persen rumah
dibangun tanpa korupsi. “Manfaat pembangunan ini akan bisa dirasakan bagi masyarakat langsung. Keberadaan rumah
akan mempercepat proses rehabilitasi fisik dan moral masyarakat korban bencana,” katanya. (abdul mughis)

editor : ricky fitriyanto