in

Romo Benny Minta Masyarakat Tak Salah Pilih Pemimpin

SEMARANG (jatengtoday.com) – Staf Khusus Badan Pembinaan Idiologi Pancasila, Antonius Benny Susetyo atau yang akrab disapa Romo Benny mengingatkan kepada masyarakat agar jangan sampai salah dalam memilih pemimpin, pada Pemilu 2024 mendatang. Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam dialog kebangsaan yang digelar di resto Truntum Gama Semarang, Jumat (10/11/2023).

Dia mengatakan, saat ini Indonesia menghadapi persoalan tentang hukum yang seolah diabaikan. Antara lain yang terbaru adalah soal pelanggaran etik yang terjadi di Mahkamah Konstitusi (MK). Peristiwa hukum tersebut, dijadikan sebagai pembelajaran guna mewujudkan demokrasi Indonesia ke depan agar semakin lebih baik.

“Di satu sisi pembangunan infrastruktur luar biasa, tetapi di satu sisi kita melihat ada persoalan tentang hukum yang diabaikan. Salah satunya itu (pelanggaran etik oleh Ketua MK), gunung esnya itu. Maka, demokrasi ke depan itu ya harus menjaga keseimbangan negara, pasar, dan warga. Negara itu pemerintah, pasar itu pelaku ekonomi, dan warga itu adalah publik. Jadi membangun fungsi silang ini penting. Nah demokrasi itu membutuhkan itu,” kata Romo Benny.

Belajar dari pengalaman tersebut, maka masyarakat harus turut serta dalam upaya mengembalikan kembali pada demokrasi Pancasila yang disinari oleh nilai ketuhanan. Nilai ketuhanan yang dimaksud adalah menjiwai sila kemanusiaan, persatuan, kerayatan dan keadilan. Prinsip-prinsip tersebut, tidak boleh diingkari.

“Jadi dalam demokrasi itu kita akhirnya mencari bukan hanya mencari pemimpin yang terbaik, tapi menjaga yang terburuk berkuasa,” kata budayawan ini.

Benny mengatakan, untuk bisa mengembalikan demokrasi Pancasila yang disinari nilai ketuhanan, dibutuhkan kesadaran dari seluruh masyarakat, dan harus dilakukan bersama-sama. Maka, pemilu mendatang dapat menjadi sarana untuk mengoreksi segala sesuatu yang kurang, menyempurnakan apa yang kurang, dan hukum harus menjadi panglima.

Lebih lanjut, Romo Benny menjelaskan, bahwa dalam memilih pemimpin dibutuhkan analisa sosial tentang bagaimana rekam jejak, prestasi, capaian, kematangan psikologi, dan emosional seorang pemimpin. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat menentukan pemimpin secara lebih rasional.

“Pemimpin terbaik itu adalah pemimpin yang mampu mengayomi 1719 suku etnis. Pemimpin yang rekam jejaknya jelas-jelas menjaga keragaman, kemajuan. Dia bisa membangun komunikasi dengan bermacam-macam etnis suku itu, yang bisa merangkul,” kata Romo Benny.

Oleh sebab itu, pemimpin yang terbaik bukan hanya sekadar memiliki prestasi, tetapi pemimpin yang mempunyai rekam jejak yang mampu merasakan apa yang diderita rakyatnya. Pemimpin yang memperhatikan mereka yang kecil dan lemah.

“Yang kebijakan-kebijakannya jelas sudah terukur, teruji,. Misalnya apa yang sudah dibuat dalam mengatasi gizi buruk, memberikan kelayakan sandang, pangan, dan papan. Itu kan contoh-contoh yang konkret kan. Jadi dia sudah punya role model tentang membangun satu daerah dengan memperhatikan aspek-aspek itu,” jelasnya. (*)

Ajie MH.