in

Ritual Ketuk Pintu Tandai Perayaan Imlek 2026 di Semarang

SEMARANG (jatengtoday.com) – Tradisi Ketuk Pintu kembali digelar di Kota Semarang sebagai penanda datangnya Tahun Baru Imlek 2026. Suasana khidmat terasa di Kelenteng Tay Kak Sie saat doa-doa dipanjatkan, sebelum diikuti oleh tabuhan musik dan atraksi barongsai yang menjadi pembuka kirab.

Ketuk Pintu ini juga menandai dimulainya rangkaian Pasar Imlek Semawis (PIS) 2026. Selain menjadi simbol doa bersama lintas budaya, acara ini bertujuan agar seluruh rangkaian perayaan Imlek berjalan lancar dan penuh berkah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indriyasari, yang hadir dalam ritual ini mengatakan, “Melalui ritual Ketuk Pintu ini, kita memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar perayaan Imlek berjalan lancar, sukses, dan diberkahi. Ini juga menunjukkan bahwa Kota Semarang menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.”

Indriyasari berharap acara ini dapat menjadi destinasi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan. Pasar Imlek Semawis akan menghadirkan berbagai kuliner, baik khas Semarang maupun Tionghoa, yang memperkaya pengalaman wisatawan.

Ketua KOPI Semawis, Harjanto Kusuma Halim, menjelaskan bahwa tradisi Ketuk Pintu ini memiliki makna sebagai bentuk penghormatan dan permohonan izin kepada leluhur dan semesta. “Ketuk Pintu bukan sekadar ritual seremonial, tetapi juga sebuah bentuk penghormatan dan pernyataan izin. Kami memohon doa restu dari sembilan klenteng di Pecinan,” ujarnya.

Dalam rangkaian Ketuk Pintu, panitia juga membagikan air suci dari lima klenteng kepada masyarakat, sebagai simbol doa, perlindungan, dan harapan baik bagi yang menerimanya. Selain itu, pengunjung juga disuguhi kuliner khas Muslim Tiongkok dari wilayah Sinjiang, yang jarang dikenal luas di Indonesia.

“Makanan khas Muslim Tiongkok dari Sinjiang ini mungkin banyak yang belum pernah mencoba. Ini juga bagian dari memperkenalkan keberagaman,” kata Harjanto.

Perayaan Imlek 2026 yang memasuki Tahun Kuda dimaknai sebagai tahun penuh dinamika, dengan kuda yang simbol kekuatan dan pergerakan tak terduga. Tahun ini, Pasar Imlek Semawis digelar beriringan dengan Pasar Dugderan, tradisi jelang Ramadan di Kota Semarang. Kedua acara budaya ini diharapkan saling mendukung dan tidak saling bersaing.

“Budaya Tionghoa, Islam, dan Jawa itu kalau digabung seperti masakan ditambah garam, rasanya jadi makin enak,” kata Harjanto.

Dengan sinergi kedua acara budaya ini, diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan menggairahkan ekonomi kota, terutama bagi pelaku UMKM yang membawa produk baru dan semangat kebangkitan ekonomi di tahun 2026. (*)