JAKARTA – Duet Pramono Anung dan Kang Dedi Mulyadi (KDM) dinilai berpotensi menjadi lawan kuat pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden 2029 mendatang. Popularitas dan ketokohan kedua figur tersebut dinilai terus menguat dalam dinamika politik nasional.
Penilaian itu disampaikan mantan pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD), Kelik Ismunanto, kepada media, Minggu (11/1/2026). Menurutnya, meski Prabowo–Gibran saat ini mendapat dukungan kuat dari elite politik, Pramono dan KDM memiliki basis massa yang signifikan di daerah strategis.
“Prabowo–Gibran memang saat ini didukung elite politik terkuat. Namun Pramono Anung merupakan gubernur yang populer di Jakarta, sementara Kang Dedi Mulyadi adalah gubernur paling populer di Jawa Barat,” ujar Kelik.
Ia menambahkan, Pramono Anung juga merupakan figur kuat di internal PDI Perjuangan, khususnya dalam menguasai basis pemilih di Jawa Tengah. Menurut Kelik, PDIP berkepentingan menjaga wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai lumbung suara partai, baik untuk pemilu legislatif maupun pemilihan presiden.
Sementara itu, KDM yang telah dikenal luas sejak menjabat sebagai Bupati Purwakarta, disebut semakin menguat popularitasnya selama memimpin Jawa Barat. Saat ini, KDM tercatat sebagai kader Partai Gerindra.
“Posisi KDM di Gerindra menjadi menarik karena partai tentu membutuhkan tambahan suara untuk Pemilu 2029. Jika harus berhadapan dengan Prabowo–Gibran, KDM akan menjadi variabel penting dan berpotensi diperebutkan partai-partai lain,” kata Kelik.
Menurutnya, seluruh partai politik saat ini memiliki kepentingan menyiapkan calon presiden untuk 2029. Gerindra disebut hampir pasti kembali mengusung Prabowo untuk periode kedua, sementara PDIP dinilai belum memiliki figur sekuat Pramono Anung. Adapun Partai Golkar disebut masih mencari sosok calon terkuat.
“Peta politik seperti ini justru menguntungkan Pramono Anung dan Kang Dedi Mulyadi,” ujarnya.
Kelik menilai Gerindra dan Prabowo perlu melakukan perhitungan matang dalam menghadapi potensi duet Pramono–KDM, termasuk menyiapkan strategi politik yang tepat. Ia juga menyoroti posisi Gibran Rakabuming Raka yang dinilai masih perlu bekerja keras untuk kembali menempatkan diri sejajar dengan kekuatan Prabowo dan Partai Gerindra.
“Meski Jokowi masih populer, kekuatan dukungannya tentu berbeda ketika sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden,” jelasnya.
Ciptakan Dinamika Baru
Kelik menilai, kemunculan duet Pramono–KDM berpotensi menciptakan dinamika baru dalam politik nasional. Menurutnya, Jakarta sebagai barometer politik nasional menjadikan posisi Pramono strategis sebagai penyeimbang kekuasaan.
“Keberhasilan Pramono mengelola Jakarta dapat menjadikannya alternatif penyeimbang terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo–Gibran yang tidak populer di daerah maupun publik,” ujarnya.
Ia juga menilai Pramono berpotensi menggantikan figur-figur seperti Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan yang dinilai mulai meredup dalam peta politik nasional.
Sementara itu, popularitas KDM yang terus meningkat dinilai bisa menjadi dilema bagi Gerindra, mengingat dominasi Prabowo di partai tersebut. Karena itu, Kelik memprediksi KDM berpeluang mengambil langkah strategis dengan membuka opsi keluar dari Gerindra dan menjadi incaran partai-partai menengah yang berkoalisi dengan PDIP.
“Sebagai politisi, sangat logis jika KDM tidak melepas peluang politik. Duet Pramono–KDM bisa menjadi penantang serius dan berpotensi membuat kejutan pada Pilpres 2029,” pungkasnya. (*)
