in

PGN Perkuat Transisi Energi, Teken Studi CCS untuk Pengembangan Blue Ammonia

JAKARTA (jatengtoday.com) – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina memperkuat komitmennya dalam mendukung transisi energi dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) melalui penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) terkait studi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) pada ajang IPA Convex 2026, Kamis (21/5/2026).

Kolaborasi strategis tersebut dilakukan bersama Holding Migas PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), dan PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk mendukung pengembangan amonia rendah karbon atau blue ammonia di Indonesia.

Melalui kerja sama ini, para pihak akan melakukan studi komprehensif yang mencakup aspek teknis, legal, ekonomi, dan komersial dalam pengembangan ekosistem CCS. Fokus utama sinergi tersebut adalah membangun rantai pasok amonia rendah karbon yang efisien dan berkelanjutan, mulai dari penangkapan emisi karbon, transportasi CO₂, hingga injeksi CO₂ ke formasi geologi bawah tanah yang aman.

Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Hery Murahmanta, mengatakan PGN akan mengambil peran penting sebagai penyedia transportasi CO₂ dalam pengembangan ekosistem CCS tersebut.

“Dalam kerja sama CCS ini, PGN mengambil peran sebagai penyedia transportasi CO₂. Langkah ini merupakan salah satu pilar penting dalam strategi step out PGN untuk memperluas portofolio bisnis ke ranah energi bersih dan dekarbonisasi,” ujar Hery.

Untuk mendukung inisiatif tersebut, PGN akan mengoptimalkan aset dan sumber daya yang dimiliki, termasuk infrastruktur gas bumi eksisting serta kapabilitas dalam pengembangan jaringan pipa.

Salah satu strategi yang dikedepankan adalah pemanfaatan right of way (ROW) jalur pipa gas bumi yang telah ada untuk pengembangan jaringan transportasi CO₂.

“Kerja sama ini merupakan wujud nyata PGN dalam mengintegrasikan infrastruktur gas bumi dengan teknologi masa depan guna menekan emisi karbon. Pemanfaatan ROW jalur pipa eksisting akan mempercepat integrasi ekosistem CCS secara efisien, sekaligus menegaskan peran kami sebagai transporter utama CO₂ ke depan,” lanjutnya.

Dalam studi bersama tersebut, para pihak akan memetakan wilayah-wilayah strategis yang memiliki potensi besar untuk pengembangan ekosistem CCS dan produksi amonia rendah karbon. Fokus awal pengembangan diarahkan pada wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur yang memiliki klaster industri dengan kebutuhan energi tinggi.

Selain itu, potensi wilayah lain juga akan dikaji berdasarkan kesiapan infrastruktur dan aspek keekonomian proyek.

Sinergi antara Pertamina Group dan Pupuk Indonesia ini diharapkan mampu menjadi pionir dalam pengembangan CCS di Indonesia. Kolaborasi tersebut menggabungkan kompetensi sektor hulu dari PHE, kekuatan infrastruktur PGN, serta kapabilitas industri pupuk dan amonia dari Pupuk Indonesia.

Proyek ini ditargetkan tidak hanya mampu mendukung pengurangan emisi karbon, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi baru sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai informasi, PGN merupakan Subholding Gas Pertamina yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi serta pengembangan infrastruktur dan layanan energi gas bumi terintegrasi di Indonesia. Saat ini PGN mengelola lebih dari 95 persen infrastruktur gas bumi hilir nasional dan menguasai lebih dari 90 persen pasar niaga gas bumi di Indonesia. (*)