in

PAN Masih di Peringkat 6, Zulkifli Perintahkan Semua Kader Lakukan Hal ini

SEMARANG (jatengtoday.com) – Dari Survei yang dilakukan PolMark Indonesia, elektabilitas Partai Amanat Nasional (PAN) masih menduduki peringkat keenam. Berada satu tingkat di bawah Partai Demokrat yang meraih 6,9 persen dan PAN hanya 5,9 persen.

Melihat hasil itu, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan mengaku akan memanfaatkan sisa waktu yang tinggal 33 hari sebelum Pemilu, 17 April 2019 mendatang. Dia meminta para kader dari tingkat pusat hingga ranting bisa terus bergerak merangkul masyarakat. Sehingga, dari hasil survei yang dilakukan sekarang ini bisa berubah dan naik ke peringkat berikutnya.

“Diharap para kader PAN di mana pun berada, kami masih berpeluang dalam double digit. PAN itu surveinya selalu positif margin error ke atas. Di survei, kami 5,9 persen dan margin error 4 persen. Maka kami bisa capai 9 persen. Biasanya, partai lain ke bawah tapi kita ke atas. Ini masih ada peluang dan 33 hari yang menentukan. Semua bisa terjadi. Kami meminta kader untuk terus bergerak siang dan malam,” jelasnya dalam Forum Pikiran, Akal dan Nalar di Grand Arkenzo Hotel Semarang, Rabu (13/3/2019).

Dia mengakui, survei yang dilakukan PolMark Indonesia bisa dipercaya karena dilakukan di 73 dapil di seluruh Indonesia dengan responden kurang lebih 35 ribu orang.

Pada kesempatan itu, dia juga meminta kepada masyarakat Indonesia untuk cerdas memilih pemimpin 5 tahun mendatang. “Jangan sampai pemilu jadi politik transaksional. Milih karena uang dan sembako atau karena sarung,” jelasnya.

Menurutnya, Pemilu bukan Perang Badar atau perang total. Sebab, Pilpres dan Pileg merupakan pesta demokrasi untuk membangun negara lebih baik.

“Pemilu sudah sepakat demokrasi Pancasila. Yang berkuasa adalah rakyat. Kami menolak keras kalau pemilu ini dinyatakan perang total seperti dikatakan Pak Muldoko, dan Perang Badar oleh Neno Warisman,” ucap Ketua MPR ini.

Karena itu, dia mengajak seluruh masyarakat bisa menghargai pilihan masing-masing. Menghormati semua capres dan cawapres, apa pun alasannya. (*)

editor : ricky fitriyanto

Ajie MH.