in

Mitigasi Dampak Cuaca Panas Ekstrem, Waspadai Empat Fatalitas Ini

Cuaca panas ekstrem berpotensi mengakibatkan penurunan imunitas tubuh hingga munculnya berbagai macam penyakit yang berakibat fatal.

ilustrasi

SEMARANG (jatengtoday.com) – Fenomena cuaca panas ekstrem yang mencapai 38-40 derajat celsius di berbagai daerah di Indonesia 2023 ini cukup mengkhawatirkan. Perubahan suhu ekstrem ini diperkirakan memicu berbagai dampak kesehatan masyarakat.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, Sigid Kirana Lintang Bhima menyarankan agar setiap warga bisa memitigasi diri. Tujuannya agar mampu menjaga imunitas tubuh sendiri. Sebab, bila imunitas menurun akan memicu munculnya berbagai macam penyakit yang berakibat fatal.

  1. Heatstroke

“Dalam kondisi panas ekstrem ini, aktivitas di luar ruangan harus menjadi fokus perhatian. Terutama bagi orang yang sedang melakukan program diet dengan olahraga lari di siang hari mengenakan jaket. Kegiatan seperti itu segera dihindari karena bisa memicu dehidrasi dan berdampak pada heatstroke,” katanya, Jumat (6/10/2023).

Heatstroke adalah kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu secara drastis hingga mencapai 40 derajat celsius atau bahkan lebih.

“Heatstroke ini fatal, mematikan, gejalanya kejang langsung tidak sadar. Panas ekstrem ini memang luar biasa dampaknya ke kesehatan,” ujarnya.

  1. Kanker Kulit

Fatalitas lain yang perlu diketahui publik, kata Sigid, paparan sinar matahari saat panas ekstrem dapat menimbulkan kanker kulit.

“Pakailah baju yang melindungi tubuh, inilah yang proper karena efek samping UV dalam jangka panjang bisa kanker kulit,” tuturnya.

  1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

Termasuk persoalan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) harus diwaspadai. Kondisi yang kering karena tidak lama hujan menyebabkan debu-debu kian meningkat.

“Orang-orang yang sudah punya asma, itu sering kali kambuh pada kondisi saat ini, orang sensitif juga akan batuk pilek. Bayi yang harusnya dijemur tiap pagi, kondisi udaranya tidak bagus bisa menyebabkan gangguan pernapasan,” tuturnya.

  1. Memiliki Riwayat Komorbid

Begitu pula bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit atau komorbid, seperti gangguan ginjal, jantung, hipertensi, dan diabetes. Sejauh ini, kata dia, beberapa rumah sakit telah meningkatkan ketersediaan tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR).

Hal paling sederhana yang perlu dilakukan adalah memperhatikan asupan gizi dan cairan dalam tubuh.

“Minum air yang cukup. Air putih, jangan air manis, es teh, kopi dan lain-lain. Kurangi karbohidrat, perbanyak protein, jangan lupa makanan yang mengandung serat,” ujarnya. (*)

Abdul Mughis