in

Lima Pemuda Boyolali Ini Kerahkan ‘Tentara Hitam’ untuk Olah Sampah Jadi Sumber Pangan

Bsfly mengajak para santri di 25 pondok pesantren di ekskaresidenan Semarang untuk ikut menjadi solusi tantangan tumpukan sampah dan pangan. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Lima pemuda Boyolali yang masih duduk di bangku kuliah, punya cara untuk menyelamatkan daerah dari tumpukan sampah organik. Mereka memanfaatkan kinerja lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) untuk mengolah sampah menjadi sumber pangan.

Mereka adalah M Jafar Khoerudin, M Fikri Mubarok, Ahmad Mujahid, Bayu Fedra, dan Alfian Rifai. Kelima pemuda ini membidani proyek Bsfly untuk pengolahan sampah organik sejak 2019 silam.

Fikri Mubarok menjelaskan, Bsfly merupakan startup yang bergerak di bidang jasa pengelolaan, pelatihan dan konsultasi pengelolaan limbah organik. Yakni dengan menjadi joki atau memanfaatkan kerja BSF untuk mewujudkan sirkular ekonomi.

Ringkasnya, limbah organik yang dikumpulkan, akan dimakan lalat tentara hitam. Nantinya, lalat-lalat tersebut akan menghasilkan maggot atau larva BSF dan pupuk kasgot. Kedua bahan tersebut kemudian diolah untuk menjadi produk berdaya jual.

Dikatakan, gagasan melahirkan Bsfly berangkat dari keprihatinan tumpukan sampah organik. “Sampah nasional kita sudah mencapai 64 juta ton per tahun. Dan 60 persen di antarnya adalah sampah organik. Nah, sampah organik dapat menjadi masalah bagi lingkungan jika tidak diolah dengan benar,” paparnya.

Dikatakan, selama ini sampah organik kerap dimanfaatkan untuk diolah menjadi pupuk lewat proses pengomposan. Jika diolah dengan cara konvensional, butuh waktu cukup lama. Sekitar 14 minggu agar sampah organik benar-benar matang menjadi kompos dan aman diimplementasikan untuk tanaman.

“Kalau pakai teknologi biokonversi lalat tentara hitam yang kami gunakan ini, sampah yang diberikan hari ini, besok sudah jadi pupuk organik,” katanya.

Hasilnya pun tak sekadar kompos. Dalam 14 hari setelah diberi makan sampah, lalat tentara hitam akan menghasilkan maggot. Larva gendut ini bisa diolah menjadi beragam produk. Salah satunya menjadi pakan dengan sumber protein tinggi bagi ternak unggas dan perikanan.

Pakan portein tinggi, lanjutnya, juga menjadi PR bagi pemerintah untuk menunjang kemandirian pangan. Dikatakan pemerintah selalu dihadapkan dengan tantangan pakan sumber protein impor.

“Selama ini pemerintah mengimpor tepung ikan 10,8 juta ton per tahun atau Rp 248,4 triliun per tahun. Ini untuk menyuplai pakan sumber protein nasional. Bayangkan jika kita bisa memroduksi sendiri dengan mengolah sampah organik yang juga jadi ancaman masalah jika dibiarkan. Jadi ada dua masalah yang dieselaikan dalam satu solusi,” paparnya.

 Kumpulkan 5 Ton Sampah Organik per Hari

Bsfly telah menggandeng sejumlah pihak yang berpotensi menghasilkan sampah organik di bilangan Boyolali. Seperti restoran, pondok pesantren, hingga Pemkab Boyolali. Desa-desa dan permukiman warga pun tidak luput dari sasaran.

“Dari kerasama dengan pemkab, kami bisa mendapatkan antara 2,5 hingga 5 ton sampah organik per hari. Kalau ini dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), lama-lama bisa jadi masalah,” jelas Fikri.

Makin banyak sampah yang dikumpulkan, kapasitas produksi Bsfly bakal makin meningkat. Meski begitu, kendalanya ada di tempat pengolahan yang sedikit bau sampah basah.

Tapi bau tak sedap tersebut tidak begitu menganggu. Pasalnya, tentara-tentara hitam yang diberdayakan Bsfly mampu melahap sampah-sampah tersebut. Lalat kenyang, pemiliknya bisa dapat cuan.

Fikri menjelaskan alur biokonversi dari lalat tentara hitam. Pertama, ton-tonan sampah yang dikumpulkan dalam sehari, langsung dipilah. Sampah-sampah yang telah melewati proses pemilahan tersebut kemudian dicacah menjadi kepingan kecil agar mudah dilalap lalat.

Sampah yang telah dimakan lalat tentara hitam tersebut kemudian diayak. Hasil ayakan ada dua. Yakni maggot dan pupuk. Pupuk kasgot yang didapatkan ini bisa langsung dijual untuk membantu para petani dan perkebunan mendapatkan hasil panen maksimal.

Bsfly membanderol Rp2.000 untuk satu kilogram pupuk masgot. Harga yang sangat murah bagi petani untuk mengembalikan kesuburan tanah sebagai pupuk bokashi.

Sementara maggot, bisa dijadikan beberapa opsi. Maggot segar bisa langsung diserap di peternakan unggas sebagai sumber pakan protein tinggi, atau dikeringkan dahulu. Pengeringan maggot biasanya digunakan untuk pakan ikan.

Penghobi ikan hias seperti koi, menjadi sasaran pasar maggot kering. Sementara pembudidaya ikan konsumsi seperti lele, nila, patin, dan lain sebagainya, lebih memilih maggot yang telah diolah menjadi pelet kering.

Maggot segar atau maggot basah untuk peternak unggas, ditawarkan Rp6.000 per kilogram. Pelet maggot Rp7.000 per kilogram. Sementara maggot kering dibanderol agak mahal, yakni Rp65.000 per kilogram. Pasalnya, maggot yang dikeringkan mengalami penyusutan yang sangat signifikan. Maklum, kandungan maggot didominasi cairan dan akan susut ketika dikeringkan.

“Kami menyisakan maggot basah yang sengaja tidak dikeringkan untuk dibesarkan menjadi indukan BSF. Ini bisa digunakan untuk mengurai sampah dan menghasilkan maggot lagi,” jelasnya.

Dikatakan, ada produk lain berupa cairan yang diambil dari teknologi biokonversi BSF ini. Multipro, asam amino, dan decomposer. Multipro yang dijual Rp30.000 per liter ini mampu mempercepat pertumbuhan ternak dan ikan. Selain itu, juga meningkatkan produktivitas telur, sebagai desinfektan kandang yeng berfungsi untuk mengurai bakteri pathogen dalam kandang, meningkatkan anti bodi ternak, meningkatkan kecernaan pada ternak, dan memperbaiki imun.

Ajak Anak-anak Muda

Bsfly tidak bermain sendiri. Mereka mengajak anak-anak muda lain untuk membantu pemerintah dalam menjawab tantangan sampah dan pangan. Tentu dengan mendapatkan untung dari penjualan produk hasil keringat lalat tentara hitam.

CEO Bsfly, M Jafar Khoerudin menjelaskan, pihaknya membuka kelas pelatihan budidaya BSF. Anak-anak muda dari berbagai daerah bisa bergabung untuk menjadi solusi tumpukan sampah organik di wilayah masing-masing.

Salah satunya, menggandeng Basnaz Jateng untuk memberi pelatihan bagi 168 santri dari 25 pondok pesantren se-ekskaresidenan Semarang. Pelatihan ini juga untuk mendukung program Baznas, yakni ‘Ponpesnya Resik, Santrinya Rapi’.

Di lain pihak, Muhammad Syarifuddin, salah satu santri dari Ponpes al Ibris Majapahit Semarang yang ikut pelatihan ini berharap Bsfly dapat hadir di seluruh daerah, khususnya Jateng untukmenanggulangi sampah yang tidak berguna menjadi hal yang bernilai ekonomi tinggi.

“Semoga bisa memberikan manfaat buat semuanya terutama di Jateng ini terkhususnya untuk Indonesia juga. Semoga nanti bisa berkembang syukur-syukur kita doakan bersama-sama semoga nanti seluruh Indonesia ada Bsfly-Bsfly yang lainnya,” harapnya.

“Dan kami bisa tanggulangi sampah-sampah yang ndak berguna itu bisa dikatakan dadi duwit kalu bahasa Jawanya,’ tandas Syarifuddin.

Gagasan dan upaya Bsfly dalam menawarkan solusi penanganan sampah organik dan produksi pakan protein tinggi ini langsung menarik perhatian. Mereka masuk dalam lima besar ajang Hetero for Startup. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.