in

Komplotan Pembobol ATM asal Lampung Digulung di Wonosobo

WONOSOBO (jatengtoday.com) – Tim Reskrim Polres Wonosobo meringkus komplotan pembobol sejumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) milik BNI. Komplotan yang berjumlah lima orang tersebut diduga juga beraksi di wilayah Temanggung dan eks Karesidenan Banyumas.
Kasat Reskrim Polres Wonosobo AKP Heriyanto mengatakan, komplotan pencuri asal Tanggamus, Lampung, tersebut berjumlah lima orang dengan inisial BR (24), PZ (25), SPD (38), BND (28), dan AZW (24).
“Dari laporan pihak Bank BNI Wonosobo menyebutkan telah terjadi pengambilan uang dengan paksa pada tiga ATM yang terpasang di depan kantor PT Tambi, SPBU Sidojoyo, dan depan Terminal Mendolo Wonosobo pada Rabu (23/10),” kata Heriyanto, Senin (18/11/2019).
Dia menambahkan, para anggota komplotan ini memiliki peran masing-masing. Tersangka BR dan PZ bertugas sebagai eksekutor. Mereka menggunakan alat berupa kartu ATM untuk melakukan transaksi pancingan dan batang besi yang telah dimodifikasi untuk menarik uang dari mulut ATM. Sedangkan pelaku lain bertugas untuk mengawasi situasi sekitar ATM.
Menurut Kasat Reskrim, modus seperti ini biasa dikenal dengan cash fishing, caranya pada saat uang yang diambil sedang dihitung oleh mesin ATM, pelaku memasukkan paksa batang besi ke dalam mulut ATM untuk menarik uang.
“Hal ini menyebabkan sensor ATM membaca ada vandalisme dan transaksi dibatalkan, sehingga saldo pelaku tidak berkurang.Tapi uang tetap bisa keluar karena ditarik paksa. Dari ketiga ATM tersebut, pelaku berhasil mengambil uang total Rp 3.850.000,” katanya.
Polisi masih mengembangkan penyelidikan terkait kemungkinan pelaku juga melakukan pencurian lain di wilayah Kabupaten Temanggung dan Banyumas, karena dari data CCTV yang dimiliki, terdapat ciri-ciri pelaku yang identik dengan pelaku yang ditangkap oleh Polres Wonosobo.
“Saat ini kami sedang melakukan pengembangan kemungkinan adanya TKP di wilayah lain. Tim opsnal juga sedang melakukan pengejaran terhadap orang yang menyediakan kartu ATM, yang digunakan sebagai alat untuk memancing transaksi pengambilan uang,” imbuh Heriyanto. (*)
sumber : ant
editor : tri wuryono