in

Jauh dari Permukiman, Pengantar Daging Kurban di Dusun Girpasang Harus Naik Turun Jurang

KLATEN (jatengtoday.com) – Dusun Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, bisa dibilang terpencil. Letaknya di atas bukit. Satu-satunya akses jalan, harus melewati jurang yang cukup curam. Praktis, mereka yang mengantarkan daging kurban untuk warga Dusun Girpasang, mau tidak mau harus naik turun jurang.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo ikut dalam tim pengantar daging kurban di Dusun Girpasang, Sabtu (1/8/2020). Gubernur yang doyan gowes ini tampak ngos-ngosan melewati medan perjalanan. Maklum, dia telah jalan kaki naik turun jurang selama kurang lebih 45 menit. Jalan setapak yang dibuat dari semen itu meliuk-liuk di bawah jurang dengan kedalaman sekitar 150 meter.

Sementara daging kurban dan sembako yang dibawa Ganjar dari Semarang, diangkut menggunakan gondola kecil alakadarnya yang biasa digunakan warga mengangkut barang.

Ganjar memang memperingati Hari Raya Idul Adha tahun ini dengan berbeda. Jika biasanya dia berkurban dengan mengirim sapi ke masjid-masjid, kali ini ia rela mengunjungi desa terpencil di Klaten itu untuk membagikan daging kurban.

Dusun tersebut hanya dihuni 12 kepala keluarga. Jumlah jiwa yang hidup di desa itu sebanyak 37 orang. Ganjar pun langsung memberikan daging kurban dan sembako kepada warga.

“Biasanya saya tiap tahun memang mencari desa yang jarang dikunjungi, apalagi mendapatkan bantuan hewan kurban. Maka saya ke sini untuk membantu membagi daging kurban dan sembako agar masyarakat di sini bisa menikmati,” ucapnya.

Dia pun berharap masyarakat tetap hidup rukun dan menjaga kesehatan. Apabila ada hal yang mendesak, warga diminta untuk tidak segan meminta bantuan pada pemerintah.

“Masyarakat di sini sudah biasa hidup menyatu dengan alam. Tapi pemerintah tidak tinggal diam, maka kami telah memberikan bantuan untuk renovasi rumah warga dan akan saya usahakan pembangunan jembatan,” imbuhnya.

Sementara itu, bantuan daging kurban dan sembako itu diterima masyarakat Girpasang dengan suka cita. Mereka tidak menyangka, seorang gubernur mau datang ke tempat terpencil itu untuk memberikan daging kurban.

“Bahagia sanget, maturnuwun sanget kalih Pak Ganjar Pranowo mpun dugi mriki (kami berterimakasih sekali Pak Ganjar Pranowo datang ke sini). Awit mbah buyut sampe saiki (sejak kekek buyut sampai sekarang), tembe sepindah niki diparani gubernur (baru sekali ini didatangi gubernur),” kata Padmo Sudarno, warga penerima daging kurban. (*)

editor : tri wuryono

Ajie MH.