in

Jateng Kekurangan Nakes, Ganjar Minta Mahasiswa Ikut Bantu Tangani Pasien Covid-19

SEMARANG (jatengtoday.com) – Jumlah tenaga kesehatan (nakes) di Jateng dinilai kurang untuk merawat pasien Covid-19 yang setiap hari terus bertambah.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sudah berupaya memperbantukan nakes dari daerah lain di Jateng. Tapi karena mereka sudah bekerja, sehingga mereka mempunyai beban dan tanggung jawab di instansinya masing-masing.

“Beberapa kali kami sempat pinjam, tapi karena terjadi peningkatan di beberapa titik, sehingga mereka harus stanby di tempatnya masing-masing. Kami akan terus mengupayakan terkait pemenuhan nakes ini,” tuturnya, Sabtu (26/6/2021).

Kini, Ganjar coba mencari mahasiswa untuk membantu nakes. Tapi terkendala izin dari orang tua. Ganjar pun memberikan pesan khusus bagi orang tua yang memiliki anak kuliah di fakultas kesehatan atau keperawatan.

Kepada mereka, Ganjar meminta agar mengizinkan anaknya membantu negara dalam penanganan pandemi.

“Kita memang terkendala terkait tenaga kesehatan. Kami sudah koordinasi dengan IDI, PPNI, Persi dan lainnya untuk membantu. Sekarang sudah ada tambahan, tapi rasa-rasanya tetap kurang. Maka kami akan bekerja sama dengan perguruan tinggi,” kata Ganjar.

Mahasiswa-mahasiswa kedokteran atau keperawatan yang sudah masuk semester akhir akan digandeng untuk membantu penanganan pandemi.

Tapi hal itu tidak mudah, mengingat informasi yang diterimanya, banyak orang tua mahasiswa yang menolak anaknya terjun membantu penanganan Covid-19.

“Izin kepada bapak ibu yang anaknya sekolah kedokteran atau sekolah perawat, izinkan anaknya untuk bisa membantu. Sudah ada laporan, anaknya mau tapi orang tuanya tidak mengizinkan. Saya mohon, karena saat ini negara sedang memanggil, kemanusiaan memanggil. Kita butuh anak-anak panjenengan yang ahli,” ucapnya.

Ganjar memahami, kekhawatiran orang tua yang anaknya diminta membantu penanganan pandemi ada benarnya. Ganjar juga tahu bahwa ada risiko di balik itu semua.

“Maka kami minta seluruh layanan kesehatan, tolong SOP dijaga ketat. Karena kalau ada bantuan tenaga kesehatan yang masuk dan SOP tidak ketat, maka ini pasti membuat khawatir. Maka kami akan lakukan checking ke semua layanan kesehatan termasuk mengirimkan tim, agar mereka-mereka yang kita perbantukan dengan keahlian masing-masing, terjamin keamanannya,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo membenarkan, pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan sejumlah perguruan tinggi. Banyak mahasiwa yang sudah mau untuk diperbantukan, tapi terkendala izin orang tua.

“Mungkin orang tuanya khawatir, nanti kami akan lakukan pendekatan secara persuasif, dengan menggandeng organisasi profesi,” jelasnya.

Selain dari Jawa Tengah, Yulianto juga mengatakan akan koordinasi dengan sejumlah perguruan tinggi di luar Jawa yang bisa mengirimkan mahasiswanya untuk membantu.

“Akan kami coba komunikasi dengan provinsi lain di luar Jawa yang kasusnya tidak begitu tinggi. Nanti akan kami lakukan pendekatan,” pungkasnya. (*)

editor : tri wuryono

Ajie MH.