in ,

Hendi Prihatin, Anak Disuruh Mengemis oleh Orang Tuanya

SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga 2016, tercatat jumlah anak usia Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), yakni berusia antara 12 tahun hingga 15 tahun, di Kota Semarang sebanyak 81 persen. Hal itu menunjukkan masih banyak anak di Kota Semarang tidak bisa mengenyam pendidikan SLTP.

“Artinya, ada 19 persen anak usia sekolah SLTP tidak bisa mengenyam pendidikan di Kota Semarang,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi bercerita bahwa ia pernah bertemu dengan anak usia SMP yang tidak mau sekolah. “Anak tersebut memilih menjadi buruh kuli panggul di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang demi mencari uang,” katanya.

Dia setiap pagi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai kuli panggul dengan berpenghasilan Rp 50-100 ribu/ per hari. Anak tersebut sudah puas sekarang ini dengan mendapat Rp 50 ribu per hari. Sedangkan ia tidak menyadari bahwa kehidupan masih akan berjalan ke depan, bisa 50, 70, bahkan 80 tahun ke depan.

Hal yang lebih memprihatinkan, di kesempatan lain, Hendi juga pernah bertemu dengan seorang anak mengemis di jalanan. Setelah ditanya kenapa mengemis? Ternyata mengaku disuruh oleh orang tuanya sendiri.

Saat ditanya kenapa tidak sekolah? Dia jawab karena tidak boleh sekolah oleh orang tuanya. “Orang tuanya kemudian kami panggil, karena di Dinas Pendidikan kan punya beasiswa bagi siswa tidak mampu,” katanya.

Anehnya, orang tua anak yang tidak sekolah itu malah justru menanyakan apa yang bisa diberikan oleh pemerintah sebagai pengganti penghasilan si anak yang seharinya bisa mendapatkan Rp 50 ribu. “Saya bilang, Bu, besok anaknya saya sekolahkan, biayanya ‘gratis’. Ibunya bilang maturnuwun, tapi malah nanya kalau anaknya disekolahkan, maka harus mengganti pendapatan anaknya dari mengemis,” kata Hendi.

Hal itu menunjukkan bahwa kesadaran orang tua terkait pentingnya pendidikan anak masih minim. Banyak alasan mengenai persoalan yang mengakibatkan anak-anak usia SMP tidak bisa mengenyam pendidikan, mulai dari kecerdasan si anak sendiri hingga persoalan ekonomi orang tuanya. Problemnya bermacam-macam, mungkin karena secara Intelegent Quotient (IQ) memang tidak mampu dan pasti jumlahnya kecil. “Ada juga karena persoalan ekonomi. Bisa juga karena sudah malas sekolah,” katanya.

Maka dari itu, orang nomor satu di Kota Semarang itu mengajak warga Kota Semarang untuk terus memerhatikan pendidikan. Para siswa harus memiliki semangat dan optimisme untuk menempuh pendidikan tinggi. “Saya ajak bersama-sama mengentaskan kemiskinan dan pengangguran. Anak-anak sebagai generasi muda harus memiliki semangat tinggi hingga mampu mencetak prestasi,” ungkapnya. (abdul mughis)

Editor: Ismu Puruhito