Semarang (jatengtoday.com) – Menjadi rumah sakit yang dipercaya masyarakat hari ini tak cukup hanya memiliki dokter hebat, alat medis canggih, atau layanan yang cepat. Di era digital, kemampuan membangun komunikasi yang baik justru menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik.
Kesadaran itulah yang mendorong Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang menjajaki kerja sama dengan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang. Salah satu agenda utamanya adalah membuka kesempatan bagi tenaga medis maupun nonmedis untuk melanjutkan studi di Program Magister Ilmu Komunikasi (MIKom) Udinus.
Direktur Utama RSI Sultan Agung, Agus Ujianti mengatakan peningkatan kualitas layanan rumah sakit harus dimulai dari penguatan manusianya.
“Komunikasi strategis bukan lagi sekadar pelengkap dalam pelayanan kesehatan. Cara rumah sakit berkomunikasi akan menentukan kepercayaan masyarakat, reputasi institusi, bahkan berkontribusi terhadap keselamatan pasien,” ujarnya usai menerima jajaran MIKom Udinus di ruang kerjanya, Jumat (17/7/2026).
Ia menilai, tantangan pelayanan kesehatan ke depan semakin kompleks. Karena itu, rumah sakit membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya kuat secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, memimpin, dan berkomunikasi dengan baik.
“Kami ingin memberikan ruang bagi karyawan untuk terus bertumbuh. Pendidikan menjadi salah satu investasi terbaik agar pelayanan kepada masyarakat ikut meningkat,” katanya.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Udinus, Agus Triyono mengatakan sektor kesehatan kini menghadapi tantangan baru yang tak kalah serius dibanding persoalan medis. Informasi yang menyebar begitu cepat di ruang digital membuat rumah sakit harus mampu mengelola komunikasi secara profesional.
“Rumah sakit sekarang harus siap menghadapi krisis komunikasi, hoaks, hingga perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi kesehatan. Karena itu, kompetensi komunikasi menjadi kebutuhan yang semakin penting,” jelasnya.
Melalui Program Magister Ilmu Komunikasi, Udinus menawarkan pendekatan yang dekat dengan kebutuhan dunia kerja. Mulai dari komunikasi kesehatan, manajemen krisis, kepemimpinan, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam strategi komunikasi organisasi.
Menurut Agus, kolaborasi dengan RSI Sultan Agung diharapkan menjadi ruang bertemunya dunia akademik dan praktik profesional.
“Harapannya, para praktisi kesehatan tidak hanya memperoleh gelar akademik, tetapi juga perspektif baru yang bisa diterapkan langsung dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Kerja sama yang sedang dijajaki ini tidak berhenti pada program studi lanjut. Kedua institusi juga membuka peluang kolaborasi dalam penelitian komunikasi kesehatan, kuliah praktisi, keterlibatan mahasiswa di lapangan, hingga berbagai program pengabdian kepada masyarakat.
“Dalam waktu dekat, hasil penjajakan tersebut akan ditindaklanjuti melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sebagai pijakan kerja sama jangka panjang,” katanya.
Jika terealisasi, lanjutnya, kolaborasi ini diharapkan menjadi contoh bagaimana dunia pendidikan dan layanan kesehatan dapat saling menguatkan. “Sebab, di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat, kualitas pelayanan publik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menjalankannya,” kata dia. (*)
