in

BPJS Kesehatan Dorong Peserta JKN Lakukan Skrining Riwayat Kesehatan untuk Deteksi Dini Penyakit

SEMARANG (jatengtoday.com) — BPJS Kesehatan terus mengajak peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk melakukan Skrining Riwayat Kesehatan sebagai upaya deteksi dini risiko penyakit kronis. Program ini wajib diikuti seluruh peserta JKN berusia 15 tahun ke atas dan dilakukan secara rutin minimal satu kali dalam setahun melalui Aplikasi Mobile JKN.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Sari Quratul Ainy, mengatakan skrining tersebut menjadi bagian penting dari upaya promotif dan preventif dalam Program JKN, bukan hanya berfokus pada layanan kuratif dan rehabilitatif.

“Skrining Riwayat Kesehatan wajib dilakukan seluruh peserta JKN. Kami menyarankan agar dilakukan rutin setiap awal tahun agar tidak terlupa,” ujar Sari, Kamis (15/1/2026).

Menurutnya, melalui skrining ini, potensi risiko penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, kanker, penyakit jantung, hingga stroke dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sejak dini.

Berdasarkan data BPJS Kesehatan Cabang Semarang, sepanjang 2025 sebanyak 1.245.525 peserta JKN di wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Demak telah mengisi Skrining Riwayat Kesehatan, baik melalui Aplikasi Mobile JKN, Web Skrining, layanan Pandawa, maupun saat berkunjung ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Dari hasil skrining tersebut, terjaring peserta dengan berbagai risiko penyakit, di antaranya anemia sebanyak 15.458 orang, diabetes melitus 286.792 orang, hipertensi 96.775 orang, hepatitis B 12.994 orang, hepatitis C 2.655 orang, serta penyakit tidak menular lainnya seperti kanker serviks 101.893 orang, kanker payudara 2.307 orang, kanker paru 1.978 orang, kanker kolorektal 440 orang, PPOK 8.678 orang, TBC 7.749 orang, dan thalasemia 772 orang.

“Peserta yang terdeteksi memiliki risiko akan diarahkan untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan lanjutan ke fasilitas kesehatan. Dengan deteksi dini, potensi komplikasi dapat dicegah karena pengobatan bisa dilakukan sejak tahap awal,” jelas Sari.

Manfaat skrining ini juga dirasakan langsung oleh salah satu peserta JKN, Dewi Kurniasari (40). Melalui pengisian 49 pertanyaan di Aplikasi Mobile JKN, Dewi memperoleh gambaran kondisi kesehatannya secara real time.

“Hasil skrining menunjukkan saya berisiko tinggi diabetes melitus dan hipertensi. Dari situ saya disarankan menjaga pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan lanjutan ke fasilitas kesehatan,” ujar Dewi.

Ia mengaku terbantu dengan adanya Skrining Riwayat Kesehatan karena dapat mengetahui kondisi tubuh lebih awal dan segera melakukan langkah pencegahan.

“Kalau tidak skrining, mungkin saya terlambat menyadari. Padahal diabetes dan hipertensi bisa menimbulkan komplikasi serius. Lebih baik mencegah daripada mengobati,” pungkasnya.

BPJS Kesehatan berharap kesadaran peserta JKN untuk melakukan skrining terus meningkat agar kualitas hidup masyarakat tetap terjaga dan risiko penyakit kronis dapat ditekan sejak dini. (*)