PERSATUAN tetap menjadi nyawa bangsa di tengah dinamika modern.
– Sumpah Pemuda 1928 menyatukan 70 juta rakyat dari 300 etnis.
– Indonesia 2025 menghadapi polarisasi digital, 65 persen netizen aktif di X.
– Bahasa Indonesia kuat, tetapi 718 bahasa daerah tetap hidup.
Optimisme generasi muda mendorong Indonesia melangkah ke depan.
JAKARTA-INDONESIA – Pada 28 Oktober 2025, peringatan ke-97 Sumpah Pemuda mengundang refleksi mendalam mengenai bagaimana semangat persatuan tahun 1928, yang lahir dari Kongres Pemuda II di Batavia, kini menemui konteks baru di Indonesia modern yang berpopulasi 280 juta jiwa, di mana tantangan friksi sosial, keberagaman bahasa, dan sikap apatis di kalangan muda berhadapan dengan optimisme generasi digital yang bersemangat untuk perubahan. Pada tahun 1928, pemuda dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, hingga Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia bersatu di bawah tiga ikrar suci—satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa—meskipun menghadapi kolonialisme Belanda yang memecah-belah 70 juta penduduk dari 300 etnis dengan bahasa berbeda, seperti Jawa, Sunda, dan Melayu. Ikrar ini, yang diproklamasikan di Gedung Kramat 106, Jakarta, menjadikan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu, mengatasi friksi antar-etnis yang sering dimanfaatkan penjajah untuk melemahkan perlawanan.
Kini, Indonesia 2025 menghadapi friksi baru berupa polarisasi digital, di mana 65 persen dari 204 juta netizen aktif di platform X terlibat dalam debat politik dan identitas yang kadang-kadang memicu perpecahan, seperti pada isu revisi Undang-Undang Pemilu yang memunculkan tagar #IndonesiaTerpecah dengan 200 ribu unggahan bulan ini. Namun, semangat persatuan tetap hidup, terlihat dari gerakan komunitas muda seperti Indonesia Youth Forum yang menggalang 10.000 relawan untuk dialog lintas budaya di 34 provinsi.
Pada era 1928, Bahasa Indonesia, yang diresmikan sebagai alat pemersatu, harus bersaing dengan 718 bahasa daerah dan bahasa kolonial seperti Belanda serta Inggris di kalangan elit. Pemuda seperti Mohammad Yamin dan Soegondo Djojopoespito memilih Melayu Riau sebagai dasar Bahasa Indonesia untuk menciptakan identitas nasional yang inklusif, meskipun hanya 5 persen penduduk urban saat itu fasih menggunakannya. Kini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat 98 persen rakyat Indonesia menguasai Bahasa Indonesia, tetapi 718 bahasa daerah tetap hidup, dengan 30 persen anak muda urban di Jakarta dan Surabaya menggunakan dialek lokal atau bahasa gaul digital seperti “ceunah” dan “ngab” di media sosial.
Meskipun muncul kekhawatiran mengenai erosi bahasa nasional, aplikasi seperti Kamus Daerah dan inisiatif Duta Bahasa Kementerian Pendidikan yang melibatkan 5.000 pelajar untuk mempromosikan Bahasa Indonesia di TikTok menunjukkan harmoni antara bahasa nasional dan lokal. Mohammad Yamin, tokoh Sumpah Pemuda, pernah menyatakan pada 1928, “Bahasa adalah jiwa bangsa; dengan satu bahasa, kita menyatukan hati dari Sabang sampai Merauke.” Pernyataan ini relevan hari ini, di mana Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dalam pidato peringatan Sumpah Pemuda di Istana Negara pada 27 Oktober 2025, menyatakan, “Semangat Sumpah Pemuda mengajak kita untuk terus berinovasi sambil menjaga persatuan; pemuda hari ini adalah penerus yang akan membawa Indonesia ke puncak kemajuan global dengan hati yang satu.”
Sikap optimisme pemuda 1928, yang terlihat dari semangat Kongres Pemuda melawan penjajah meskipun tanpa senjata, kini berhadapan dengan tantangan apatis di kalangan 20 persen generasi Z yang, menurut survei Populi Center, merasa “politik tidak relevan” karena korupsi dan lambatnya perubahan. Namun, optimisme tetap mendominasi, dengan 80 persen pemuda Indonesia di bawah 30 tahun, menurut Indikator Politik, yakin Indonesia akan mencapai status negara maju pada 2045, didorong oleh kemajuan teknologi dan program seperti Makan Bergizi Gratis yang meningkatkan gizi 50 juta anak. Friksi digital seperti hoaks dan ujaran kebencian, yang memicu 1.000 laporan ke Badan Siber dan Sandi Negara sepanjang 2025, menjadi tantangan, tetapi inisiatif seperti Gerakan Literasi Digital Nasional yang melibatkan 2 juta pelajar untuk edukasi anti-hoaks menunjukkan langkah maju. Badan Pusat Statistik mencatat 70 persen pemuda aktif di komunitas lintas budaya, dan fakta menarik mengungkapkan 500 startup berbasis budaya lokal muncul tahun ini, seperti platform seni tradisional Nusantara.Art yang menarik 1 juta pengguna.
Persatuan kini lebih kuat dari sebelumnya. Dengan acara Sumpah Pemuda 2025 di 100 kota yang melibatkan 50.000 pemuda, semangat 1928 hidup kembali dalam dialog daring dan luring. Meskipun friksi tetap ada, optimisme generasi muda, yang kini menguasai teknologi dan globalisasi, mendorong Indonesia melangkah menuju masa depan inklusif, di mana satu bahasa dan banyak identitas menjadi kekuatan, bukan kelemahan. [dm]
