in

Upayakan Konservasi di Hulu DAS Serayu, Jasa Tirta I Kontribusi 500 Bibit Pohon

Perum Jasa Tirta I sebagai BUMN Pengelola Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Serayu Bogowonto turut berpartisipasi menyumbangkan 500 batang bibit tanaman konservasi.

WONOSOBO (jatengtoday.com) – Hari Sungai Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Juli 2023 lalu diperingati secara serentak di seluruh pelosok negeri. Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai yang tersebar di seluruh Indonesia, bersama-sama menggelar kegiatan Bersih Sungai (River Clean Up) pada Kamis 27 Juli 2023.

Kegiatan ini juga masuk dalam rangkaian awal gelaran event global World Water Forum (WWF) yang puncaknya akan diselenggarakan tahun depan dengan Indonesia sebagai tuan rumah.

Begitu juga di Wilayah Sungai Serayu, aksi penyelamatan lingkungan ini difokuskan di hulu DAS Serayu yang berada di Kabupaten Wonosobo. BBWS Serayu Opak bersama dengan Pemda Provinsi Jateng dan Pemda Kabupaten Wonosobo menggelar acara tanam pohon, susur sungai dan bersih – bersih sungai pada Kamis 27 Juli 2023.

Dalam kegiatan dimaksud Perum Jasa Tirta I sebagai BUMN Pengelola Sumber Daya Air di Wilayah Sungai Serayu Bogowonto turut berpartisipasi menyumbangkan 500 batang bibit tanaman konservasi untuk kegiatan tanam pohon yang merupakan salah satu rangkaian acara serta menerjunkan tim untuk ikut serta dalam kegiatan susur sungai dan bersih-bersih sungai.

Kegiatan tanam pohon dan bersih sungai kemarin diharapkan dapat menjadi pemantik awal upaya kolaborasi terstruktur dan terarah dalam Penyelamatan Hulu DAS Serayu seperti harapan Bupati Wonosobo H. Afif Nurhidayat dalam sambutannya membuka acara.

Sinergitas lintas sektor dan masyarakat untuk peduli kondisi di hulu DAS Serayu perlu dilaksanakan agar kita dapat menikmati kemanfaatan air sungai Serayu secara berkelanjutan dalam jangka waktu lama, ujar beliau.

Membuka pembicaraan pada Jumat 28 Juli 2023 Direktur Operasional Perum Jasa Tirta I (PJT I) menyampaikan perihal penugasan yang diberikan kepada perusahaan sebagai BUMN yang turut mengelola Sumber Daya Air (SDA) di 5 Wilayah Sungai di Indonesia, salah satunya di Wilayah Sungai Serayu Bogowonto dimana termasuk didalamnya DAS Serayu.

Milfan kemudian menjelaskan bahwa Sungai Serayu membentang dari timur laut ke barat daya sejauh 181 km, sungai ini melintasi lima kabupaten yakni Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banyumas, hingga bermuara di Samudra Hindia di Kabupaten Cilacap.

Sebagai pengelola SDA, PJT I diberikan wewenang dalam mengupayakan kegiatan konservasi untuk melestarikan air dan menjaga keseimbangan lingkungan sebagai wadah air, termasuk waduk dan sungai.

Sebagai informasi tambahan Milfan Rantawi menyampaikan bahwa kelestarian perairan di Sungai Serayu terutama terancam oleh sedimentasi, dan belakangan juga oleh sampah/ polusi air.

Sedimentasi di sungai ini diakibatkan oleh laju erosi tanah, terutama yang terjadi di wilayah hulu DAS seperti di dataran tinggi Dieng. “Hal ini dapat mengancam umur layanan infrastuktur yang berada di sistem aliran Sungai Serayu, seperti Waduk Mrica di Banjarnegara,” terang Milfan.

Salah satu pemanfaatan air di sungai Serayu adalah sebagai sumber pembangkitan listrik yang dalam hal ini dikelola oleh PT PLN Indonesia Power (PLN IP), diantaranya PLTA Panglima Besar Soedirman yang memanfaatkan air di Waduk Mrica.

PLTA ini memegang peranan penting dalam pembangkitan energi listrik di area barat Jawa Tengah dengan kapasitas hingga 184,5 megawatt (MW). Listrik yang dihasilkan menjadi rangkaian untuk memenuhi aliran sistem Jawa Bali. Direktur Operasional PJT I Bapak Milfan Rantawi menyampaikan bahwa kegiatan multi stakeholder diperlukan karena permasalahan sedimentasi butuh upaya bersama untuk penanganannya dan kegiatan yang dilaksanakan di Wonosobo ini menjadi upaya nyata bersama untuk mengatasi permasalahan  sedimentasi yang dihadapi dalam pengelolaan Sumberdaya Air.

Tidak hanya sebagai sumber pembangkitan listrik, keberadaan Waduk Mrica juga bermanfaat sebagai pengendali banjir dan sumber air baku untuk irigasi serta pemenuhan kebutuhan air bersih di Wilayah Banjarnegara, Kebumen, dan Cilacap.

Salah satu permasalahan yang dihadapi di Waduk Mrica adalah sedimentasi yang sangat tinggi, dimana kondisi saat ini laju sedimentasinya telah mencapai 6,5 Juta m³/tahun. Dengan angka ini menyebabkan keterisian sedimen pada waduk mencapai lebih dari 60% dari kapasitas efektif tampungannya.

“Upaya konservasi di Hulu Sungai Serayu menjadi salah satu langkah yang harus dilakukan untuk dapat menekan laju sedimentasi di Waduk Mrica” jelas Milfan. “Kedepannya tentu saja PJT I akan terus berupaya dalam upaya penanganan sedimentasi di DAS Serayu, dengan menggandeng mitra strategis para pengguna sumber daya air untuk secara kontinyu menjaga Sungai Serayu agar tetap memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat” ujar Milfan. (*)

Ajie MH.