in

Produk Startup akan Diarahkan Masuk e-Catalogue

JAKARTA (jatengtoday.com) – Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) mengupayakan agar produk inovasi buatan perusahaan rintisan atau startup masuk katalog elektronik (e-catalogue) untuk pengadaan barang dan jasa pemerintah.
“Begitu pemerintah mau adakan pengadaan barang, dia bisa melihat produk (inovasi) ini,” kata Pelaksana Tugas Direktur Sistem Inovasi Kemenristek/BRIN Muhammad Amin pada Konferensi Investree di Jakarta, Kamis (12/12/2019).
Dengan begitu, kata dia, produk hasil perusahaan rintisan termasuk usaha mikro kecil menengah terserap di pasar yang dimulai terlebih dahulu dari pemerintah.
Meski pasar di Indonesia besar namun, sebagian besar masyarakat masih cenderung menggunakan merek-merek kenamaan yang didominasi produk luar negeri. Di sisi lain, perusahaan rintisan yang menciptakan produk inovasi juga belum bisa masuk ke katalog e-procurement Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) karena terbentur regulasi.
Amin mengungkapkan dalam aturan itu produk yang bisa masuk pengadaan barang secara elektronik adalah produk untuk pemeliharaan (maintenance), dan produk layanan purnajual (after sales service).
“Kalau produk inovasi tidak bisa begitu. Belum tentu juga produknya berkelanjutan namanya juga startup, mereka baru produksi dalam waktu terbatas dan mereka masih menciptakan pasar dulu,” katanya.
Amin mengungkapkan meski terbentur regulasi, namun ia melihat masih ada celah memasukkan produk inovasi ciptaan perusahaan rintisan masuk dalam e-procurement LKPP.
Dia menjelaskan pengadaan barang dan jasa pemerintah diperkirakan mencapai sekitar Rp 1.000 triliun. Meski begitu, ia mengakui pembelian barang dan jasa pemerintah tidak serta merta langsung dalam jumlah besar kepada perusahaan rintisan atau UMKM.
Untuk mendorong perusahaan rintisan termasuk UMKM, pihaknya ikut memberikan pendampingan baik dalam hal perizinan hingga kesiapan masuk pasar.
“Kalau 10 persen saja ambil untuk beli produk inovasi dalam negeri. Itu sudah cukup, itu kami lagi dorong karena pengadaan barang pemerintah besar. Jadi captive market diciptakan oleh pemerintah dulu, kami arahkan ke produk inovasi,” katanya. (ant)
editor : tri wuryono