in

Planetarium UIN Walisongo Diresmikan, Jadi Pusat Riset Sekaligus Wisata Luar Angkasa

SEMARANG (jatengtoday.com) – Bangunan eksotis itu diberi nama Planetarium UIN Walisongo. Tempat yang dijadikan pusat riset Ilmu Falak atau ilmu pengetahuan tentang lintasan benda langit tersebut resmi dilaunching Rabu (20/01/2020).

Selain menjadi pusat riset, planetarium ini ke depan bisa menjadi magnet destinasi wisata. Para pengunjung nantinya bisa  berselancar melihat cakrawala dan benda-benda luar angkasa. 

Planetarium ini diresmikan bersama tujuh gedung lain yang dibangun di lahan seluas  26.400 m2. Di antaranya ditunjang kelengkapan fasilitas laboratorium, observatorium, perpustakaan dan infrastruktur teknologi informasi. 

“Pembangunan telah selesai. Sejumlah fasilitas ini siap digunakan untuk kegiatan akademik di tahun 2021 ini,” ungkap Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Imam Taufiq, Rabu (20/1/2021).

Planetarium tersebut merupakan Program The Support to Development of the Islamic Higher Education Project, sebuah megaproyek pengembangan Pendidikan Tinggi Islam dari Islamic Development Bank (IsDB). Penambahan sejumlah fasilitas canggih tersebut menjadi upaya menaikkan level UIN Walisongo Semarang menjadi kampus bertaraf internasional.

“Adanya program ini, maka peningkatan akses, kualitas dan manajemen project di UIN Walisongo Semarang akan dapat berjalan dengan baik menuju visi kami di tahun 2038 menuju Universitas Islam Riset Terdepan Berbasis pada Kesatuan Ilmu Pengetahuan untuk Kemanusiaan dan Peradaban,” ungkapnya. 

Dia berharap, program ini berdampak signifikan dalam peningkatan mutu akademik. “Kami berterima kasih kepada IsDB, Bapennas, Kementerian Agama dan seluruh pihak yang terlibat dalam program ini,” tambah Prof Imam. 

Peresmian yang gelar secara virtual tersebut dilakukan langsung oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Menag berharap agar fasilitas baru UIN Walisongo ini berpotensi menjadi salah satu role model perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama.

“Saya berharap UIN Walisongo Semarang dapat menjadi tempat terbaik untuk melakukan kolaborasi dan sinergis serta tampil menjadi Perguruan Tinggi modern dan model PTKIN lain di Indonesia,” ujarnya.

The Head of the IsDB Regional Hub Indonesia, Mr. Salah Jelassi berharap fasilitas tersebut berdampak besar pada pembangunan Human Index di Indonesia, terutama di perguruan tinggi Islam.

Baca Juga Ini: Planetarium di Semarang Bakal Jadi Pusat Riset Sekaligus Tempat Wisata

Sebelumnya, Prof Imam Taufiq menjelaskan bahwa selain menjadi tempat riset Ilmu Falaq untuk Prodi S1, S2 dan S3, masyarakat bisa memanfaatkan untuk menambah pengetahuan mengenai isi antariksa menggunakan berbagai alat seperti teleskop, teropong bintang, dan peralatan canggih lainnya.

Planetarium dan observatorium tersebut menjadi destinasi wisata di Jawa Tengah, terutama di Kota Semarang. Di samping untuk kajian ilmiah, masyarakat bisa datang ke sini untuk melihat benda-benda langit, cakrawala, planet dan lain-lain,” katanya. 

Planetarium merupakan bangunan berkubah setengah lingkaran untuk memperlihatkan atau memperagakan susunan dan gerakan bintang-bintang di langit. Layaknya sebuah gedung bioskop, sebagai tempat menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar. Kalau bioskop menggunakan layar lebar, sedangkan planetarium menggunakan kubah dalam bentuk setengah lingkaran. Sehingga penonton seolah-olah berada di tengah-tengah bola langit.

“Sedangkan observatorium merupakan bangunan yang dilengkapi alat-alat seperti teleskop, teropong bintang, dan peralatan-peralatan lain untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang perbintangan,” terangnya. (*)

 

editor: ricky fitriyanto