in

Perang Sarung Marak saat Ramadan, Pelakunya Bisa Dipidana

Perang sarung sangat meresahkan dan bukan lagi dianggap kenakalan remaja biasa.

Barang bukti sarung yang digunakan remaja untuk melakukan perang sarung. (istimewa)
Barang bukti sarung yang digunakan remaja untuk melakukan perang sarung. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — “Perang sarung” marak dilakukan pada remaja saat Ramadan. Tawuran dengan menggunakan sarana sarung itu dapat mengganggu ketertiban umum.

Aksi tersebut semakin berbahaya jika pelakunya sengaja memasukkan batu, gir motor, besi, atau benda lain dalam buntalan sarung dengan tujuan untuk mencederai lawannya.

Pada Kamis (14/3/2024) malam, polisi mengamankan belasan remaja yang akan perang sarung di daerah Pudakpayung, Kota Semarang.

Sebelumnya pada Selasa (12/3/2024), seorang remaja menjadi korban pembacokan dalam perang sarung yang terjadi di Jalan Kawi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. 

 

Puluhan remaja yang hendak perang sarung di Tegal diamankan polisi dan dipertemukan dengan orang tuanya. (istimewa)
Puluhan remaja yang hendak perang sarung di Tegal diamankan polisi dan dipertemukan dengan orang tuanya. (istimewa)



Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Satake Bayu Setianto mengatakan, perang sarung yang kerap muncul di bulan puasa ini sangat meresahkan dan bukan lagi dianggap kenakalan remaja biasa.

“Perang sarung bukan lagi kenakalan biasa. Orang tua, guru dan perangkat desa akan dilibatkan untuk mengatasi fenomena ini dengan mengedepankan aspek pembinaan,” ujarnya.

Polda Jateng menegaskan tidak mentolerir aksi perang sarung dan akan memproses hukum bila terbukti menyalahi KUH Pidana.

Kabidhumaa menjelaskan, para pelaku tawuran perang sarung dapat dijerat dengan UU RI No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak sebagaimana dimaksud dalam pasal 76 C Pasal 80 ayat 1 dan 2.

Bisa juga dijerat Pasal 170 KUH Pidana tentang Pengeroyokan dengan ancaman hukuman penjara di atas 5 tahun penjara.

Bila aksi perang sarung berakibat pada meninggalnya orang lain, maka pelaku dapat dijerat dengan Pasal 338 KUHP, yang mempunyai ancaman hukuman penjara paling lama lima belas tahun.

“Bila ada pelaku yang betul-betul terbukti melakukan perbuatan pidana apalagi direncanakan, maka dia akan diproses hukum,” tandasnya. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar