in

Pemilik PT Arghento Terjerat Kredit Macet, Mitra Peternak Jadi Korban

Warga yang menjadi mitra usaha ternak ayam petelur harus kehilangan sertifikat karena kreditnya di bank macet.

SEMARANG (jatengtoday.com) — Pemilik PT Arghento Bogasari, Syahpardiyanto dan Joko Cinarito terjerat kasus korupsi usai mengakali pengajuan kredit di bank hingga angsurannya macet.

Awalnya, kedua terdakwa mencari orang yang mau dijadikan sebagai mitra usaha PT Arghento untuk mengajukan pinjaman kredit usaha rakyat.

Hingga akhirnya ada banyak warga Kabupaten Semarang yang tergiur. Mereka ditawari untuk menjadi pengusaha ayam petelur tanpa perlu mengeluarkan uang karena modalnya dipinjami bank.

Salah satu warga yang menjadi mitra, Muhammad Ridho mengaku tertarik karena syarat utamanya cukup menyiapkan lahan untuk lokasi ternak ayam. Kandangnya akan dibangun PT Arghento, termasuk ayamnya akan disuplai olehnya.

Ridho juga tidak perlu mengangsur kredit sendiri ke bank karena angsurannya akan diambilkan dari hasil penjualan telur. “Jadi terima bersih, semua yang ngelola PT Arghento,” ujarnya saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (6/7/2022).

Namun, setelah bisnis berjalan, jumlah ayam yang disuplai tidak sesuai kesepakatan awal, ayamnya tidak produktif, dan obat penawar bau kotoran hanya diberi sekali sehingga Ridho diprotes warga sekitar.

Bisnis ayam petelur itu pun mandek dalam waktu kurang dari 3 bulan. Sehingga, angsuran kredit di bank macet tak terbayar. Konsekuensinya, sertifikat tanah milik Ridho ditahan oleh bank.

Cerita serupa diungkapkan mitra lain yang bernama Syaifudin. Ia mengaku tertarik karena dijanjikan memperoleh gaji bersih Rp3 juta sampai Rp3,5 juta per bulan.

“Dulu yang kepingin ikut usaha ayam petelur ini, ayah saya. Sekarang nyesel. Ayah sampai mengalami gangguan jiwa, stres sertifikatnya hilang karena ditipu PT Arghento,” imbuhnya.

Mitra lain, Suyono menambahkan, warga yang ikut program ternak ayam petelur ini sebenarnya tidak tahu jika sertifikat tanahnya menjadi jaminan utang di bank. Mereka tahunya sertifikat diamankan PT Arghento.

“Sertifikat tanah disita bank. Padahal dulu katanya kalau (bisnis) tidak berjalan, janjinya sertifikat dikembalikan,” tuturnya.

Kasus dugaan korupsi ini terjadi lama. Bermula adanya perjanjian antara PT Arghento Bogasari dengan salah satu bank pemerintah dalam pemberian fasilitas kredit pembiayaan kepada mitra usaha.

Program ini berujung ruwet karena angsuran macet. Namun, kredit macet ini tidak hanya disebabkan dua orang pemilik PT Arghento, tetapi juga ada peran pihak bank yang bersekongkol meloloskan kredit meski tidak memenuhi syarat. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.