in

Di Balik Emansipasi Perempuan

Ditilik dari Indeks Pembangunan Gender (IPG) masih menyisakan ketimpangan pembangunan untuk perempuan, khususnya di Provinsi Jawa Tengah.

(Credit: Oksana Gorlun)

Kodrat seorang perempuan adalah hamil dan melahirkan anak, yang tidak bisa dilakukan laki-laki. Selebihnya semua yang dilakukan laki-laki, bisa dilakukan perempuan.

Saat ini perempuan masih berada pada situasi diskriminasi dalam pendidikan apalagi pekerjaan. Perempuan tidak bebas pergi di malam hari. Perempuan dipandang aneh pergi sendiri. Sebagian perempuan masih menjadi obyek yang harus menderita, seperti pada kasus kekerasan terhadap perempuan, perdagangan manusia. Kesempatan perempuan dalam menyalurkan aspirasinya melalui parlemen juga masih minim.

Diskiriminasi gender dalam berbagai hal kehidupan bermasyarakat menimbulkan perbedaan capaian yang bisa dinikmati oleh penduduk laki-laki. Di wilayah yang masih kental akan budaya patriarki, perempuan umumnya lebih tertinggal dari laki-laki baik di bidang kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Hal ini terjadi karena norma yang ada pada budaya patriarki seringkali merugikan perempuan dan menempatkannya sebagai “warga kelas dua.”

Patriarki ini yang membuat Kartini sosok pejuang perempuan Indonesia yang menginginkan emansipasi wanita. Pemikiran Kartini sangat sederhana dalam memperjuangkan kaumnya. Perempuan pada jaman dahulu sama tidak memiliki kesempatan luas dalam mengenyam pendidikan. Padahal perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Suramnya masa depan perempuan yang hanya dikungkung dalam rumah tanpa mempunyai hak berbicara apalagi berpendapat. Bahkan untuk perkembangan anaknya sendiri sekalipun.

Makna Perjuangan Kartini

Perjuangan Kartini melawan diskriminasi mendorong perempuan modern saat ini untuk berani melawan stereotip perempuan ujungnya jadi ibu rumah tangga saja. Semua perempuan tidak perlu ragu, karena sejatinya memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam mengejar mimpi dan cita-citanya mengenyam pendidikan tinggi.

Keinginan Kartini agar perempuan tidak selamanya dicap hanya akan berakhir di dapur dan mengurus rumah, membuka ruang penyetaraan bagi wanita modern bisa berkarya seperti para pria. Perempuan bebas berekspresi, mengutarakan mimpinya, mewujudkan ide-ide kreatifnya, menyalurkan bakat, membuat gerakan, menyuarakan hasil pemikirannya yang bermanfaat bagi sekitarnya.

Di era digital sekarang ini, perempuan bisa bekerja dengan berbagai bentuk dan cara yang beragam. Perempuan terdorong melawan stereotip melalui prestasi perempuan dalam ranah profesional kerja, mengembangkan potensi dalam diri, berkarir bukan sekadar mencari uang dan perekonomian, namun jadi teladan dan menjalankan hak asasi setiap orang. Perempuan modern ialah perempuan yang memiliki semangat juang tinggi, kepercayaan diri, yakin terhadap kemampuan yang dimiliknya, perempuan yang memiliki keinginan untuk memerdekakan dirinya, dan memiliki prinsip hidup yang kuat.

Bagi para ibu yang bekerja, berapapun waktunya, jelas tetap jadi ibu sepenuh waktu. Meski banyak tantangan, namun para ibu punya hak untuk memilih keduanya, bekerja dan ibu rumah tangga. Suatu pilihan untuk menjadi perempuan yang bebas dan mandiri tanpa kungkungan patriarki.

Bahkan untuk menjadi seorang ibu diperlukan kemampuan untuk mengawal tumbuh kembang anak. Bukan hanya sekedar melahirkan dan membesarkan tanpa ilmu. Di sini perlu pembangunan gender untuk meningkatkan kualitas perempuan.

Kehidupan Perempuan Jawa Tengah

Istilah “gender” sangat terkait dengan paradigma yang berlaku pada masyarakat, yaitu perbedaan fungsi dan peran antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut sering menimbulkan ketidakadilan, terutama terhadap kaum perempuan baik di lingkungan rumah tangga, pekerjaan, kehidupan bermasyarakat, maupun bernegara. Diskriminasi terhadap perempuan dalam kehidupan melalui praktik-praktik nilai-nilai budaya, sosial dan nilai-nilai kehidupan lainnya tidak dapat dihindari.

Selama ini peran publik dan domestik menjadi pembeda antara peran laki-laki dan perempuan di masyarakat. Laki-laki cenderung berperan dalam aktivitas publik, yaitu aktivitas yang dilakukan di luar rumah dan bertujuan mendapatkan pendapatan. Sedangkan perempuan lebih banyak dalam peran domestik, yaitu aktivitas yang dilakukan di dalam rumah, yaitu mengurus rumah tangga dan tidak dimaksudkan untuk mendapat pendapatan.

Kedua peran ini dapat menjelaskan perbedaan peran gender dalam masyarakat selama ini. Secara umum, perempuan lebih berperan secara domestik dibandingkan publik. Hal ini tidak terlepas dengan kodrat perempuan untuk mengurus rumah tangga. Sementara untuk mencari nafkah keluarga menjadi tanggung jawab laki-laki.

Banyak pandangan mengenai perempuan bahwa perempuan hanyalah pendamping hidup, bersifat lemah, selalu memakai perasaan, berpikiran sempit dan lain sebagainya. Disamping itu budaya patriarki yang masih kuat berkembang pada masyarakat Indonesia, terkadang menempatkan perempuan pada posisi nomor dua. Salah satunya adalah kurang diakuinya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan sehingga kepentingannya belum banyak terwakili. Hal ini juga berdampak pada ketidaksetaraan perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

Ditilik dari Indeks Pembangunan Gender (IPG) masih menyisakan ketimpangan pembangunan untuk perempuan khususnya di Provinsi Jawa Tengah.

  • Dari sisi pendidikan, rata-rata lama sekolah perempuan hanya sampai kelas 1 SMP sedangkan laki-laki mencapai kelas 2 SMP.
  • Pendapatan per kapita perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.
  • Nilai pengeluaran per kapita yang disesuaikan pada perempuan selalu jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.
  • Tahun 2021 tercatat pengeluaran per kapita perempuan sebesar 9,8 juta sedangkan laki 15,23 juta.

Rendahnya capaian perempuan dalam ekonomi salah satunya dipengaruhi oleh keterbatasan perempuan dalam memasuki pasar tenaga kerja di lapangan usaha tertentu yang lebih banyak membutuhkan tenaga kerja laki-laki seperti pada pertambangan dan penggalian, listrik, gas dan air, serta transportasi. Lapangan usaha yang masih didominasi oleh laki-laki tersebut memiliki tingkat produktivitas yang relatif tinggi dibandingkan lapangan usaha lainnya.

Kebijakan Pemerintah

Kesetaraan gender (gender equity) lebih dimaknai sebagai kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia dalam berperan dan berpartisipasi di segala bidang.

Sementara, keadilan gender (gender equality) merupakan proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki, sehingga dalam menjalankan kehidupan bernegara dan bermasyarakat, tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

Untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender harus dihilangkan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam memperoleh akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Perempuan akan memiliki peluang dan kesempatan dalam menggunakan sumber daya dan mempunyai akses untuk mengambil keputusan untuk menggunakan sumber daya tersebut.

Berbagai kebijakan diambil pemerintah untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender, diantaranya ditetapkan melalui GBHN 1999, UU Nomor 25 Tahun 2000 tentang Propenas 2000-2004, UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender. Diharapkan dengan upaya pemerintah yang didukung kesadaran dan partisispasi masyarakat, keadilan dan kesetaraan gender dapat tercapai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.