in

Mengintip 13 Tahun Perjuangan Buck, Brand Lokal Clothing Line Asal Semarang

Buck yang awalnya masih pada komunitas tertentu seperti skateboarding, musik, dan lainnya, kini telah berkembang ke arah fashion enthusiast.

SEMARANG (jatengtoday.com) – Brand clothing makin digandrungi berbagai kalangan. Clothing line pun kini makin dilirik untuk dijadikan ladang bisnis bagi sejumlah orang, hal ini ditandai dengan terus bermunculannya bisnis pakaian tersebut.

Founder Buck, Lintang Naresworo membagikan kisah awal mula merintis bisnis clothing line pada tahun 2011 lalu. Kala itu bisnis ini belum popular terutama di Kota Semarang, Ia menangkap peluang untuk mulai membuka toko dengan brand berkonsep clothing.

“Waktu itu memang brand lokal di Semarang belum banyak. Tahun 2010, saat SMA mau masuk kuliah, belum ada yang brandnya mengarah ke ‘skate’ banget atau musik banget. Lalu saya buka Buck Store, ini jadi semacam identitasnya,” kata Lintang berbagi kisah dirinya terinspirasi berbisnis clothing kepada Cerita Joni.

Cerita Joni merupakan kisah-kisah inspiratif pelaku UMKM di Indonesia yang tayang di kanal youtube jne_id. Bersama Host Donna Trisukma, Cerita Joni mengulik perjalanan Lintang dalam membangun Buck hingga eksis di lintas generasi.

Lintang bercerita, nama brand Buck sendiri diambil dari bahasa slang luar negeri, yang berarti receh $1. “Jadi waktu itu ngumpulin receh, lama-lama jadi gede, secara gampangnya gitu,” ungkapnya.

Perjalanan Buck selama 13 tahun ini, menurut Lintang telah membawa perubahan seiring berjalannya waktu. Terutama dari segmen market Buck, yang awalnya masih pada komunitas tertentu seperti skateboarding, musik, dan lainnya, kini telah berkembang ke arah fashion enthusiast.

“Fashion streetwear Semarang sudah umum banget, dan semua sudah ngerti,” kata Lintang.

Tantangan Perubahan Zaman

Meski segmen semakin luas, menurut Lintang tetap tak lepas dari tantangan-tantangan yang dihadapi. Terutama di tengah perubahan zaman, perubahan fashion juga sama berubahnya. Hal itu mendorongnya untuk terus berinovasi menghadirkan produk yang sesuai permintaan pasar.

“Dari regenerasi anak mudanya, misal dulu awal beli tahun 2010 dia umur 18 tahun. Tahun 2023, sudah tambah tua, jadi interest-nya udah nggak di situ lagi atau lifestyle-nya sudah berubah,” bebernya.

Kemudian pandemi yang berdampak cukup panjang ke berbagai sektor termasuk Buck. Namun Lintang tak habis akal, Ia memanfaatkan social media untuk menjangkau pelanggan secara online.

Melalui webstore http://buckstore-id.com/ dan akun instagram @buckstoreid Lintang tetap menjalankan penjualan secara online. JNE menjadi ekspedisi pilihan Lintang pada waktu itu karena sales counter JNE langgananya tetap buka meski pandemi. Hingga kini Lintang masih mempercayakan kirimannya pada JNE bahkan berkolaborasi untuk memberikan subsidi ongkir khusus pelanggan Buck.   

“Terakhir challenge paling susah adalah menjangkau generasi Z. Ketertarikan mereka ke offline store beda. Kalau ke offline store, sepertinya mereka musti punya story tertentu, harus cocok dengan dia banget,” ujarnya.

Sementara itu, Lintang juga mengungkap cara Buckstore bisa menggaet generasi Z. Yakni dengan menemui mereka langsung melalui acara-acara dan kumpul bersama.

“Dari situ kita bisa bikin engagement baru untuk merangkul mereka. Harapan semoga semua inovasi Buck bisa diterima generasi-generasi selanjutnya,” tandasnya. (*)

Ajie MH.