Dari konsolidasi besar-besaran seperti merger Time Warner dan AOL hingga dominasi digital Google dan Facebook, kekuatan ekonomi ini mengarahkan narasi dan memengaruhi demokrasi. Sementara media arus utama cenderung mengabaikan atau salah merepresentasikan masyarakat pedesaan dan kelas pekerja, algoritma internet memperkuat pandangan yang ada, menciptakan “filter bubble” yang memperdalam polarisasi. Di era ini, memahami bagaimana kekuasaan media bekerja adalah kunci untuk mempertahankan keragaman dan integritas informasi.
Dampak negatif dari konsentrasi kekuasaan media ini sangat nyata.
Pertama, ada penurunan dalam keberagaman suara dan pandangan. Ketika hanya segelintir perusahaan yang mengendalikan sebagian besar media, narasi yang disajikan cenderung seragam dan kurang mewakili berbagai perspektif yang ada di masyarakat.
Kedua, kualitas jurnalisme merosot karena tekanan untuk mengejar keuntungan dan rating. Ini sering kali mengarah pada liputan yang sensasional dan dangkal, alih-alih pelaporan yang mendalam dan investigatif.
Ketiga, independensi media menjadi terancam. Saat media bergantung pada iklan dan sponsor korporat, ada risiko konten yang dihasilkan menjadi bias demi kepentingan para sponsor tersebut. Keempat, polarisasi sosial semakin meningkat. Algoritma berbasis klik dan waktu tonton memperkuat pandangan yang sudah ada, menciptakan ruang gema yang memperdalam perpecahan sosial dan politik. Terakhir, pengawasan demokrasi melemah. Media seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang kekuasaan, tetapi ketika mereka sendiri menjadi bagian dari kekuasaan, kemampuan untuk mengkritisi dan mengawasi pemerintah dan korporasi besar berkurang.
Ini dia buku-buku yang bicara tentang ekonomi politik media.

Ekonomi Politik Komunikasi: Mengungkap Siapa yang Mengendalikan Media
Vincent Mosco, The Political Economy of Communication (London: SAGE Publications, 1996).
Mosco menemukan, struktur ekonomi dan kepemilikan media mempengaruhi konten media dan mempertahankan kekuasaan. Ekonomi politik, kepemilikan media, mengarahkan dan mengendalikan informasi.
Konglomerat media besar mengontrol sebagian besar berita dan informasi yang dikonsumsi publik.
Ketika perusahaan besar seperti Disney melakukan “konsolidasi”, akan berpengaruh terhadap keragaman konten.

Transformasi Global Media: Konsolidasi dan Dominasi Digital
Dwayne Winseck & Dal Yong Jin, The Political Economies of Media: The Transformation of the Global Media Industries (London: Bloomsbury Academic, 2011).
Konsolidasi yang masif dan dominasi oleh beberapa perusahaan besar telah mengubah lanskap media global, dengan digitalisasi memainkan peran penting dalam transformasi ini.
Data menunjukkan.. Tahun 2000, merger antara Time Warner dan AOL senilai $165 miliar menjadi salah satu contoh terbesar konsolidasi media. Tahun 2005, pendapatan iklan digital global mencapai $18 miliar, meningkat menjadi $118 miliar pada tahun 2010. Tahun 2010, perusahaan seperti Disney, Comcast, dan News Corp menguasai lebih dari 70% pasar media global.

Disconnect Digital: Bagaimana Kapitalisme Mengubah Internet Melawan Demokrasi
Robert McChesney, Digital Disconnect: How Capitalism is Turning the Internet Against Democracy (New York: The New Press, 2013).
Buku ini meneliti dampak kapitalisme terhadap demokrasi melalui internet.
Kapitalisme telah mengubah internet menjadi alat yang dapat membatasi demokrasi melalui dominasi pasar oleh beberapa perusahaan besar dan penggunaan algoritma yang memfilter informasi.
Pada tahun 2012, Google menguasai 67% pangsa pasar pencarian online di AS, sementara Facebook memiliki lebih dari 1 miliar pengguna aktif. Studi oleh Pew Research Center (2012) menunjukkan bahwa 30% orang Amerika mendapatkan berita dari Facebook. Tahun 2013, 62% situs berita utama di AS menggunakan model paywall, mengurangi akses gratis ke informasi.

Kontradiksi Kekuatan Media: Pengaruh Pemilik terhadap Konten
Des Freedman, The Contradictions of Media Power (London: Bloomsbury Academic, 2012).
Des Freedman meneliti pengaruh kekuasaan pemilik media terhadap konten media.
Kekuasaan pemilik media besar mempengaruhi konten yang disajikan, sering kali memprioritaskan kepentingan ekonomi pemilik dan mengurangi keberagaman suara di media.
Tahun 2012, lebih dari 200 surat kabar lokal di AS ditutup atau dikurangi stafnya karena tekanan ekonomi. Tahun 2013, Rupert Murdoch memiliki lebih dari 800 perusahaan media di lebih dari 50 negara melalui News Corp. Studi oleh Free Press (2014) menunjukkan bahwa lima perusahaan media terbesar di AS menguasai sekitar 90% pasar media.

Representasi Masyarakat Pedesaan dan Kelas Pekerja di Media
Sarah Smarsh, Heartland: A Memoir of Working Hard and Being Broke in the Richest Country on Earth (New York: Scribner, 2018).
Fokus penelitian Sarah Smarsh pada representasi media terhadap masyarakat pedesaan dan kelas pekerja di AS.
Temuan dalam buku ini: Media arus utama sering kali mengabaikan atau salah merepresentasikan masyarakat pedesaan dan kelas pekerja, yang berkontribusi pada perasaan keterasingan dan ketidakpercayaan terhadap media.
Survei Gallup (2017) menunjukkan bahwa 62% orang Amerika merasa media arus utama tidak mewakili mereka, terutama di wilayah pedesaan.
Studi oleh Columbia Journalism Review (2016) menemukan bahwa hanya 15% berita utama di media nasional AS yang membahas isu-isu pedesaan. Data dari US Census Bureau (2017) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di daerah pedesaan AS adalah 16%, dibandingkan dengan 12% di daerah perkotaan.

Kembalinya Partisipasi Publik dalam Narasi Media
Dan Hind, The Return of the Public (London: Verso Books, 2010).
Dan Hind meneliti kembalinya partisipasi publik dalam media dan narasi informasi.
Dominasi beberapa perusahaan besar dalam media mengurangi partisipasi publik dalam narasi informasi, sementara model bisnis berbasis iklan memperkuat ketergantungan pada konten yang menarik perhatian.
Setidaknya, data berikut ini relevan dengan penelitian tersebut. Pada tahun 2018, studi oleh Reuters Institute for the Study of Journalism menunjukkan bahwa 70% berita di media utama AS berasal dari lima perusahaan media besar. Survei Pew Research Center (2017) menemukan bahwa hanya 14% orang Amerika merasa mereka memiliki suara dalam media. Pada tahun 2018, 85% pendapatan Google berasal dari iklan, menunjukkan ketergantungan yang besar pada model bisnis ini.

Filter Bubble: Dampak Algoritma Internet terhadap Eksposur Informasi
Eli Pariser, The Filter Bubble: What the Internet is Hiding from You (New York: Penguin Press, 2011).
Eli Pariser meneliti dampak algoritma internet terhadap eksposur informasi. Orang cenderung melihat konten yang memperkuat pandangan mereka sendiri, mengurangi eksposur pada perspektif yang berbeda.
Algoritma yang digunakan oleh platform internet menciptakan “filter bubble” yang memperkuat pandangan yang sudah ada dan mengurangi eksposur terhadap pandangan yang berbeda, yang dapat meningkatkan polarisasi politik dan sosial.
Pada tahun 2011, Facebook dan Google mulai menggunakan algoritma yang menyesuaikan konten berdasarkan preferensi pengguna, yang mengarah ke fenomena “filter bubble”. Studi oleh Pew Research Center (2012) menunjukkan bahwa 64% orang Amerika merasa bahwa mereka lebih terpolarisasi secara politik dibandingkan 10 tahun sebelumnya.
Dan di sinilah kita, di titik di mana semua hal bertemu. Media bukan hanya tentang apa yang kita lihat atau baca, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk berpartisipasi di dalamnya. Setiap keputusan kecil, setiap klik, setiap langganan adalah bagian dari narasi besar yang kita ciptakan bersama. Ini bukan soal menjadi optimis atau pesimis, melainkan tentang menjadi sadar dan terlibat.
Kita memiliki kesempatan untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pencipta.
Siapa penguasa media di Indonesia? Bisa kita ulas di tulisan lain.
Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Bagaimana kamu akan mempengaruhi cerita yang sedang berkembang ini? Masa depan adalah kanvas kosong yang menunggu untuk diisi, dan kamu memegang kuasnya. [dm]