PEMILU Kamerun memicu badai protes, usia presiden jadi simbol stagnasi.
– Empat demonstran tewas ditembak di Douala, lebih dari 100 ditangkap.
– Biya menang 53,66 persen suara, lawan klaim kemenangan 54,8 persen.
– Tagar #BiyaMustGo tren di X dengan 100 ribu unggahan sejak Senin.
Kekerasan ini ingatkan urgensi reformasi di negara kaya sumber daya.
YAOUNDE-KAMERUN – Pada 27 Oktober 2025, Dewan Konstitusi Kamerun mengumumkan kemenangan Presiden Paul Biya yang berusia 92 tahun dalam pemilu presiden 12 Oktober, dengan perolehan 53,66 persen suara dari total pemilih yang mencapai 6,5 juta orang, mengalahkan pesaing utama Issa Tchiroma Bakary dari Front Penyelamatan Nasional Kamerun yang mengklaim 54,8 persen berdasarkan hitung cepat partainya, sehingga memicu gelombang protes massal di kota-kota besar seperti Douala, Yaounde, dan Garoua di mana ratusan pendukung oposisi membakar ban dan mendirikan barikade untuk menuntut hasil kredibel.
Pengumuman di ibu kota Yaounde ini datang setelah ketegangan memuncak sejak akhir pekan, dengan bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan yang menewaskan empat orang di Douala pada Minggu malam melalui tembakan polisi, sementara lebih dari 100 orang ditangkap di berbagai wilayah termasuk Maroua di utara yang jadi basis kuat Tchiroma, di mana kemarahan warga muda berusia 18-35 tahun—yang membentuk 70 persen populasi—meledak karena merasa pemilu dicuri melalui manipulasi kotak suara dan intimidasi pemilih.
Protes ini dimulai sejak 21 Oktober ketika media lokal melaporkan hasil awal yang menguntungkan Biya, meskipun turnout pemilu hanya 53 persen di wilayah barat laut dan barat daya yang dilanda konflik separatis, di mana warga boikot massal karena menolak ikut serta dalam sistem yang mereka anggap korup. Di Douala, pusat ekonomi, ribuan pemuda membanjiri jalan utama sambil meneriakkan slogan “Biya Must Go” dan membakar potret presiden, sementara di Yaounde polisi antihuru-hara menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan kerumunan yang mencapai 5.000 orang, dengan video amatir yang menyebar di TikTok dan X menunjukkan pemuda melempar batu ke kendaraan polisi.
Issa Tchiroma Bakary, mantan sekutu Biya yang berpaling menjadi oposisi pada awal 2025, menggelar konferensi pers darurat di Paris pada 25 Oktober untuk menegaskan klaim kemenangannya berdasarkan 1.000 pengamat partai, menyatakan, “Ini bukan kemenangan Biya, tapi pencurian demokrasi; rakyat Kamerun sudah muak dengan dinasti yang membuat kami miskin di tengah kekayaan minyak dan kakao.” Sementara itu, Paul Biya merespons melalui pernyataan di X pada malam pengumuman, mengatakan, “Saya ucapkan terima kasih kepada rakyat yang mempercayai saya lagi, dan saya prihatin dengan nyawa yang hilang akibat kekerasan pasca-pemilu ini; mari kita jaga perdamaian.”
Kemarahan warga Kamerun ini bukan sekadar reaksi terhadap usia Biya—yang membuatnya pemimpin tertua dunia sejak 1982—tapi juga simbol kegagalan sistem di mana pemuda lahir dan besar di bawah satu wajah presiden yang jarang muncul, hanya hadir di satu rapat kampanye pada 7 Oktober di Maroua untuk berjanji “masa depan terbaik masih menanti”. Di Maroua, basis Tchiroma, protes berubah pribadi ketika warga membakar plakat Biya sambil berteriak soal pengangguran pemuda yang mencapai 40 persen, dengan seorang demonstran berusia 22 tahun, Tembe Ophilia Enjoh, berbagi di BBC, “Saya lahir dan tumbuh tahu Biya sebagai presiden; 43 tahun berkuasa tak ubah apa-apa, lulusan seperti saya tak punya pekerjaan dari jurusan kuliah, apa lagi tujuh tahun lagi dengan pria 92 tahun yang tak aktif?”
Francois Conradie, ekonom politik utama Oxford Economics, memperingatkan dalam wawancara Reuters, “Kami perkirakan kerusuhan membesar karena rakyat Kamerun tolak hasil resmi ini, dan pemerintahan Biya tak bertahan lama; usia lanjutnya tambah ketidakpastian.” Data kuantitatif dari Komisi Pemilu Kamerun (Elecam) tunjukkan Biya kuasai 68,7 persen suara di wilayah barat laut meski boikot luas, sementara fakta menarik ungkap bahwa sejak 2008, amandemen konstitusi hapus batas masa jabatan presiden, memungkinkan Biya berkuasa hingga hampir usia 100 tahun. Kalimat pendek: Kemarahan membara. Variasi panjang: Dengan penangkapan tokoh oposisi dan pemblokiran internet di wilayah protes, pemerintah Biya perketat cengkeraman, meskipun tuntutan reformasi dari pemuda yang haus perubahan terus bergema. Di tengah euforia kemenangan yang diragukan, gelombang ini bisa picu perubahan tak terduga yang bentuk ulang politik Kamerun.
Kondisi Kamerun yang membuat warga Indonesia keheranan terletak pada paradoks kekayaan alam versus kemiskinan struktural, di mana negara ini menghasilkan minyak mentah senilai US$3 miliar per tahun dan kakao sebagai pemasok terbesar dunia ke-5 dengan ekspor 250 ribu ton tahunan, namun 40 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan Rp5 juta per bulan, dengan indeks korupsi Transparency International peringkat 140 dari 180 negara, lebih buruk dari rata-rata Afrika Sub-Sahara.
Warga Indonesia, yang biasa lihat pemimpin berganti setiap lima tahun melalui pemilu multipartai kompetitif meski tak sempurna, pasti tercengang melihat Biya berkuasa 43 tahun tanpa rotasi kekuasaan, di mana oposisi sering ditahan dan media dibungkam, kontras dengan dinamika politik kita yang penuh debat terbuka; tambah lagi, konflik separatis di wilayah berbahasa Inggris sejak 2016 telah bunuh lebih dari 6.000 orang dan geser 700 ribu pengungsi, sementara Biya jarang hadir di negeri sendiri—sering libur panjang di Swiss—buat pemimpin terlihat seperti hantu yang tak peduli nasib rakyat, sesuatu yang sulit dibayangkan di Indonesia di mana presiden harus hadir di setiap isu krusial seperti bencana atau ekonomi. [dm]
