in

Inflasi di Jateng Naik Tipis pada Februari 2022

Penyumbang deflasi adalah komoditas minyak goreng, yakni sebesar -0,1306 persen.

Kepala BPS Jateng, Adhi Wiriana merinci penyumbang inflasi dan deflasi di Jateng sepanjang Februari 2022. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Data dari Badan Pusat Statitistik (BPS) menyebut, terjadi inflasi di Jateng sebesar 0,01 persen pada Februari 2022.  Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,77.

Kepala BPS Jateng, Adhi Wiriana mengatakan, dari enam kota IHK di Jateng, lima kota mengalami inflasi, dan satu kota mengalami deflasi.

Inflasi itu terjadi di lima kota/kabupaten yaitu di Cilacap 0,07 persen, Purwokerto 0,03 persen, Kudus 0,06 persen, Surakarta 0,32, dan Tegal 0,19. Sedangkan Kota Semarang terjadi deflasi sekitar -0,08 persen.

“Walaupun terjadi inflasi, tetapi secara year on year dari Februari 2021 ke Februari 2022, pertumbuhan inflasi hanya 1,75 persen,” kata Adhi dalam siarannya melalui kanal resmi BPS Jateng, Selasa (1/3/2022).

Ditambahkan, dari 11 kelompok komoditas inflasi kelihatan hanya makanan, minuman, tembakau yang terjadi deflasi, di mana andilnya -0,27 persen, sedangkan inflasinya -1,09 persen.

Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencapai 1,27 persen.

Dengan kenaikan harga emas perhiasan yang turut berperan memengaruhi inflasi kelompok ini.

Penyumbang Inflasi

Adapun lima penyumbang inflasi terbesar, kata Adhi, berasal dari kenaikan harga mobil.

Hal itu, karena pemerintah mencabut diskon terkait dengan PPNBM pemilikan harga mobil untuk beberapa komoditas mobil.

“Ini menjadikan terjadinya inflasi untuk harga mobil 0,0656 persen,” bebernya.

Penyumbang inflasi lainnya, menurut Adhi, adalah bawang merah. Komoditas ini menyumbang inflasi 0,0500 persen; cabai merah 0,0235 persen, sabun deterjen bubuk atau cair 0,0213 persen, dan sabun mandi 0,0162 persen

Sementara penyumbang deflasi adalah komoditas minyak goreng -0,1306 persen, telur ayam ras -0,1032 persen, daging ayam ras 0,0800 persen, cabai rawit -0,0294 persen, dan jeruk -0,0202 persen.

Dia menjelaskan, BPS juga mencatat nilai tukar petani (NTP) di Jateng terjadi penurunan dari 103,18 menjadi 102,83 atau turun -0,34 persen dibandingkan Januari 2022. Subsektor yang mengalami penurunan NTP seperti subsektor tanaman pangan -1,54 persen dan subsektor peternakan -1,05 persen. Namun, sejumlah subsektor mengalami kenaikan NTP, yakni subsektor hortikultura 1,95 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat 0,24 persen, dan subsektor perikanan 0,05 persen.

Perkambangan Wisatawan di Jateng

Mengingat masih pandemi Covid-19, BPS mencatat, perkembangan pariwisata di Jateng, pada Januari 2022 tidak ada wisatawan mancanegara yang berkunjung sama sekali. Baik melalui Bandara Ahmad Yani Semarang maupun Bandara Adi Sumarmo Solo.

Sedangkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada Januari 2022 turun 11,00 poin dibandingkan Desember 2021. Namun jika dibandingkan Januari 2021 naik 14,65 poin.

“Rata-rata lama menginap (RLM) tamu hotel bintang pada bulan Januari 2022 tercatat sebesar 1,35 malam, mengalami penurunan sebesar 0,02 poin dibanding bulan Desember 2021 yang tercatat sebesar 1,37 malam,” bebernya.

Adhi juga menuturkan, jumlah keberangkatan (embarkasi) penumpang angkutan udara komersial dari Jateng pada Januari 2022 secara keseluruhan sebanyak 80.532 orang, turun 6,72 persen dibanding Desember 2021 yang tercatat sebanyak 86.335 orang.

“Jumlah  kedatangan (debarkasi) penumpang angkutan udara komersial ke Jawa Tengah pada Januari 2022 secara keseluruhan berjumlah 80.474 orang, turun 5,14 persen dibanding bulan sebelumnya yang sebanyak 84.834 orang,” jelasnya.

Sementara, jumlah keberangkatan penumpang angkutan laut secara keseluruhan melalui Pelabuhan Laut Tanjung Emas Semarang, Pelabuhan Jepara dan Karimunjawa pada Januari 2022 sebanyak 17.977 orang, atau naik 13,93 persen dibandingkan Desember 2021 yang berjumlah 15.779 orang.

Sedangkan jumlah  kedatangan penumpang angkutan laut Januari 2022 tercatat sebanyak 14.635 orang, naik 0,21 persen dibandingkan Desember 2021 yang sebanyak 14.605 orang.

Ekspor Naik 39,06 Persen

Dia menambahkan, nilai ekspor Jateng pada Januari 2022 sebesar 1.051,54 juta dolar AS atau turun 0,85 persen dibanding ekspor pada Desember 2021. Namun jika dibandingkan dengan ekspor Januari 2021 naik sebesar 39,06 persen.

Di lain sisi, nilai impor Jawa Tengah pada Januari 2022 sebesar 1.025,01 juta dolar AS atau turun 21,38 persen dibanding impor pada Desember 2021.

“Jika dibandingkan dengan nilai impor Januari 2021, naik sebesar 16,51 persen,” bebernya.

BPS Jateng juga mencatat, luas panen padi pada 2021 mencapai sekitar 1,70 juta hektare, atau naik 29,78 ribu hektare atau 1,79 persen dibandingkan 2020. Dengan, produksi padi 2021 sebesar 9,62 juta ton gabah kering giling (GKG), naik 129,49 ribu ton GKG atau 1,36 persen dibandingkan 2020 yang sebesar 9,49 juta ton GKG.

“Produksi beras 2021 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 5,53 juta ton, naik 74,47 ribu ton atau 1,36 persen dibandingkan produksi beras 2020,” jelasnya. (*)

Ajie MH.