in

Hati-Hati, Kemarau Panjang Nanti bisa Picu Inflasi

SEMARANG (jatengtoday.com) – Musim kemarau yang diperkirakan akan cukup panjang dengan puncak kemarau pada Agustus mendatang mesti diwaspadai sebagai salah satu pemicu inflasi. Musim kemarau tersebut akan menghambat produksi beras petani yang masih banyak mengandalkan sistem tadah hujan. Sedangkan saat memasuki musim penghujan akan mengganggu produksi tanaman hortikultura.

“Ramalan BMKG diperkirakan cukup panjang dan puncaknya pada Agustus. Ini akan berakibat pada pengurangan produksi beras. Asal tidak banyak itu wajar, tapi harus segera diantisipasi dengan membuat embung,” jelasnya, Sabtu (21/7).

Diakui, antisipasi kemarau panjang tersebut sudah dilakukan dengan program 1.000 embung sejak akhir 2017 silam. Jumlah itu sudah terealisasi. Bahkan totalnya sudah lebih dari 1.000 embung yang tersebar di Jateng.

Meski demikian, Bulog juga diminta untuk bisa menyerap produksi beras petani sebanyak-banyaknya dalam pengadaan stok beras dalam negeri.

Dijelaskan, selain kekeringan, biaya pendidikan akan menjadi pemicu utama inflasi lainnya, mengingat Juli ini bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru dan penerimaan mahasiswa baru PTN atau PTS. Inflasi untuk semester II 2018, lanjut Sekda, juga akan dipicu biaya angkutan khususnya udara lantaran bertepatan pada saat musim liburan.

“Bulan Juli ini ada anggaran khusus yang dikeluarkan oleh warga, seperti biaya pendidikan, biaya angkutan setelah liburan panjang. Itu juga bisa memicu inflasi,” bebernya.

Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jateng ini mengatakan selain dari sisi produksi, permasalahan inflasi juga datang dari sistem distribusi dan manajemen stok yang harus segera dibenahi. Karena itu, perlu dibuat sistem yang bisa memantau ketersedian pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, sehingga tidak terjadi penyelewengan dan penimbunan yang dapat mempengaruhi harga pasar. Di samping itu, dengan sistem yang terpadu ini kekurangan stok pangan di daerah lain dapat segera didistribusikan, agar tidak ada penumpukan di gudang.

Sementara itu, Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Jateng, Rahmat Dwisaputra menyampaikan dalam upaya pengendalian inflasi, pihaknya berencana membuat Rice Market Center (RMC) dan Chili Market Center (CMC). Fungsinya, untuk mempertemukan supply dan demand komoditi strategis yang dapat menytabilkan harga baik di tingkat produsen maupun konsumen.

“Market center itu nantinya juga akan memangkas panjangnya rantai distribusi yang selama ini (masih) panjang, memberikan jaminan pasar bagi petani dan penggilingan, dan data stok valid untuk pengambilan kebijakan,” terangnya.

Dari datanya, inflasi Jateng pada Juni 2018 tercatat 2,72 persen (yoy). Daging ayam ras dan bawang merah menjadi komoditas yang sering muncul sebagai pemicu inflasi. Sementara untuk komoditas strategis, seperti beras, minyak goreng, gula, dan daging sapi terpantau stabil.

Komoditas yang mengalami harga tertinggi jauh melebihi harga eceran tertinggi (HET) adalah daging ayam ras dan telur. Harga daging ayam ras sejak sebelum Lebaran hingga saat ini masih berada pada posisi harga tinggi. Sedangkan harga telur meski sempat turun pasca Lebaran kembali meningkat hingga saat ini dikisaran Rp 25.000-Rp 30.000, padahal HET telur sekitar Rp 22.000. (ajie mh)

Editor: Ismu Puruhito