in

Ganti Rugi Lahan Proyek Tol Yogya-Bawen Cair, Tuminah Kantongi Rp 2,6 Miliar

Tanah milik Tuminah yang terkena proyek tol sekira 400 meter persegi.

UNGARAN (jatengtoday.com) – Tuminah, warga Desa Kandangsn Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang mendapat Rp 2,6 miliar. Uang itu merupakan bentuk ganti rugi pembebasanan lahan proyek tol Yogya-Bawen.

Dia menjadi salah satu warga yang mendapat uang ganti rugi untuk proyek pembangunan jalan tol Yogya-Bawen.

“Ya tidak menyangka bisa dapat uang banyak, apalagi sampai miliaran. Dulu tidak kepikiran jual tanah, ternyata ada proyek ini dan kena tol, akhirnya ya manut saja,” ujarnya, Rabu (10/5/2023) di Balai Desa Kandangan.

Tanah milik Tuminah yang terkena proyek tol sekira 400 meter per segi. “Ya nanti rencana dibelikan tanah lagi, buat sawah dan rumah. Pindah rumah juga tidak terlalu jauh, saya ikhlas untuk pemerintah,” ungkapnya.

Sementara Widyawati, menerima Rp 1,3 miliar untuk pengganti tanah seluas 230 meter per segi. “Prosesnya cepat, saya ikuti alur saja. Nanti rencana mau cari tanah pengganti, biar bisa untuk kerja. Ditabung juga buat sekolah anak-anak, semoga sampai sarjana,” paparnya.

Sementara Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Hadi Tjahjanto mengatakan di Desa Kandangan Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang, ada 50 bidang tanah yang terkena proyek strategis nasional pembangunan tol Yogya-Bawen tahap dua.

“Mereka rata-rata menerima Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar, gunakan uangnya dengan baik, untuk produktif. Belikan tanah lagi,” ungkapnya.

“Terima kasih masyarakat yang sudah mendukung program pemerintah, kamu mendukung kelancaran proses pembebasan tanah. Selesaikan semua tanpa ada masalah, semua berjalan baik dan masyarakat senang,” kata Hadi.

Dia mengungkapkan, kebanyakan masyarakat merasa ikhlas dan me dukung pembangunan jalan tol karena uang ganti yang diterima lebih banyak daripada saat membeli atau membangun.

“Jadi memang ini tujuannya untuk kemakmuran masyarakat,” tegasnya.

Hadi secara khusus juga meminta masyarakat mewaspadai calo tanah yang bergentayangan di sekitar proyek tol.

“Kita memang memiliki tim identifikasi, harga melalui appraisal sehingga calo tidak bisa masuk dan penyelesaian masalah menjadi lebih mudah. Kalau ada sengketa kita titipkan ke pengadilan untuk konsinyasi, tidak lama pasti selesai,” papar Hadi.

Menurutnya, permasalahan tanah pengadaan tol pasti bisa selesai dengan komunikasi dan mediasi.

“Kasus tol Semarang-Demak sudah selesai baik, ini juga bisa menjadi yuresprudensi agar menjadi contoh dan selesai,” ungkapnya. (*)

Ajie MH.