in

Begini Rencana Pembangunan Underpass Simpang Lima Semarang

SEMARANG (jatengtoday.com) – Pusat keramaian yang menjadi jantung kota, Simpang Lima Semarang, bakal dirombak total. Mega proyek ini diberi nama pusat perbelanjaan bawah tanah dan Underpass Simpang Lima Semarang.

Mimpi besar tersebut sebetulnya telah dicanangkan sejak 1997-1998 silam, yakni di masa pemerintahan Wali Kota Semarang Soetrisno Suharto (almarhum). Saat ini, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kembali mengangkat gagasan tersebut dan berjanji untuk merealisasikannya.

Simpang Lima Semarang bakal dirombak, dengan dibangun jalan underpass. Di bawah lapangan terdapat bangunan bawah tanah sebagai pusat perbelanjaan dan areal parkir. Saat ini masih terus dilakukan pematangan.

“Harapannya, selain untuk solusi kemacetan, pusat perbelanjaan bawah tanah dan Underpass Simpang Lima Semarang akan mampu mendongkrak dari segi ekonomi,” kata Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi, Kamis (21/6).

Tampaknya, Hendi serius mewujudkan gagasan besar tersebut. Tidak hanya itu, juga akan dibangun infrastruktur transportasi umum sistem Light Rail Transit (LRT) dari Bandara International Ahmad Yani Semarang menuju ke Simpang Lima Semarang. Tentu saja, jika rencana tersebut terealisasi akan menambah Kota Lumpia semakin apik.

Pihaknya mengaku telah melibatkan sejumlah akademisi dan pakar tata ruang kota yang tergabung dalam Dewan Pertimbangan dan Pembangunan Kota (DP2K) untuk melakukan kajian lebih lanjut. “Kami minta masukan DP2K untuk bisa dikoreksi,” katanya.

Dikatakannya, kawasan Simpang Lima akan dilakukan penataan dan dijadikan kompleks pusat perbelanjaan PKL Underground. Di bawah tanah dan Underpass Simpang Lima Semarang memiliki empat bagian. Tiga di antaranya adalah basement sedalam 13 meter dalam mega proyek underpass Simpang Lima, yakni ruang PKL, parkir dan pusat pertokoan.

“Di bagian atas Simpang Lima terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk publik,” katanya.

Sedangkan di kedalaman 9 meter terdapat basement 2 yang merupakan jalur underpass dari Jalan Pahlawan menuju ke Jalan Gajahmada. Sementara di basement 1 merupakan jalur underpass dari Jalan Pandanaran, dengan titik di Toko Merbabu menuju ke Jalan Ahmad Yani dengan titik di Kantor RRI.

“Di ruang publik hijau paling atas sendiri akan dijadikan dua sisi ruas jalan. Salah satunya untuk dilalui motor sebagai jalur lambat dan lokasi kawasan ruang terbuka hijau. Satu ruasnya akan dipasang bebatuan,” katanya.

secara ekonomis, katanya, PKL dan masyarakat yang berdagang seputar Simpang Lima akan bisa terlokalisasi. Sendi-sendi ekonomi bakal bergeliat. “Setiap pembangunan dilakukan kajian secara matang agar jangan sampai pembangunan tidak membawa asas manfaat bagi warga,” katanya.

Untuk itu, Hendi memastikan proyek Underpass Simpang Lima Kota Semarang akan bermanfaat bagi banyak warga Kota Semarang. “DP2K kami libatkan untuk melakukan evaluasi, menilai dan memberikan masukan terkait proyek yang akan dilaksanakan tersebut,” katanya.

Sementara itu, pakar Hidrologi dari Undip, Dr Ir Nelwan Dipl HE mengatakan, gagasan Underpass Simpang Lima tersebut bagus sekali. Tetapi, dulu, sejak dicetuskan 1997-1998 silam, yakni masa pemerintahan Wali Kota Semarang Soetrisno Soeharto (almarhum), pernah dilakukan study analisis oleh investor dari Perancis.

Tampaknya, kata dia, kala itu rencana pembangunan bawah tanah di kawasan Simpang Lima Semarang tersebut dinilai tidak ‘feasible’ secara ekonomi atau tidak layak. Sehingga akhirnya dibatalkan. Investor dari Perancis menilai kawasan Simpang Lima Semarang belum layak.

“Perlu dikaji apakah investasi di Semarang, khususnya di kawasan Simpang Lima, apakah sudah ‘feasible’ secara ekonomi? Kalau hanya misalnya gedung lima lantai bawah tanah hanya untuk menampung pedagang kaki lima (PKL) tahu petis, tentu itu tidak ‘cucuk’, seharusnya PKL jual tahu emas,” ujarnya.

Namun demikian, ia melihat ini sebagai rencana besar dan mengagumkan. Tetapi konsekuensinya memerlukan biaya sangat tinggi, sekaligus operasional dan pemeliharaannya membutuhkan biaya sangat tinggi. “Mengatasi rembesan air tanah, limpasan air hujan harus ada teknologi pompa, sistem atau mesin yang dirancang untuk menstabilkan suhu udara dan kelembaban area, listrik, juga tidak boleh mati. Kalau salah mengelola bisa berbahaya,” katanya.

Ia meminta agar dilakukan kajian mendalam. Jangan sampai ide tersebut hanya penuh nafsu tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Setiap toko di lokasi tersebut akan membutuhkan biaya sewa tinggi, karena biaya pembuatannya, operasional, perawatan, dan keamanannya membutuhkan biaya tinggi pula.

“Sistem drainase harus dilakukan kajian secara mendalam. Sebab berkaitan dengan keselamatan manusia. Jika salah kelola, gedung bawah tanah bisa menelan banyak korban,” katanya. (abdul mughis)

editor : ricky fitriyanto

Abdul Mughis