in

Aset Senilai Rp100 M Diklaim Orang Lain, Hari Mulyono Menggugat ke Pengadilan

Asetnya hanya dijual Rp50 miliar oleh pengutang tanpa sepengetahuan dan persetujuan Hari Mulyono selaku pemilik.

Hari Mulyono (bertopi) didampingi kuasa hukumnya usai mengikuti sidang pembacaan gugatan di PN Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)
Hari Mulyono (bertopi) didampingi kuasa hukumnya usai mengikuti sidang pembacaan gugatan di PN Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Pengusaha jasa konstruksi dari Semarang, Hari Mulyono mencari keadilan dengan mengajukan gugatan untuk memperjuangkan aset yang diklaim orang lain.

Aset yang ia perjuangkan berupa tanah seluas 12.331 meter persegi yang di atasnya berdiri belasan gudang dan kantor di Jalan Arteri Soekarno-Hatta Kota Semarang. Nilainya sekitar Rp100 miliar.

“Aset saya seharga hampir Rp100 miliar itu dijual sama orang yang mengutangi saya dengan bunga tinggi,” cerita Hari usai menjalani sidang pembacaan gugatan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (20/6/2024).

Pengutang yang saat ini sebagai tergugat, menjual aset Hari hanya seharga Rp50 miliar dan dilaporkan ke pajak Rp25 miliar.

“Itu pun NPWP dibayar atas nama saya tanpa seizin saya. Artinya saya sudah dirugikan uang, ditambah dirugikan di pajak,” keluh Hari.

Masalahnya berawal pada akhir 2018 saat Hari meminjam uang Rp17 miliar untuk melunasi utang bank. Hari meminjam kepada Sutrimo Yusuf dan Sugiarto dengan menjaminkan tanah dan bangunan miliknya.

Dua tahun berjalan, pada 2020 terjadi kesepakatan bahwa Heri wajib mengembalikan utang berikut bunganya dengan total Rp27 miliar. Setelah uang disiapkan Heri pada 2022, pengutang justru tak mau menemuinya.

“Ternyata saat itu aset saya sudah dalam proses balik nama,” keluhnya.

Mengetahui kejadian tersebut, Hari bergegas memblokir. Namun, proses balik nama tetap berjalan karena pengutang mengerahkan ormas untuk menekan notaris dan BPN. Hingga akhirnya pengutang berhasil menjual aset tersebut.

Kuasa hukum Hari, Untung Haryanto menjelaskan, mediasi antara kliennya dengan para tergugat telah gagal. Kini sidang memasuki tahap pembacaan surat gugatan di PN Semarang.

“Pokok gugatan adalah perbuatan melawan hukum, fokusnya adalah terhadap tergugat 1 (pengutang bernama Sutrimo Yusuf) yang telah menyalahgunakan aset klien saya,” tegas Untung.

Usai sidang, para tergugat menolak untuk diwawancarai. (*) 

editor : tri wuryono

Baihaqi Annizar