TAIPEI (jatengtoday.com) — Ketegangan di Selat Taiwan melibatkan China, Jepang, dan Amerika Serikat mencapai titik kritis pada akhir 2025, dengan potensi eskalasi militer yang mengkhawatirkan stabilitas regional. Konflik utama berpusat pada klaim China atas Taiwan sebagai wilayahnya yang tak terpisahkan, sementara Jepang semakin menghubungkan keamanan Taiwan dengan kepentingan nasionalnya, didukung aliansi pertahanan dengan AS.
Krisis ini bukan hanya diplomatik, tapi juga militer, dengan China meningkatkan latihan dan deployment untuk mencegah intervensi asing, sementara Jepang dan AS memperkuat postur defensif. Situasi ini mengingatkan pada risiko “permainan ayam” di kawasan Indo-Pasifik, di mana salah langkah bisa memicu konflik lebih luas.
Konflik Utama: Taiwan sebagai Garis Merah China
Inti konflik adalah status Taiwan, yang diklaim China sebagai provinsi pemberontak yang harus direunifikasi, bahkan dengan kekuatan militer jika diperlukan. China menolak segala intervensi asing, melihatnya sebagai pelanggaran kedaulatan.
Jepang, di bawah PM Sanae Takaichi—nasionalis hawkish terhadap China—semakin vokal menyatakan bahwa konflik di Taiwan bisa menjadi “situasi mengancam kelangsungan hidup” Jepang, memungkinkan aktivasi hak pertahanan kolektif berdasarkan undang-undang keamanan 2015.
Pernyataan ini dianggap China sebagai “garis merah” yang dilanggar, karena menyiratkan kemungkinan intervensi militer Jepang. AS, sebagai sekutu Jepang melalui Traktat Keamanan Mutual, mendukung stabilitas Selat Taiwan tanpa mendukung perubahan status quo secara sepihak, meski kebijakan Trump 2025 sedikit melunakkan bahasa terkait kemerdekaan Taiwan.
Kronologi Krisis 2025
Krisis meletus pada 7 November 2025, ketika PM Takaichi di parlemen Jepang menyatakan bahwa serangan China terhadap Taiwan bisa memicu respons militer Jepang sebagai “situasi mengancam kelangsungan hidup”. China langsung bereaksi keras, menuduh Jepang melanggar prinsip satu China dan mengancam akan membela diri jika Jepang intervensi.
Sepanjang November, China meningkatkan retorika: media negara membandingkan dengan invasi Jepang era Perang Dunia II, membatalkan acara budaya Jepang, dan menangguhkan impor makanan laut Jepang. Pada akhir November, China mengirim surat ke PBB memperingatkan hak bela diri jika Jepang berani intervensi.
Desember melihat eskalasi militer: China mengerahkan lebih dari 100 kapal perang dan coast guard di perairan Asia Timur, termasuk latihan di sekitar Okinawa. Insiden radar lock-on oleh jet China terhadap pesawat Jepang terjadi awal Desember, yang paling serius dalam bertahun-tahun. Carrier group Liaoning dan Fujian (carrier baru) transit Selat Taiwan dan sekitar Miyako Strait. AS dan Jepang respons dengan latihan bersama, termasuk bomber B-52 dan fighter F-35/F-15.
Perkembangan terbaru hingga 18 Desember: Carrier Fujian transit Selat Taiwan pada 16 Desember, pertama sejak masuk dinas. Taiwan dan Jepang menyuarakan kekhawatiran, sementara AS mengkritik insiden radar dan menegaskan komitmen aliansi dengan Jepang. Transits Selat Taiwan oleh delapan negara (termasuk AS, Inggris, Jepang) mencapai 12 kali hingga awal Desember, sebagai FONOP menantang klaim China atas selat sebagai perairan internal.
Perhitungan Kekuatan Militer di Selat Taiwan
Keseimbangan militer condong ke China dalam skenario lokal dekat Taiwan. PLA memiliki superioritas numerik: lebih dari 2.000 pesawat tempur modern (termasuk J-20 stealth), ratusan kapal perang termasuk tiga carrier, dan ribuan misil balistik/antikapal yang bisa menjangkau basis AS di Jepang (seperti Okinawa) dan Guam. China unggul dalam misil hipersonik dan A2/AD (anti-access/area denial), membuat intervensi sulit.
AS-Jepang unggul dalam teknologi: AS punya 11 carrier global, stealth fighter F-35 superior, dan jaringan aliansi. Jepang punya armada modern, basis di Okinawa dekat Taiwan, dan meningkatkan misil untuk pertahanan pulau barat daya. Dalam simulasi RAND/CSIS, tanpa basis Jepang, AS sulit menang; dengan Jepang, peluang lebih baik tapi mahal. Taiwan fokus asymmetric warfare: misil antikapal, drone, untuk memperlambat invasi China.
Perkembangan Terbaru dan Prospek
Hingga 18 Desember 2025, ketegangan belum mereda: China terus latihan, termasuk potensi “Strait Thunder-2025B”. AS-Jepang perkuat latihan bersama, dengan Trump mendukung Jepang tapi memperingatkan eskalasi. Krisis ini menandai shift Jepang dari pasifisme ke postur lebih aktif terhadap China, didorong kedekatan geografis dengan Taiwan (hanya 100 km dari Yonaguni). Risiko miscalculasi tinggi, tapi dialog masih terbuka meski sulit. Situasi ini menguji aliansi AS-Jepang di era Trump kedua, dengan implikasi luas bagi Indo-Pasifik. [dm]
