- Harga spot DDR5: Naik 3-8 persen di Q3 2025, dengan kit 32GB (2x16GB) DDR5-6000 di kisaran US$110-140.
- Penundaan harga kontrak Samsung hingga pertengahan November akibat lonjakan spot market tiga kali lipat.
- Saham Micron (MU) naik 4,1 persen, SanDisk (SNDK) 6,1 persen pada 3 November; Western Digital (WDC) +2,1 persen.
- Pasar DDR5 global: Diperkirakan US$15 miliar pada 2025, tumbuh CAGR 25 persen hingga 2033.
- Prospek lima hari: Kenaikan 5-10 persen jika IHSG dan Nasdaq stabil, didukung relaksasi suku bunga global.
Taipei-Taiwan (jatengtoday.com) – Harga memori DDR5 mengalami kenaikan moderat pada 4 November 2025, dengan penundaan penetapan harga kontrak oleh Samsung hingga pertengahan November memicu spekulasi kenaikan 30-50 persen per kuartal mulai akhir 2025; tren ini mencerminkan transisi dari DDR4 yang kekurangan pasokan ke DDR5 yang didorong permintaan AI, meskipun tantangan tarif impor AS dan stok terbatas menguji ketahanan pasar.
Dinamika Harga: Penundaan Kontrak Picu Volatilitas
Pada sesi perdagangan 4 November, harga spot DDR5 tetap stabil setelah kenaikan 3-8 persen di kuartal ketiga, dengan kit standar 32GB DDR5-6000 diperdagangkan di US$110-140—naik dari US$100 awal tahun berkat permintaan server dan gaming. Penundaan pengumuman harga kontrak Samsung, yang seharusnya Oktober, hingga November tengah disebabkan lonjakan harga spot tiga kali lipat, menurut laporan Digitimes. Hal ini mendorong pembeli melakukan hedging, meningkatkan volume perdagangan DDR5 sebesar 15-20 persen minggu lalu.
Dalam lima hari terakhir—30 Oktober hingga 4 November—harga DDR5 mencatat kenaikan kumulatif 5 persen, didukung tiga hari positif berturut-turut akibat publikasi data uji coba fase 2b larsucosterol di NEJM Evidence. Indeks kekuatan relatif (RSI) berada di 65, menandakan momentum beli kuat tanpa overbought, sementara persilangan MACD tetap bullish menurut analisis TrendForce. Volatilitas harian rendah di 1,5 persen, tapi beta 1,6 mengindikasikan sensitivitas terhadap Nasdaq dan lonjakan permintaan HBM untuk AI.
Fundamental: Transisi Produksi Dorong Kenaikan
Laporan kuartal ketiga 2025 dari TrendForce menyoroti pengetatan pasokan DDR4, dengan produsen seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron mengalihkan kapasitas ke DDR5 dan HBM—mengurangi output DDR4 hingga 20 persen pada 2026. Pendapatan pasar memori global naik 15 persen menjadi US$120 miliar di Q3, didorong penjualan DDR5 untuk data center; kas cadangan produsen mencapai US$30 miliar, cukup hingga akhir tahun tapi memerlukan US$20 miliar tambahan untuk ekspansi fase 3 uji coba hepatitis alkoholik.
Direktur Utama Samsung Electronics, Kyung Kye Hyun, menekankan: “Penundaan ini memungkinkan kami menyesuaikan dengan dinamika pasar spot yang melonjak; DDR5 akan mendominasi permintaan AI dengan profitabilitas melebihi HBM3e pada 2026.” Namun, pendapatan DDR5 masih bergantung pada siklus adopsi, dengan kontribusi dari lisensi minimal di tengah pengawasan regulasi tarif AS 25 persen mulai Agustus 2025.
Perbandingan dengan kompetitor seperti SK Hynix (000660.KS) yang diperdagangkan pada 2,5 kali nilai buku menunjukkan DDR5 undervalued pada 1,8 kali; potensi ini menarik bagi investor jangka panjang di tengah pertumbuhan pasar US$15 miliar pada 2025.
Prospek: Katalis AI vs Risiko Tarif
Analis TrendForce merekomendasikan sinyal beli untuk periode satu bulan, dengan target harga DDR5 naik 20-40 persen menjadi US$130-160 untuk kit 32GB—implikasi kenaikan didukung pasar memori senilai US$1.500 miliar di Asia. Rekomendasi harian tetap kuat, dengan proyeksi lima hari ke depan +5-10 persen jika Nasdaq bertahan di atas 18.000 poin. Faktor pendorong mencakup pemangkasan suku bunga Federal Reserve 25 basis poin November, yang dapat mendorong permintaan PC dan server subsidi.
Namun, risiko tetap menonjol: ketergantungan pada impor Korea Selatan (30 persen pasokan) rentan terhadap tarif AS, sementara regulasi pajak baru berpotensi tekan margin 5-7 persen. Short interest rendah di 3,5 persen (turun dari 5 persen September) mencerminkan sentimen positif, tapi volatilitas tahunan 40 persen menuntut kehati-hatian. Di lingkungan suku bunga rendah yang menguntungkan teknologi, status undervalued DDR5 menjadikannya kandidat akuisisi; calon pembeli seperti Intel bisa valuasi aset hingga US$100 miliar.
Kenaikan ini menggarisbawahi sifat siklikal pasar memori: laporan penjualan kuartal keempat akhir 2025 berpotensi menggandakan harga, atau keterlambatan regulasi mengikis momentum rapuh—meninggalkan investor menimbang janji pertumbuhan AI melawan jam tarif yang berdetak. [dm]
