Seperti iklan Canva di mana-mana, aplikasi ini ramah pengguna. Nenek-nenek saja bisa dengan mudah mendesain dengan Canva. Di update terbaru, Canva memperbarui Magic Studio; pengguna non-profesional, termasuk lansia, kini dapat menghasilkan konten berkualitas tanpa keahlian khusus.
Batasan privasi data dan biaya langganan premium memerlukan perhatian
Highlights
- Canva Design Model: Model fondasi AI yang dilatih pada elemen desain Canva, menghasilkan desain berlapis yang dapat diedit, mengurangi waktu pembuatan hingga 50 persen.
- Magic Video 2.0: Editor video AI yang menyinkronkan, memangkas, dan melapisi footage otomatis, cocok untuk konten sosial media pendek.
- Canva AI Assistant: Asisten chat terintegrasi di seluruh platform, dengan fitur @mention untuk saran edit; telah digunakan 16 miliar kali sejak 2023.
- Akses Gratis Affinity: Aplikasi desain profesional kini gratis untuk semua pengguna Canva, memungkinkan transisi mulus dari sketsa ke proyek kompleks.
- Data Connectors: Impor data dari HubSpot atau Google Analytics untuk visualisasi langsung, meningkatkan efisiensi tim pemasaran sebesar 30 persen.
SYDNEY, AUSTRALIA (jatengtoday.com) – Pada 30 Oktober 2025, Canva mengumumkan peluncuran terbesar sepanjang sejarahnya melalui Visual Suite 2.0, dengan fokus pada Canva Design Model—model AI fondasi yang dilatih secara eksklusif pada aset desain perusahaan untuk menghasilkan output berlapis yang benar-benar dapat diedit. Inovasi ini, yang diumumkan pada acara Canva Create, menandai pergeseran dari gambar generatif sederhana ke alat kreatif multimodal, di mana pengguna dapat memerintahkan AI untuk membangun desain lengkap dari prompt teks, lengkap dengan objek terpisah yang siap dimodifikasi. Bagi 230 juta pengguna global Canva, termasuk mereka yang baru mengenal desain, pembaruan ini menjanjikan aksesibilitas yang lebih tinggi, meskipun kekhawatiran tentang penggunaan data pelatihan menuntut transparansi lebih lanjut dari perusahaan.
Evolusi AI yang Mengubah Paradigma Desain
Canva Design Model mewakili lompatan signifikan dari model generatif konvensional seperti DALL-E atau Midjourney, yang sering menghasilkan gambar datar yang sulit diubah. Model ini, yang dikembangkan secara internal, memahami struktur desain—seperti hierarki lapisan, tipografi, dan komposisi—sehingga pengguna dapat memerintahkan, misalnya, “buat poster promosi acara keluarga dengan tema tropis, tambahkan teks editable di tengah.” Hasilnya: desain siap pakai dengan elemen terpisah, yang dapat disesuaikan tanpa memulai dari nol. Robert Kawalsky, kepala produk global Canva, menjelaskan kepada TechCrunch bahwa model ini “mengatasi tantangan visual dengan memungkinkan edit canggih melalui prompt, bukan sekadar gambar akhir yang kaku.”
Fitur pendukung seperti Magic Video 2.0 mempercepat produksi konten: AI menyinkronkan audio dengan klip, memangkas footage secara otomatis, dan menambahkan efek transisi berdasarkan deskripsi teks, ideal untuk pembuat konten pemula yang ingin menghasilkan video TikTok atau Instagram Reels dalam hitungan menit. Sementara itu, Canva AI Assistant—yang telah digunakan lebih dari 16 miliar kali sejak peluncurannya pada 2023—kini terintegrasi di setiap tab desain, elemen, dan bahkan komentar tim, memungkinkan pengguna menandai @Canva untuk saran instan seperti “perbaiki komposisi ini agar lebih menarik untuk audiens lansia.” Akses gratis ke Affinity, perangkat lunak desain profesional yang diakuisisi Canva, melengkapi ekosistem ini dengan alat vektor dan manipulasi gambar tingkat lanjut, yang kini dapat diekspor langsung ke Canva tanpa hambatan.
Aksesibilitas untuk Semua, Termasuk Nenek-nenek
Salah satu daya tarik terbesar Visual Suite 2.0 terletak pada kemudahannya, yang membuat Canva terasa seperti sahabat setia bagi siapa saja—termasuk nenek-nenek yang baru belajar berbagi cerita keluarga secara digital. Bayangkan seorang ibu rumah tangga berusia 70 tahun yang ingin membuat undangan ulang tahun cucu: cukup ketik “desain undangan sederhana dengan foto keluarga dan tema bunga,” dan Canva Design Model menghasilkan template lengkap dengan lapisan teks editable, gambar yang dapat diganti, dan efek animasi ringan. Tidak ada lagi kebingungan dengan toolbar rumit; AI menangani 80 persen pekerjaan awal, meninggalkan pengguna hanya untuk menyentuh-sentuh detail pribadi. Melanie Perkins, pendiri sekaligus CEO Canva, menekankan dalam pengumuman Canva Create bahwa “setiap fitur ini terinspirasi dari lebih dari satu juta ide komunitas kami—dari guru hingga pebisnis sampingan—untuk menjembatani kesenjangan antara produktivitas dan kreativitas.”
Bagi pengguna Canva sehari-hari, seperti pemasar atau freelancer, alat ini bukan sekadar kemudahan; ia menjadikan mereka lebih efisien dan inovatif. Data Connectors memungkinkan impor langsung dari Google Analytics untuk visualisasi grafik interaktif, menghemat waktu analisis hingga 30 persen. Canva Code, yang bekerja sama dengan Anthropic, memungkinkan pembuatan elemen interaktif seperti kalkulator kustom atau peta dinamis hanya dengan prompt, sehingga desainer non-programmer merasa seperti ahli teknologi. Hasilnya: pekerjaan selesai lebih cepat, kolaborasi tim lebih lancar, dan output yang dihasilkan terasa profesional—membuat pengguna merasa lebih percaya diri dalam menyajikan ide mereka.
Kekurangan dan Pertimbangan Penting
Meskipun revolusioner, Visual Suite 2.0 bukan tanpa cela.
Dukungan ekstensi masih terbatas dibandingkan Adobe Creative Cloud, terutama untuk proyek multimedia kompleks yang memerlukan integrasi mendalam dengan perangkat lunak eksternal.
Selain itu, ketergantungan pada prompt teks berisiko menghasilkan desain yang generik jika instruksi kurang spesifik, memaksa pengguna mengulang proses—suatu masalah yang sering dialami pemula. Lebih krusial lagi, banyak fitur AI premium, seperti akses tak terbatas ke Magic Studio, Canva AI Assistant penuh, dan elemen desain pro.
Tidak gratis sepenuhnya, tentu saja. Fitur ini memerlukan langganan Canva Pro (Rp200.000 per bulan atau Rp2.400.000 per tahun) atau Canva Teams (Rp150.000 per pengguna per bulan), yang membuatnya kurang terjangkau bagi pengguna kasual atau individu.
Versi gratis tetap menawarkan akses dasar ke Magic Studio dengan batasan (seperti 50 penggunaan AI per bulan), tetapi fitur canggih seperti Magic Video 2.0 penuh dan Data Connectors terbatas, yang sering menimbulkan frustrasi bagi tim kecil.
Canva belum merinci bagaimana data pengguna digunakan untuk melatih model AI-nya, termasuk apakah persetujuan eksplisit diperlukan; hal ini menimbulkan kekhawatiran privasi, terutama bagi pengguna korporat yang menangani data sensitif.
Pengguna disarankan untuk memeriksa pengaturan privasi secara rutin, membatasi unggahan data pribadi, dan memanfaatkan fitur audit AI untuk melacak perubahan. Di era di mana regulasi seperti GDPR semakin ketat, transparansi Canva akan menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan 230 juta penggunanya. Bagi yang ragu, mulai dengan versi gratis Affinity untuk menguji alur kerja sebelum terjun ke fitur AI penuh.
Peluncuran ini menegaskan posisi Canva sebagai leader di aplikasi desain untuk semua orang, di mana AI bukan pengganti kreativitas manusia, melainkan katalisator yang membuat setiap ide—sekecil apa pun—layak diwujudkan. Dengan Visual Suite 2.0, Canva tidak hanya menyederhanakan proses; ia memberdayakan pengguna untuk merasa seperti desainer ulung, siap menghadapi dunia konten yang tak pernah tidur. [dm]
