in

Karangtengah: Desa Wisata Budaya yang Bersiap Menyambut Masa Depan Digital

Komunitas Karya Budaya Rukun Santosa (KBRS) Kalimangli, pewaris seni kuda lumping sejak era 1960-an, menjadi roh pertunjukan budaya di Desa Karangtengah, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. (dok)

Penulis: Nabilla Putri Nastiti dan Meyrindey Simbolon

Di sebuah lembah hijau Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, berdiri sebuah desa yang tengah menapaki babak baru dalam sejarahnya. Namanya Desa Karangtengah. Tidak seperti desa-desa wisata yang langsung bermula dari paket-paket turisme modern, Karangtengah memilih jalur yang berbeda: bertumbuh dari budaya lokal, hidup dari semangat warganya, dan melangkah ke depan dengan hati-hati namun pasti.

Di Karangtengah, alam bukan hanya pemandangan, tetapi ruang belajar. Budaya bukan sekadar hiburan, tetapi sumber identitas. Dan teknologi bukan ancaman, melainkan alat yang tengah dirancang untuk memperluas jangkauan cita-cita kolektif.

Artikel ini membawa Anda menyelami denyut Karangtengah sebuah desa yang perlahan tapi pasti membangun diri sebagai destinasi wisata berbasis edukasi, budaya, dan kemandirian.

Alam, Budaya, dan Manusia: Tiga Pilar yang Menyatu di Karangtengah

Dihuni oleh hampir 5000 jiwa, Karangtengah merupakan desa dengan struktur sosial yang kuat: masyarakat usia produktif yang bekerja sebagai buruh, karyawan swasta, hingga wirausahawan. Namun lebih dari itu, Karangtengah memiliki modal sosial yang lebih berharga: kesadaran bersama bahwa desa mereka punya cerita untuk dibagikan.

Di antara sawah yang menghampar, embung yang tenang, hingga hutan kecil yang masih terjaga, Karangtengah membentuk ruang belajar terbuka yang cocok untuk wisata edukatif. Pengunjung, terutama anak-anak, bisa belajar langsung tentang pertanian tradisional, konservasi air, hingga pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

Embung Karangtengah.

Bukan hanya alam yang bicara. Seni dan budaya menjadi wajah lain dari Karangtengah. Komunitas Karya Budaya Rukun Santosa (KBRS) Kalimangli, pewaris seni kuda lumping sejak era 1960-an, menjadi roh pertunjukan budaya di desa. Dengan semangat regenerasi dan keterbukaan, KBRS kini tak hanya tampil di panggung desa, tapi juga membuka ruang latihan bagi anak-anak dan remaja. Tarian klasik berpadu dengan inovasi musik dangdut, menyampaikan pesan moral lewat simbolisme kesurupan, topeng ireng, hingga tarian pocong yang sarat makna spiritual.

Kuda Lumping dan Tarian Pocong.

Batik Ciprat: Warna-Warni Perempuan Desa

Di ruang sederhana rumah warga, terciptalah karya seni batik yang unik: Batik Ciprat. Tidak menggunakan pola tradisional, batik ini dihasilkan dari percikan malam panas yang membentuk motif acak nan artistik. Dipelopori oleh Ibu Yuni, seorang guru yang pernah mengikuti pelatihan batik pada 2014, usaha ini kini berkembang menjadi UMKM yang memberdayakan perempuan lokal.

Setiap tahapan produksi dari pemotongan kain oleh Mbak Saminah, pencipratan malam oleh Bu Gatik, hingga peracikan warna oleh Bu Yuni dikerjakan bersama. Hasilnya tak hanya produk ekonomi, tetapi juga sarana pemberdayaan dan pendidikan keterampilan bagi perempuan dan remaja desa.

Batik ciprat menjadi wujud nyata dari potensi lokal yang dimanfaatkan secara berkelanjutan. Ia tumbuh tanpa mengeksploitasi, memberdayakan tanpa membebani, dan berkembang dengan tetap menghargai proses.

Batik Ciprat.

7 Prinsip Desa Wisata: Bukan Sekadar Slogan, Tapi Komitmen Kolektif

Desa Karangtengah membangun arah sebagai desa wisata dengan menjadikan tujuh prinsip pengembangan desa wisata berkelanjutan sebagai fondasi. Prinsip-prinsip ini tidak hanya tercantum di atas kertas, tetapi sudah mulai dijalankan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Partisipatif – Semua inisiatif desa, mulai dari pelestarian seni hingga pengembangan UMKM, dijalankan oleh warga sendiri.
  2. Berkelanjutan – Desa menjaga alamnya dengan prinsip konservasi, tidak membuka hutan sembarangan, dan mengelola embung sebagai sumber daya air lestari.
  3. Pelestarian Sosial Budaya – Tradisi kuda lumping tidak hanya dijaga, tapi juga dikembangkan agar tetap relevan di mata generasi muda.
  4. Transparan dan Akuntabel – Kegiatan komunitas, termasuk KBRS, dilakukan dengan sistem terbuka dan pembagian peran yang adil.
  5. Berbasis Potensi Lokal – Desa mengangkat keunikan seperti batik ciprat dan pertunjukan budaya yang tidak dimiliki daerah lain.
  6. Pendidikan dan Pemberdayaan – Anak-anak diajari seni tari sejak dini, perempuan dilibatkan dalam ekonomi kreatif, dan semua warga bisa berkontribusi.
  7. Inklusif dan Adil – Tak ada yang tertinggal; anak-anak, lansia, perempuan, hingga penyandang disabilitas diberi ruang dalam proses pembangunan.

Dengan prinsip-prinsip ini, Karangtengah membuktikan bahwa pembangunan desa wisata bukan soal membangun fasilitas mewah, tetapi membangun kesadaran, kebersamaan, dan keberlanjutan.

Wacana Digitalisasi: Harapan Menuju Desa Wisata Cerdas

Di tengah geliat budaya dan ekonomi lokal, satu gagasan mulai tumbuh: Gerakan Melek Digital. Meski masih dalam tahap rencana, semangat ini mencerminkan pandangan maju warga Karangtengah dalam menyambut zaman.

Dalam berbagai diskusi bersama pemuda dan pemerintah desa, muncul cita-cita besar:

  • Memasarkan batik ciprat lewat e-commerce
  • Mengunggah pertunjukan KBRS ke platform video daring
  • Membuat portal desa yang memuat info wisata dan UMKM
  • Mengadakan pelatihan literasi digital bagi warga

Para pemuda desa telah mengidentifikasi berbagai peluang ini. Mereka merancang pelatihan dasar desain grafis, promosi media sosial, hingga strategi pembukaan toko online untuk produk UMKM. Belum semua bisa terlaksana, namun mimpi itu telah ditulis, dipetakan, dan mulai diperjuangkan.

Tantangan seperti keterbatasan perangkat, jaringan internet, dan kesenjangan pengetahuan digital tentu nyata. Namun, semangat lintas generasi menjadi kekuatan utama. Para orang tua menyumbangkan kebijaksanaan dan nilai tradisi, sementara generasi muda membawa energi dan keterampilan teknologi.

Karangtengah: Bukan Hanya Tujuan Wisata, Tapi Ruang Pembelajaran

Desa Karangtengah bukan destinasi wisata dalam pengertian konvensional. Ia bukan sekadar tempat untuk bersantai, tetapi ruang pembelajaran tentang bagaimana masyarakat menjaga warisan, membangun ekonomi lokal, dan bermimpi besar dengan langkah kecil.

Wisatawan yang datang ke Karangtengah akan menemukan pengalaman yang otentik: ikut membuat batik ciprat, menonton kuda lumping dengan nilai filosofis tinggi, hingga berjalan menyusuri sawah dan hutan kecil yang dijaga kolektif. Di desa ini, Anda bukan hanya penonton, tapi bagian dari cerita.

Dengan modal budaya yang kaya dan semangat digital yang mulai tumbuh, Karangtengah adalah contoh hidup bagaimana desa bisa maju tanpa kehilangan jati diri.

________________________________________

Karangtengah sedang menulis kisahnya sendiri: kisah tentang alam yang dijaga, budaya yang hidup, dan teknologi yang mulai dirangkul. Kisah ini belum selesai—dan Anda diundang untuk menjadi bagian darinya. (*)

________________________________________