in

Pertunjukan Wayang Kulit Khusus Dewasa

Sarkasme dan guyon seksis menjadi populer (dan dianggap normal) di pertunjukan wayang kulit, terutama atas bantuan YouTube.

Apa saja bisa viral di YouTube. Sesaat ataupun awet, serius atau dagelan, reportase sungguhan atau sekadar copy-edit video orang lain menjadi listicle semacam “5 Spot Foto yang Paling..”, semua bisa viral.

YouTube berhasil membuat orang terkenal dengan cara instan. Bukan soal mudahnya bikin content, melainkan karena ketersediaan penonton. Jutaan penggemar New Pallapa, bisa menjadi mutual subscriber Monata dan Adella. Mau panggung? YouTube tempatnya.

YouTube dibuat dengan logika selayaknya broadcast televisi. Televisi tabung (tube) yang berisi tokoh terpopuler di dunia, yaitu: kamu (you). YouTube, sebagaimana penamaan tadi, mengajak “kamu” untuk masuk ke dalam siaran, sebagaimana televisi membuat orang menjadi populer, ngehit, viral.

Faktor “ketersediaan penonton” dan “kemudahan menyiarkan”, jauh lebih dicari daripada faktor “membuat content”. Meraup subscriber berarti meraih keuntungan, apalagi kalau mendapatkan “Silver” dan “Gold” dari YouTube.

Faktor “membuat content” itulah titik di mana banyak persinggungan terjadi. Content harus bagus dan disukai orang, unik, tidak melanggar copyright dan CC (creative commons), dan selalu update.

Itu tidaklah mudah. Orang mencari pintasan, lebih banyak lagi, dengan cara “learning by product”, atau mempelajari produk yang sudah ada.

Contoh termudah: orang melihat logo televisi dan by-line, kemudian menirunya di YouTube. Melihat bagaimana peserta lomba kemarin menang, tekniknya diadopsi ke video yang aka. datang. Melihat transisi, slow motion, efek dan filter, teleprompter, pemakaian drone, autofocus, dll., mereka menirunya.

“Apa alat yang dipakai?”. Itu pertanyaan mendasar. Yang berarti: Apa merk dan tipe perangkat yang dipakai? Berapa harganya? Di mana belinya? Tenang, bisa dipesan online. Atau jika diperpanjang, menjadi kemungkinan buruk: hardware kamu tidak support. Mari menabung, besok kita beli yang baru.

“Apa aplikasi yang dipakai?” menjadi pertanyaan berikutnya. Aplikasi dan software adalah revolusi industri yang tidak pernah selesai. Selalu ada update, perbaikan, versi baru, mod premium pro, pakai atau beli.

Software dan aplikasi adalah bukti bagaimana orang berkutat pada teknik. Saling bajak teknik, model penyajian, adu kecepatan-tayang, merupakan agenda “membuat content”. Dan copyright tidak jarang menjadi right-to-copy (hak menduplikat).

Tidak mengherankan, video YouTube (dan fotografi), tidak ada “teknik baru”. Adanya content yang seharusnya baru dan menyenangkan. Kalau ada yang buruk, kamu hanya perlu berpindah ke channel lain, video lain. Kalau kamu bosan, ada channel YouTube yang berisi cara mengatasi kebosanan. Jangan keluar dari YouTube.

Kalau kamu nggak menemukan WiFi, gunakan paket data dari operator seluler yang bisa memutar YouTube gratis.

Karl Marx mengatakan, “Mesin yang besar menciptakan kepatuhan [buruh] yang lebih besar”.

Di manakah mesinnya? Di mana ada mekanisme, perputaran produksi, prosedur tertentu, “bahan bakar” agar ia hidup, maka itulah mesin.

YouTube, PlayStore, Channel, vendor aplikasi, itulah mesin. Semua orang berada di mesin itu.

Michel Foucault, dalam History of Sexuality, menyampaikan gagasan tentang bagaimana “hukuman” tidak lagi dijalankan dalam bentuk sentuhan. Tidak ada tamparan, tidak ada cambukan. Dari jarak-jauh, suatu gagasan yang mendisiplinkan, bisa dilakukan, dan “memerintah” sampai di urat-syaraf dan otak-besar manusia.

Gambaran penjara panoptikon, yang dijelaskan Foucault, mungkin metafora yang lumayan tepat. Sebuah menara pengawas, tempat penjaga penjara mengamati sekeliling yang berisi para narapidana, di mana semua gerak mereka terpantau.

YouTube (dkk.) adalah penjara panoptikon itu. YouTube bekerja dengan “peraturan penjara” bernama algoritma. Bekerja secara otomatis.

Mekanisme yang mengatur ratusan ribu video per hari, menyortir popularitas berdasarkan subscribe, komentar, dan share. Algoritma yang membiarkan Payung Teduh merugi karena lagunya di-cover banyak penyanyi dadakan. Algoritma yang membuat orang rapat untuk bikin videoklip.

Tanpa perintah bersenjata. Tanpa hukuman yang menyentuh. Orang melakukan tawaran YouTube karena mereka menginginkan itu.

Orang inginkan itu. Ingin terkenal, dapat duit dari subscriber. Menabung untuk kamera mirrorless, tanpa perintah. Mereka berhadapan dengan sebuah mesin yang menciptakan kepatuhan masif.

Apakah niatan itu buruk? Tidak sama sekali. Semua orang boleh serakah, boleh mengabaikan kualitas (toh buktinya banyak subscriber!), boleh dapat dollar Amerika (yang bisa ditukar ke rupiah).

Namun benarkah kita sudah memperbaiki cara kita membuat dan menonton?

Jika kamu bekerja di media, atau tahu tentang media, cobalah menguji kompetensi. Kalau mau uji kualitas, para selebritas YouTube itu beneran mengerti broadcast atau sekadar belajar dari produk lain? Apa bedanya dari yang lain? Apakah unsur “kemanusiaan” hadir dalam video ini ataukah dengan kecanggihan “text to speech” yang diedit menjadi suara perempuan-pennyiar? Ini benar teks yang mereka dapatkan di lapangan ataukah copy-edit?

Bedakan, antara spektator dan penonton. Spektator (orang sering menyebutnya “silent reader”) hanya mengamati, berteriak di luar jangkauan, tidak melibatkan-diri dalam percakapan. Sama seperti orang yang membaca percakapan di group WhatsApp tanpa mau terlibat. Penonton, lebih aktif. Mereka punya emosi dan gagasan yang tersampaikan. Membuat video tanggapan.

Menurut sejarahnya, YouTube dibuat agar orang aktif memberitakan kejadian lokal, kreatif, dan menanggapi video dengan video. Ini fitur yang terlupakan. Jarang sekali kita menemukan “video ini dibuat sebagai tanggapan untuk video itu”. Sebenarnya, ini fitur utama YouTube.

Nggak usah jauh-jauh berbicara tentang “intentions” (niatan), semua orang bilang niatnya baik. Mari bicara tentang apa yang tampak saja.

Nella Kharisma, Adella, New Pallapa, bertambah ngehit. Bahkan membaik.

Mereka menampilkan citra musik yang populer, bisa mengadaptasi bermacam-macam genre, dan kerennya lagi tanpa merasa menjadi pejuang musik dangdut. Mereka beda semangat-zaman dengan Rhoma Irama.

Mereka membesar bersama tanpa melakukan tingkah yang ironis dan naif.

Itu sebabnya orang rela ganti kaos (orangnya tetap sama) untuk menonton group yang berbeda-beda. Terima kasih kepada YouTube yang membuat dangdut koplo begitu meriah dan disukai.

Agak berbeda kalau saya menonton beberapa channel wayang kulit yang memasukkan unsur-unsur modern dalam pertunjukkan, namun menurut saya kontradiktif dengan semangat diadakannya pertunjukan wayang kulit.

Saya penggemar pertunjukan wayang kulit.

Semakin speechless ketika di babak Limbukan (keluarnya Limbuk-Cangik) yang biasanya diisi dengan guyonan. Yang paling ngehit tentu saja Cak Percil, Kunthet, Yudho, dll.

Pola adegan dan “paitan” (umpan lelucon) yang hampir sama. Yang menyedihkan adalah selingan guyonan yang mem-bully para sinden, dengan sarkasme dan guyonan yang sangat seksis.

Kalau Komnas Perempuan memakai daftar tindakan yang termasuk sexual harrassement, mungkin banyak adegan yang bisa kena sensor. Sinden dipangku, dipegang janggutnya, dinilai fisiknya (demi lelucon yang mem-bully sinden), atau dengan arahan tertentu diminta menggoyang pantat.

Jangan berdalih, ini hanya pertunjukan. Siapa penontonnya?

Pada tempat lain, para komedian-tradisional ini juga mengutip hadits dan ayat. Lihatlah kemudian, kontradiksi yang terjadi: para komediwan tradisional ini meminta “pengertian” para penonton (atas sarkasme dan guyon seksis), demi melestarikan budaya Jawa yang katanya adiluhung.

Dalam tontonan tradisional seperti ini, peluang “breaking the fourth wall” lebih besar.

Di sela-sela pertunjukan, selalu ada pesan untuk selalu “nguri-uri” (melestarikan) kebudayaan Jawa.

Apakah harus selalu dengan cara seperti itu, kebudayaan Jawa bernama wayang kulit akan dilestarikan? Kalaupun mereka melakukannya karena “pesan sponsor”, apakah selaras dengan semua penonton yang melihat channel populer mereka?

Itu adalah “mesin” yang lain. Produksi harus berjalan. Tanpa ada perintah-langsung, orang lain (entah spektator atau penonton) akan mempelajari produk wayang kulit, mau ikutan terkenal dengan cara membully, sarkasme, dan guyonan seksis?

Mungkin di malam hari, wayang kulit hanya ditonton orang dewasa, tetapi tidak jika sudah masuk YouTube. Sebab YouTube “tidak punya” zona waktu. YouTube mungkin belum atur lebih detail algoritma terkait adegan guyonan pelecehan dan guyon seksis di atas panggung pertunjukan wayang kulit.

Jangan buat pertunjukan wayang kulit menjadi pertunjukan khusus dewasa.

Terima kasih atas dukungannya. Jangan lupa terus klik subscribe, tonton, dan komen di channel ini.

Atau lebih banyak orang memilih menjadi spektator daripada penonton. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.