in

Belajar Validasi Produk dari Penjual Pecel

Tim desain, CEO, tidak bisa lakukan validasi. Hanya pasar dan konsumen yang bisa.

(Credit: PressureUA)

Kawan saya seorang desainer. Dia optimis kalau produk desain yang akan dia buat, sudah divalidasi. Dia membuat MVP (minimum viable product), memperlihatkan rancangan, dengan segala macam prinsip desain yang sudah ia kerjakan bersama tim. Semua orang setuju. Ketika produk itu keluar dalam bentuk versi beta, yang terjadi adalah.. orang tidak suka.

Bagaimana bisa? Padahal sudah divalidasi. Semua sudah okay.

Validasi itu mirip fatamorgana. Coba tanya ke pebisnis, desainer produk, perancang acara, siapa saja yang bertugas “membuktikan” sesuatu.

  • “Bagaimanacara kamu memvalidasi keberhasilan ini?”,
  • “Orang akan beli atau tidak?”,
  • “Apakah produk ini cocok untuk pasar?”,
  • “Apakah desain ini sudah melewati validasi?”.

Jawaban singkat: tidak bisa.

Pertanyaan itu, kalau diringkas, sebenarnya mempertanyakan masa lalu. Sama saja dengan bertanya, “Sudah pernah berhasil?”.

Sudah kamu rancang, sebagian kamu siapkan dengan minimum viable product (MVP), namun baru bisa kamu validasi ketika sudah sentuh pasar.

Ingat selalu, produk tidak hanya ditentukan dari sisi desain. Semua faktor punya pengaruh pada produk itu.

Cara memvalidasi adalah “menggunakan”. Coba, pakai, beli, gunakan, terapkan. Validasi tidak sama dengan persetujuan. Validasi bukan penerapan teori. Valiadasi itu soal ” work” atau tidak.

Produk lebih tepat digambarkan mirip pecel, bukan biskuit Monde.

Kalau kamu gigit biscuit Monde (saya sanggup habiskan sekaleng Monde sendirian!), kamu merasakan seluruh Monde. Bahan sama, rasa sama, walaupun bentuknya berlainan. Mereka mengerjakan “bentuk”, dengan bahan dan rasa sama. Biskuit Monde adalah produk homogen.

Singkatnya, tidak perlu semua Monde kita gigit, karena rasanya sama.

Produk, tidak seperti itu. Layanan, juga tidak seperti itu. Kita tidak bisa lihat kebersihan suatu rumah makan, hanya dari kebersihan dapur, tidak bisa nilai cantik hanya dari wajah.

Produk lebih mirip pecel. Ada dedaunan, kacang, kecambah, sambal, dan banyak variable yang membuat pecel menjadi pecel. Kamu merasakan pecel jika kamu habiskan seluruhnya. Bukan sebagian. Pecel yang kita lihat di sini dan di sana, mungkin berlainan, namun tetap disebut pecel.

Memvalidasi pecel tidak bisa hanya dengan mencoba sebagian pecel. Daun beres, kacang tidak beres, hasilnya akan berbeda. Termasuk cara meladeni pembeli.

Code XML, JavaScript, bisa divalidasi karena ia code yang sudah diterapkan.

Kenyataan: kamu tidak bisa validasi sesuatu yang tidak ada. Tidak dapat memvalidasi ide, tebakan seseorang, abstraksi, sketsa, simulasi, sajian tabel berisi angka, karena bukan merupakan produk yang sebenarnya.

Buat saja produk versi 1.0, luncurkan, biarkan pasar memakai atau beli. Itulah “keutuhan” produk versi 1.0 sampai ada versi berikutnya.

Itu sebabnya, kita tidak bisa nilai sesuap pecel (produk yang tidak homogen) sebagai perwakilan dari seluruh pecel (kenyataan kerja kamu). Pecel harus dinilai secara keseluruhan.

Sepintar apapun tim kamu, atau sebanyak apapun data yang kamu miliki (melalui riset produk), termasuk komentar orang, tidak bisa kamu pakai sebagai bekal untuk yakin.

Tanyakan apa yang mereka pikirkan, namun jangan sandarkan keputusanmu sepenuhnya berdasarkan pendapat mereka.

Jika kamu membuat produk yang sama sekali baru, kamu harus punya keberanian untuk tidak data-driven. Apalagi data itu berasal dari konsumen sekarang, di jaringan kamu sendiri, dan mereka tidak punya imajinasi untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Buat, luncurkan, biarkan produk kamu dipakai orang. Saat itulah baru kita lakukan validasi. Ide kamu bagus, namun perlu kita validasi di pasar. Apa kata mereka? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.