in

Upacara Larungan Nelayan Rawa Pening di Tengah Badai Paceklik Ikan

Para nelayan tengah merasakan paceklik ikan imbas adanya proyek revitalisasi Danau Rawa Pening.

Gunungan buah-buahan dan sayuran diarak menuju pesisir Danau Rawa Pening dalam upacara Larungan. (istimewa)
Gunungan buah-buahan dan sayuran diarak menuju pesisir Danau Rawa Pening dalam upacara Larungan. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Puluhan nelayan Dusun Krajan, Desa Asinan, Kabupaten Semarang yang menggantungkan hidupnya dari Danau Rawa Pening, mengadakan upacara larungan, Minggu (4/2/2024) malam.

Larungan rutin digelar sejak puluhan tahun silam sebagai bentuk rasa syukur nelayan Danau Rawa Pening terhadap hasil ikan dari danau yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Upacara larungan diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Dilanjutkan dengan mempersiapkan gunungan yang dibuat dari berbagai macam hasil bumi seperti buah-buahan, sayur-sayuran, dan jajanan pasar lainnya.

Kemudian ada arak-arakan obor dan gunungan menuju pesisir Danau Rawa Pening. Di pesisir danau, masyarakat kembali memanjatkan doa. Setelah selesai, masyarakat berebut gunungan yang dipercaya mengandung keberkahan.


Terdampak Revitalisasi Danau

Warga menyaksikan arak-arakan gunungan buah-buahan dan sayuran dalam upacara Larungan di pesisir Danau Rawa Pening. (istimewa)
Warga menyaksikan arak-arakan gunungan buah-buahan dan sayuran dalam upacara Larungan di pesisir Danau Rawa Pening. (istimewa)

Masyarakat setempat, Paryanto menjelaskan, upacara larungan ini sebagai bentuk rasa syukur nelayan Rawa Pening atas sumber penghidupan yang di dapatkan dari danau Rawa Pening.

Namun menurutnya, sudah dua tahun para nelayan merasakan paceklik ikan sebagai dampak adanya proyek revitalisasi Danau Rawa Pening.

“Dua tahun ini masyarakat kesulitan mencari ikan, penyebabnya karena eceng gondok dibersihkan oleh alat berat, ikan-ikan pada menghilang,” ujarnya.

Kata dia, dulu satu kali berangkat bisa mendapat lima sampai enam kilogram ikan. “Sekarang karena ada proyek revitalisasi, mendapatkan lima atau enam ekor ikan saja sudah bersyukur,” ucapnya.

Warga lain, Naryo menyampaikan, akibat dari sulitnya mencari ikan, banyak nelayan Rawa Pening yang beralih profesi.

“Banyak nelayan yang alih profesi, banyak yang menjadi kuli bangunan. Kami sudah tidak punya pekerjaan lain, imbuhnya,” imbuhnya.

Selain berdampak buruk pada sumber mata pencaharian dari nelayan, proyek revitalisasi Rawa Pening juga berpotensi merampas lahan masyarakat sekitar lantaran ada perluasan area danau yang ditetapkan sepihak oleh pemerintah. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar