in

Perdebatan Setelah Pementasan Teater

Membaca kembali tujuan seni.

Pada suatu hari,, saya datang ke suatu acara seni. Banyak pertunjukan seni di acara itu: performance art, pementasan teater, baca puisi, dan diskusi antara penonton dan penyaji. Wartawan, budayawan (saya belum mengerti makna istilah ini), pekerja seni, dan penonton.

Diskusi ini sebenarnya apresiaisi dan kritik, sayang sekali, tidak berjalan seimbang. Terjadi informasi asimetrs. Beberapa orang dari barisan penonton, adu informasi, oengalaman, dan kedekatan mereka dengan dunia seni.

Singkat cerita, diskusi memanas. Pertunjukan yang sudah disiapkan selama 3 (tiga) bulan itu dapat kritik pedas.

Beberapa “pertanyaan” abadi, tak-terjawab di forum itu. Gerakan kita mengarah ke mana? Mengapa masyarakat kita belum menyadari pentingnya seni? Bagaimana agar nilai-nilai yang kita sajikan ini sampai ke masyarakat? Sekitar pertanyaan semacam itu.

Yang pasti, waktu hampir habis. Yang pasti lagi, menyisakan kebingungan. Para penyaji yang saya kenal, beberapa mengaku sakit hati dengan perilaku komunikasi para pengkritik itu.

.. karena sebagian mengkritik pertunjukan dengan pedas. “Pertunjukan tadi, tidak layak.” Ada juga yang bilang, “Masih banyak unsur seni rupa yang belum tergarap..” dst. Saya masih ingat, ada yang kalimatnya lebih tajam, “Kawan-kawan perlu melihat pertunjukan lain, agar memiliki wawasan berkesenian yang lebih luas.”.

Serangan balik, dari para penyaji, justru terdengar di kasak-kusuk, di luar forum. Para penyaji sudah asyik dalam menggarap pertunjukan, mereka sudah lumayan berkarya, tidak hanya melontarkan kritik. Tidak semua seniman pintar bicara di forum diskusi, bahkan banyak yang tidak mau berurusan dengan kritik dari para penonton.

Fenomena mengkritik karya sebenarnya tradisi bagus, asalkan disampaikan dengan cara yang asyik.

Sebuah pementasan bukanlah ujuan akhir seperti di kampus seni yang dipresentasikan untuk dosen seni.

Apa sebenarnya tujuan seni? Saya pernah mencari referensi seni dan bertanya kepada para seniman, tentang tujuan seni. Saya tidak melakukan klasifikasi. Seni memiliki banyak tujuan.

Ekspresi pribadi. Eksplorasi emosi dan perasaan. Menciptakan keindahan atau “estetika”. Mengkomunikasikan pesan dan gagasan. Memotret dunia nyata. Menciptakan imajinasi dan fantasi. Mengungkapkan identitas budaya dan sejarah. Mendorong refleksi dan introspeksi. Merayakan keberagaman dan inklusi. Menantang norma sosial dan budaya. Membedakan diri dari yang lain. Menstimulasi pemikiran kritis. Memberikan hiburan dan kesenangan. Memperkaya pengalaman hidup. Mengajukan pertanyaan filosofis dan eksistensial. Mengajarkan nilai dan moralitas. Menghadirkan perspektif baru dan sudut pandang yang berbeda. Memberdayakan dan menginspirasi orang lain. Melibatkan partisipasi aktif dari penonton. Menantang dan mengubah persepsi dunia. Mendorong perubahan sosial. Menguatkan identitas individu. Menciptakan pemersatu budaya. Mengabadikan momen sejarah. Menggugah emosi dan perasaan penonton. Menciptakan ruang bagi refleksi dan meditasi. Menyajikan kehidupan dan karya-karya seniman terkenal. Memperluas pemahaman kita tentang dunia. Menggunakan teknik dan materi baru dalam seni. Menghadirkan pengalaman multisensori. Mencerminkan perubahan dan perkembangan masyarakat. Menggambarkan kompleksitas manusia. Memperingati peristiwa penting. Menggali dan mengungkapkan sisi gelap manusia. Mengkritik dan mencermati politik dan kekuasaan. Menyampaikan pandangan dan ide-ide radikal. Menciptakan dialog antara seniman dan penonton. Menggabungkan berbagai disiplin seni. Mendorong eksplorasi dan inovasi teknologi. Menghidupkan kembali tradisi dan warisan budaya.

Saya menambahkan satu lagi, setelah membaca 40 “tujuan seni” yang saya tuliskan secara acak di atas. Tujuan seni bertambah satu, yaitu: “.. mencari tujuan seni.”. Mungkin kamu ingin menertawakan bagian ini. Serius, menurut saya, lebih asyik kalau saya bisa tambahkan tujuan yang lain lagi.

Singkatnya, seni itu milik semua orang. Seorang pemasak memiliki nilai-nilai hidup yang tetap ia lakoni ketika di luar dapur. Cara ia memandang rempah-rempah dan memperlakukan bahan masakan, jauh berbeda dari orang yang tidak bisa memasak. Seorang kaligrafer tradisional, untuk membuat garis lurus panjang dengan satu sapuan kuas, memerlukan pernafasan yang baik. Seorang pelukis, tidak mau berhenti pada warna tertentu. Semua seniman memiliki pandangan hidup dan tindakan berkesenian yang ia lakukan, tercermin di atas dan di luar panggung. Mereka tetap menjadi “manusia”. Berkesenian merupakan atribut eksistensial, sifat wujud, sebagai seorang manusia.

Ketika acara diskusi hampir selesai, ada 1 orang yang dipersilakan forum untuk berbicara, sebelum diskusi ditutup. Apa yang ia katakan, membuat semua orang terkejut.

Kita berkumpul di sini, karena percaya, bahwa hidup bisa berubah. Kita memiliki visi, cara pandang yang mungkin berbeda, namun tujuan kita sama. Kita tidak sedang mengandalkan agama, yang katanya toleran, mau mengakui ajaran agama lain, namun ternyata tidak mau duduk berdampingan dengan neurolog, geolog, sejarahwan, tidak mau makan bersama dengan para ilmuwan. Karena “percaya” dan “tahu”, lebih sering berseberangan. Seni adalah batas di antara keduanya. Seni adalah perekat sekaligus ruang kosong, di sekitar apa yang kita sebut “percaya” dan “tahu” itu. Bukan agama, bukan ilmu pengetahuan. Betapa hebat kita sekarang, bisa duduk bersama, bukan untuk menyamakan kepercayaan, bukan untuk mengadili suatu karya. Kita tidak sedang “meratakan” perbedaan dengan pluralitas. Kita tidak sedang mencari yang terbaik. Ada satu pesan saya. Jika memang kita memiliki tujuan sama, mari saling berempati. Kita tidak lagi sedang berdiri sebagai “seniman” dan “penonton”. Kita sama-sama manusia yang ingin melakukan perbaikan hidup kita, tanpa sentimen, karena tujuan kita sama. Bangsa ini tidak hancur, karena orang-orang seperti kita masih mau duduk bersama, saling mendengarkan, dan saling membantu. Jadi, ada baiknya, kita nanti bertukar nomor telepon. Berikan apa yang kita bisa, jangan malu menyampaikan masalah, atau menutupi kekurangan. Jika kita bersatu untuk berkarya, kita menjadi manusia yang lebih beradab.

Kita adalah orang-orang yang percaya pada kekuatan kata, cahaya, warna, suara, komposisi. Kita tidak pernah berhenti pada dilema, ambigu, skeptisisme, karena itulah yang membuat dunia lebih dinamis.

Seni tidak berbaring di atas tempat tidur yang dibuat untuknya; seni berlari sesegera mungkin, sekali namanya disebut; seni lebih suka tak-dikenal. Moment terbaiknya adalah ketika seni itu lupa panggilannya sendiri. – Jean Dubuffet

Diskusi kemudian ditutup, namun orang-orang masih duduk-duduk, membentuk lingkaran-lingkaran kecil, makan bersama, sedih dan tertawa bersama. Terus, mengapa tadi mereka berdebat? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.