in

Tugas Kuliah untuk Menulis di Media Sering Gagal Karena..

Perlu ada dialog media, dosen, dan mahasiswa. Dari penugasan menjadi pengalaman kolaborasi.

Dosen memberi tugas (assignment): mahasiswa menulis artikel ke media online. Ada yang individual, ada juga yang tugas-kelompok (misalnya, ketika mereka sedang KKN di Desa Konoha). Sepintas, tugas seperti ini, sangat positif. Sayangnya, sering tidak memenuhi harapan. Saya punya analisis berbeda tentang “kegagalan” ini.

Saya bisa deteksi teks hasil AI tanpa pakai aplikasi.

Saya redaktur “Opini” di Jateng Today, memiliki standar dalam menerima kiriman pembaca. Periksa plagiarisme. Mencari ide baru atau masalah baru, dari tulisan kiriman pembaca. Minimal, data baru dengan penjelasan konteks data yang bagus. Periksa spelling dan grammar. Tulisan minimal 700 kata. Singkatnya, editing itu bukan masalah mudah.

Standar editing saya sangat ketat.

Editing buruk, memiliki efek kerusakan beruntun yang nggak enak bagi media maupun pembaca. Brand menjadi tidak credible. Komplain. Editing merupakan pembentukan ruang apresiasi pembaca. Kalau editor buruk, hancurlah semua harapan.

Pengirim tulisan, memiliki kredibilitas (di luar skill menulis) yang hebat. Mahasiswa program doktoral, ahli bidang X, dosen, nama-nama dengan gelar panjang dan jabatan. Tidak semuanya lolos, karena berhadapan dengan editing saya. Sikap fair yang saya berikan kepada mereka adalah membuat catatan, mengapa sebaiknya mereka merevisi. Poin mana yang perlu dibenahi. Saya berikan juga saran referensi, link, dan update yang lebih baik, untuk memperbaiki tulisan mereka. Yang bisa melewati ini, saya muat. Sepenuhnya, karena mereka hebat, bisa melewati hambatan kreatif mereka sendiri.

Singkatnya, menulis itu bukan pekerjaan mudah.

Saya sering mendengar keluhan pembaca, dengan nada hampir sama. Mereka dapat tugas (dari dosen, dari organisasi, dari perkumpulan), untuk menulis secara rutin, kemudian terjadilah penugasan (assignment).

Itu bagus, kalau faktor “belajar menulis” digarap dengan baik. Belajar menulis, kerjakan, baru terbitkan.

Semua mahasiswa sudah terlatih menulis makalah, tetapi itu menulis makalah, academic paper.

Kalau kamu mau menulis di media online, pikirkan terlebih dahulu, tulisanmu akan ada selamanya di internet.

Lakukan riset, agar tulisanmu tidak dangkal. Kamu boleh tidak kasihan kepada editor, tetapi pikirkan pembaca.

Mengapa mereka tidak muat tulisan di website kampus/jurusan mereka sendiri?

Beberapa dosen bercerita, kalau mereka sudah menyampaikan materi perkuliahan, kemudian memberikan penugasan menulis di media online. Hasilnya masih mentah. “Apa yang harus saya lakukan?”. Kualitas rendah. Rata-rata, mereka memakai deadline sebagai bahan-bakar, lebih sering terburu-buru, tanpa riset.

Kuantitas konten, backlink (BL) berkualitas tinggi, dan lebih banyak kiriman, itu menjadi mimpi sebagian besar media. Tidak semua media merancang rubrik untuk menciptakan hubungan dengan para pelanggan loyal. Mereka memproduksi konten demi kepentingan komersial mereka. Semakin tinggi traffic, semakin tinggi klik, dan lebih banyak iklan.

Pikirkan, ketika para mahasiswa menuliskan hasil riset dan pemikiran mereka.

Apa tujuan menulis di media online ini? Saya sebutkan sebagian.

  • Agar terkenal, kalau bisa sampai viral.
  • Pembuktian bisa menulis.
  • Nama jurusan di kampus X akan lebih dikenal.
  • Validasi pengalaman, “Hore, saya sudah pernah menulis”.
  • Penyematan bintang, “Lihatlah, mahasiswa saya menulis di media ini.”.
  • Soft-skill.
  • Networking.
  • Monumentasi pembelajaran, pengarsipan online.
  • Misi mulia, sosialisasi nilai-nilai perkuliahan yang perlu diketahui semua orang.
  • Membuat perbedaan dan perubahan — dengan gagasan.
  • Berpikir adalah tindakan.
  • Menulis adalah bekerja untuk keabadian. dst.

Kamu pilih tujuan yang mana?

Dengan ungkapan yang sangat singkat, “Menulis tidaklah semudah yang dibayangkan orang.”.

Mengedit tulisan juga tidak mudah.

Risiko Negatif untuk Media

Media bisa saja menyediakan rubrik “Kiriman Pembaca” atau “Opini Pembaca” yang tidak diawasi. Orang bisa bikin akun (dengan Gmail, Facebook, atau Twitter), kemudian bebas menulis, tetapi tanggung jawab media tidak selesai dengan disclaimer: “.. isi di rubrik Opini dan Kiriman Pembaca, di luar tanggung jawab media..”.

Media punya masalah ketika menghadapi kontroversi dan perselisihan merugikan. Itu sebabnya, ada editor, yang bertugas menjaga kualitas.

  • Melayani tulisan buruk itu melelahkan. Saya katakan ini sebagai editor.
  • Pembaca kalau sampai baca tulisan buruk, akan lari dan berteriak di media sosial. Mistrust terhadap media itu.
  • Menjaga platform agar tidak dipakai pembaca untuk melakukan tindakan negatif, yang mereka tidak tahu bahwa itu negatif, bukanlah pekerjaan mudah. Mau contoh? Menulis 500 kata untuk membuat review agar orang bukan channel YouTube tertentu. Klik link yang berisi misinformasi. Kesempatan kampanye hitam. Menebar rumor. Membuat listicle tanpa dasar. Serangan anonim. Nyampah visual.

Itu sebabnya, media punya kebijakan untuk menjaga tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab, tidak ada kebebasan berbicara, kebebasan pers.

Media adalah tempat satu huruf bisa menimbulkan pertikaian. Tempat nama dan jabatan harus benar. Tempat di mana kata-kata bisa menjadi api atau air. Tempat di mana yang kemarin A, sekarang bisa berubah B karena ada perkembangan dan update.

Menulis adalah pekerjaan, yang penuh kesenangan sekaligus ketegangan, yang penuh manfaat sekaligus peluang berpikir, yang menguras energi dan waktu (terutama ketika kita belajar menulis) .. yang tidak bisa dicapai dalam semalam.

Pendekatan Kolaborasi untuk Penugasan Menulis di Media Online

Penugasan sering tidak “work”. Sekalipun dosen sudah memberi pembekalan materi akademik, bahkan sudah ada mata kuliah “menulis kreatif”, dan para mahasiswa sudah terbiasa menulis makalah ilmiah, keadaan tetap berbeda ketika mahasiswa diminta menulis di media. Masalah sebenarnya, ada pada komunikasi. Mereka tidak berkomunikasi dengan media itu.

Jika memang mau menjadikan penugasan menulis di media sebagai project rutin dari mata kuliah kamu dan tidak ingin hasilnya mentah, ada beberapa langkah actionable yang tidak bisa kamu abaikan, berikut ini:

Kolaborasi Awal

Dosen, mahasiswa, dan perwakilan media, perlu bertemu untuk merencanakan kerja bersama. Tujuan, harapan, dan peran masing-masing, perlu disampaikan. Mengapa memilih Media X, tidak di-publish di website jurusan/kampus saja? Bersediakah kita memahami bahwa ini pengalaman kolaborasi?

Identifikasi Proyek

Pilih topik atau proyek yang akan dikerjakan bersama. Misalnya, mata kuliah “Lingkungan Hidup” dan Media X, membuat project yang isinya kampanye lingkungan hidup dan climate change. Pastikan ini relevan dengan kurikulum, minat mahasiswa, dan jurnalisme media online ini. Tidak bisa asal pilih media yang populer, kalau ternyata media itu tidak sejalan dengan kurikulum kamu.

Pendampingan

Media memberikan bimbingan terkait penulisan. Dosen memberikan bimbingan akademis. Ada satu session untuk sinkronisasi topik apa saja yang mau diangkat dan dijadwalkan akan diterbitkan kapan. Tidak ada dominasi di sini. Semua punya peran dan kapasitas. Saling berbagi wawasan. Mana yang “harus”, mana yang “mungkin”, semua dibicarakan bersama. Media sudah punya wawasan dan riset. Mereka mengerti longtail keyword terkait topik perkuliahan. Dari session dan silabi perkuliahan, bisa menjadi topik penulisan. Sekalipun dosen pengampu sudah punya daftar topik yang menjadi penugasan, tetap perlu berdialog bersama media dan mahasiswa.

Proses Pengajuan

Mahasiswa mengajukan rencana tulisan, semacam ringkasan dan outline, kemudian perwakilan media dan dosen memberikan bimbingan singkat. Kalau sudah memenuhi syarat, mulai menuliskan artikel mereka. Sebaiknya individual, jangan kelompok.

Penerbitan

Apakah sudah pasti bisa langsung diterbitkan? Biasanya, tidak semudah dan secepat itu. Pembelajaran yang tidak boleh terlewatkan, dalam menulis, adalah “editing bersama”. Ini artinya editor dan penulis berdialog. Apa maksud tulisan ini? Ada kesalahan di mana? Bagian mana yang perlu dikembangkan? Ini tidak seperti menulis makalah ilmiah. Editor yang baik, akan memberikan catatan dan langkah-langkah perbaikan. Bukan coretan merah yang membingungkan.

Tulisan yang sudah siap-terbit, akan masuk ke jadwal penerbitan.
Media berhak memberikan apresiasi dan memberikan peringkat, tulisan mana yang dianggap bagus, versi media itu. Keputusan nilai tetap ada di tangan dosen.

Proses ini akan berkembang menjadi pengalaman kolaborasi yang semakin baik, karena memiliki pendekatan yang terukur, pembelajaran yang terlihat efeknya secara langsung (singkatnya: efektif). Semua menang. Mahasiswa semakin pintar, bisa menulis, media mendapatkan masukan, dan mata kuliah menjadi lebih menyenangkan.

Pikirkan kembali tentang penugasan “menulis di media online”, dalam bentuk pengalaman kolaborasi seperti itu, agar semua orang senang dan tercapai tujuannya. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.