in

Tubuh Salon dan Tubuh Perenang

Maaf, kalau tulisan ini menyinggung perasaan mereka yang ingin dianggap cantik.

(Credit: Soroush Karimi, Unsplash)

Tubuh Salon

Lihat di foto. Kulitnya halus, mulus, kuning langsat. Sering perawatan. Dari lotion, masker, sabun khusus, pewangi, diet ketat, dan sampai sekarang hasilnya “kelihatan” lebih cantik daripada sebelumnya.

Semakin tanpa perawatan mahal namun kelihatan cantik, dianggap yang paling perlu ditiru yang lain. Semakin tanpa olahraga tetapi kelihatan cantik, yang paling diburu, karena olah raga itu melelahkan, perlu disiplin, dll. Pertanyaan “Apa rahasianya nggak olah raga namun bisa cantik?” akan menghasilkan view tinggi.

Contoh paling mudah, lihatlah kebanyakan pengantin — yang dalam keseharian kurang terawat, bisa tampil “cantik seketika” dengan teknologi salon.

Pemburu “hasil ideal”, tentu saja para pemalas. Korban iklan. Ingin tampil cantik dalam sekejap, agar hasilnya langsung kelihatan. Mau langsing, tinggal sedot-lemak. Mau perut rata, pakai stagen elektrik. Kalau nanti nggak berhasil, ganti produk. Mereka yang merasa berat badan belum ideal, body masih radial alias lengkung. Setengah lingkaran. *) Ingat, jangan pernah mengatakan perempuan yang kamu lihat itu “gemuk”. Dunia persilatan bisa kacau kalau perempuan sudah marah.

Kalau tampak samping kelihatan cantik, upload. Kalau tampak memalukan, hapus. Foto lagi. Pakai burst yang sekali jepret bisa sampai 25 gambar. Tinggal pilih mana yang “cantik”. Okay, upload. Dapat berapa Like? Siapa saja yang berkomentar?

Tubuh salon dalam potret, sering menutup kekurangan (akibat dari rasa tidak percaya-diri) dengan banyak cara. Pilih angle yang menampakkan sisi cantik. Cari sebisa mungkin, harus dapat. Ulangi. Burst mode, pilih yang paling menarik. Pakai camera yang bisa efek focus dan pendeteksi-wajah otomatis. Pakai fitur aplikasi.

Tubuh salon ingin kelihatan cantik, harus tampak selalu cantik, dan bentuknya dimanipulasi agar para penonton terpesona.

Mencari kesan (impression) adalah pekerjaan tubuh-salon.

Facebook, Instagram, YouTube, menjadi panggung bagi tubuh salon.

Korban dari korban ini, adalah para lelaki yang terpesona dengan penampilan perempuan dalam foto. Kecewa ketika ketemuan dan melihat aslinya.

Tubuh Perenang

Ini hanya untuk mewakili tubuh yang sehat. Penari, yoga, fitness, termasuk kelompok “tubuh perenang”.

Tubuh perenang tidak mengandalkan “tampak cantik” (dari sisi bentuk dan pewarnaan) sebagaimana tubuh salon.

Bagi tubuh perenang, seksi diukur dari “sehat” dan “teknik”.

Tubuh perenang ditempa, terlatih, dan rutin.

Seorang perenang, misalnya, berlatih gaya punggung, dada, kupu-kupu, katak, 200 meter bolak-balik. Mereka pernah takut, namun ingin bisa, mengalami tenggelam, minum air, matanya merah karena kelamaan di kolam renang, bahkan dimarahi pelatihnya. Tidak gratis.

Mereka yang berlatih yoga, suka memperlihatkan gerakan sulit. Bukan cantiknya, bukan seksinya. Semakin susah dilakukan, semakin mereka suka. Bertahap. Butuh kepercayaan, keseriusan, dan rajin berlatih.

Bukan rahasia, kalau dalam gerakan yoga, atau olah raga tertentu, harus dilakukan dengan fokus dan teknik yang benar. Jika tidak, bisa terjadi otot terkilir atau bahkan patah-tulang.

Cantik atau tidak wajahnya, kulit mereka sehat. Dada mengembang. Bentuk tubuh tidak lagi seperti Sponge’s Bob yang kotak. Tubuh perenang membentuk huruf V, dari pundak ke perut.

Seksi hanyalah bonus dari berolahraga dan berlatih setiap hari. Mereka ini bahkan punya agenda besar: hidup sehat. Bukan hanya gerakan yang harus sehat. Berpikir, makanan, semua harus sehat. Tujuannya hidup sehat. Lebih “bergerak” (atau mengoptimalkan kecerdasan kinestetis) adalah keinginan utama mereka.

Tubuh penari ditempa seperti tubuh perenang. Mereka menghafal gerakan, mengikuti iringan musik. Keringat keluar seperti terperas ketika latihan, namun dituntut harus selalu rapi, tidak boleh ada rambut yang menutupi leher sehelaipun. Harus tetap tersenyum, keringat tidak boleh menetes, kaos basah harus segera ganti.

Menjadi penari, sama sekali tidak mudah. Mereka hanya senang melakukan tarian, namun di balik itu, mereka “dihajar” dengan disiplin tinggi. Salah gerakan, kurang halus, tidak selaras dengan irama berarti harus mengulang lagi. Sampai bagus. Sajian 8 menit, bisa jadi merupakan hasil latihan 8 bulan.

Mereka mendapatkan pencapaian luar biasa, yaitu: kecerdasan kinestetis dan kecerdasan audio.
Telinga penari sangat peka. Mereka memiliki.insting dan kecerdasan yang bisa mengubah bunyi di sekitarnya menjadi musik, dan bisa menerjemahkan musik menjadi gerakan. Mereka kebanyakan mengidap ADHD, sulit fokus, maunya gerak terus, namun sekali berkonsentrasi pada tarian, semua akan terbawa kepada apa yang ia bawakan. Mereka bisa bersila, mendengarkan ombak, sambil “mencari” gerakan. Mereka bisa duduk berjam-jam menikmati sekeliling dan merasakan semua hal “bergerak”.

Seluruh tubuhnya berbicara. Indra lebih optimal.

Kecerdasan kinestetis adalah kecantikan bagi seorang penari. Seksi hanyalah bonus, karena ketatnya latihan mereka. Hanya sebagai pengingat: kalau mau cantik dan sehat, jadilah penari.

Lebih banyak orang memilih mendapatkan kecantikan fisik dengan pintasan. Ingin cepat. Selebihnya, mahal: kecantikan salon. Memutihkan kulit dengan cepat, memanjakan tubuh dengan perawatan, atau sedot lemak.

Mana yang Akan Kamu Capai?

Banyak orang ingin seksi “tanpa” kesusahan, tanpa pelatihan. Atau tampil top di depan publik (mungkin politisi, seniman, atau komik bermodal kompilasi anekdot)

Tubuh perenang, tubuh penari, berkata lain. Sehat dan stamina prima, adalah kecerdasan yang bernilai, sama dengan kecerdasan akademis. Mereka mengembalikan tubuh kepada fungsinya. Tubuh yang sehat dan terlatih.

Mengidentifikasi “tubuh salon” dan “tubuh perenang”, bisa membuat kita dengan mudah membedakan, kepura-puraan dan kesungguhan. Kelihatan cerdas, menguasai peristilahan, di depan mikropon, kita perlu bertanya, “Jangan-jangan, ini hasil -salon- dan pengerjaan tim, sebelum ia berpidato.”. Betapa sering ini terjadi di sekitar kita. Kelihatannya kaya. Kelihatannya pintar.

Kelihatan keren hanyalah kelihatan keren. Kelihatan pintar bukanlah pintar sebenarnya.

Sebagian orang ingin cepat, mendapat nilai bagus, dan pujian. Sebagian lain, belajar sebagai rutinitas, semakin berat namun terasa menyenangkan. Mencapai sesuatu.

Lihatlah Instagram, Facebook, YouTube. Tubuh macam apakah yang sedang kamu lihat? Tubuh salon atau tubuh perenang? [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.