in

Tren Medsos 2024: dari Interaksi Manusia ke Dominasi Teknologi

Menghadapi Era Baru Media Sosial: Keamanan Data, Realitas Virtual, dan Pengalaman Personalisasi

(Image: Day Milovich, with DALL-E)

Pemandangan Buruk Media Sosial

Media Sosial 2.0, dalam skenario terburuknya, bisa menjadi sebuah arena yang didominasi oleh pengejaran popularitas tanpa substansi. Bayangkan platform yang dipenuhi oleh interaksi yang dipalsukan dan superficial, di mana Like, View, Follower, bisa dibeli dan dijual layaknya komoditas. Pengguna terobsesi dengan angka dan perbandingan, sementara nilai asli dari interaksi manusia – empati, pengertian, dan pertukaran ide-ide otentik – menjadi sekunder. Kualitas konten terdegradasi menjadi sekedar alat untuk menarik perhatian sesaat, bukan untuk membangun diskusi yang bermakna atau berbagi pengalaman yang autentik.

Di dunia Media Sosial 2.0 yang suram ini, algoritma memainkan peran sebagai pembentuk realitas. Mereka membatasi pengguna dalam gelembung filter yang sempit, di mana hanya ide dan pandangan yang sejalan dengan mereka yang ditampilkan. “Ruang gema” (echo chamber) ini tidak hanya mengurangi eksposur terhadap pandangan yang berbeda, tapi juga memperkuat polarisasi dan memecah belah masyarakat. Kemampuan untuk berempati dan memahami perspektif orang lain terkikis, digantikan oleh pertarungan identitas yang tak berujung dan konflik yang memecah belah. Interaksi sosial yang seharusnya memperkaya menjadi alat untuk menegaskan perbedaan, menghasilkan konflik daripada pemahaman.

Lebih lanjut, di dunia Media Sosial 2.0 yang distopia ini, privasi menjadi mitos. Data pengguna, dari kebiasaan sehari-hari hingga informasi pribadi, menjadi barang dagangan tanpa persetujuan mereka. Rentan terhadap penyalahgunaan, data ini dapat digunakan untuk manipulasi, baik untuk kepentingan komersial maupun politik. Pengguna menjadi pasif, bukan hanya konsumen konten tapi juga produk dari sistem yang memanfaatkan mereka. Dalam kondisi ini, media sosial kehilangan esensinya sebagai alat untuk menghubungkan dan memperkaya pengalaman manusia, berubah menjadi mesin yang mendorong konsumsi, polarisasi, dan pengawasan.

— o O o —

Apa yang akan terjadi pada media sosial mendatang?

Artikel ini membahas perubahan dalam lanskap media sosial yang melibatkan peningkatan penipuan, evolusi model bisnis, dan munculnya startup baru.

Poin utama melibatkan tren menuju platform yang lebih fokus pada hubungan dekat, fragmentasi berdasarkan garis politik dan etika, serta adopsi model bisnis baru seperti langganan dan pembayaran dalam aplikasi.

Tiga tren masa depan: perkembangan menuju konten yang lebih kaya, ekonomi menggantikan iklan, dan munculnya keterikatan buatan melalui kecerdasan buatan (AI).

Peningkatan Penipuan dan Keamanan Bisnis

Kerugian akibat penipuan dan kecurangan meningkat sebesar 70% tahun lalu. Bisnis sering kali tidak menyadari masalah penipuan sampai pengguna yang dianggap “terverifikasi” ternyata melakukan penipuan. Sardine adalah solusi yang menggunakan machine learning, data transaksi ekstensif, dan aturan cerdas untuk mencegah penipuan sebelum terjadi, dengan beberapa perusahaan yang telah mempercayainya untuk mengurangi penipuan hingga 7x.

Tren Perubahan Model Bisnis di Media Sosial

Pada tahun 2011, Facebook memperkenalkan sistem “circle”, isinya adalah lingkaran pertemanan. Misalnya, saya punya circle (lingkaran-pertemanan) di pekerjaan, rumah, hobi, dan orang-asing. Intinya, untuk mencari siapa kawan dekat kita. Iklan Facebook memerlukan ini.

Perusahaan media sosial besar tidak lagi fokus pada menghubungkan teman dekat, meninggalkan celah untuk startup yang menghubungkan ikatan yang erat.

Polarisasi politik menciptakan peluang bagi platform baru yang menjadi versi “baik” dari platform yang sudah ada.

Model bisnis baru seperti langganan, pembayaran dalam aplikasi, atau e-commerce mulai mendapatkan daya tarik, menggantikan ketergantungan pada iklan.

Tidak mengherankan, banyak akun berjualan akun premium, berlangganan, atau menjual akun-sharing dari akun premium. Berlangganan sudah menjadi tren.

Startup Media Sosial

Startup seperti BeReal, Poparazzi, Mastodon, dan lainnya muncul dengan janji untuk memberikan penggunaan waktu yang lebih baik daripada platform lama.

Strategi inti termasuk fokus pada teman dekat, kontraposisi pada dasar etika atau politik, menghindari ketergantungan pada iklan, dan mencari penggunaan kasus baru yang menarik. Banyak fitur andalan startup baru yang ingin secara lebih khusus mengatasi kelemahan sosial media besar.

3 Tren Masa Depan Media Sosial

Berikut ini 3 tren masa depan media sosial.

1. Konten Lebih Kaya

Fitur foto dan video, sudah bukan lagi kemewahan. Live streaming, sudah biasa.

Format media yang kaya, akan muncul, seperti dunia imersif dan pengalaman VR/AR, menjadi langkah alami berikutnya setelah video. Kelak orang bisa berbelanja, memasuki toko, dan cek keranjang dengan virtual reality. Pengalaman tentu menjadi lebih kaya.

2. Ekonomi Menggantikan Iklan

Model bisnis yang berfokus pada ekonomi dalam platform sosial dapat menjadi tren, di mana pengguna membayar untuk meningkatkan visibilitas, gaya profil, atau item lainnya.

Alternatif pendapatan seperti berlangganan dan pembayaran dalam aplikasi mulai terbukti efektif.

Sekarang zaman ekonomi pelanggan, dengan segala janji dan masalah di baliknya.Media sosial dengan cryptocurrency akan semakin ngehit. Sekarang media sosial berbasis web3 blockchain sudah banyak, seperti Mastodon, Steemit, Binded, Veracity, Audius, Sapien, adalah contoh dari kebutuhan “ekonomi” seseorang di media sosial.

Termasuk platform menulis, blogging, seperti Mirror dan Paragraph, akan menjadikan tulisan sebagai NFT, properti kekayaan digital.

Apa bedanya dari media sosial biasa?

Di media sosial berbasis blockchain, keamanan menjadi jaminan. Kamu punya content (status, gambar, video, dll.) dan itu milikmu yang bisa kamu jual. Kamu punya wallet (“dompet digital”, namun cara kerjanya bukan untuk simpan-uang) yang berfungsi sebagai identitas dan alat transaksi.

Munculnya Keterikatan Artifisial

Kecerdasan buatan (AI) dapat mengubah cara kita terhubung secara sosial, bahkan menggantikan kebutuhan akan platform media sosial.

Kemungkinan penggunaan AI untuk menciptakan hubungan dan pengalaman sosial yang baru, termasuk penggunaan entitas buatan sebagai teman dan pendamping. Konten yang berkaitan dengan AI lebih mudah dihasilkan, seperti: penghasil gambar, editor video, dll. Media sosial dapat mengambil inspirasi dari dunia permainan dalam menciptakan ekonomi yang berfokus pada dunia virtual. Pada kesempatan sama, negara akan memunculkan kebijakan, salah satunya dengan bekerja-sama dengan perusahaan media sosial, untuk menyensor konten.

— o O o —

Wawasan Terapan untuk Media Sosial Mendatang

Jika kamu pengguna, investor, operator, atau orang media sosial, berikut ini wawasan yang dapat kita terapkan berkaitan dengan media sosial masa mendatang.

Menangkan Teman Dekat

Kamu harus membentuk komunitas yang kuat. Perusahaan “mencari” siapa saja teman dekat kamu. Ini sudah diawali para pemberi-pinjaman online maupun layanan seperti ojek online dan online shop. Teman dekat kamu yang akan dihubungi kalau ada masalah, sekaligus yang diberitahu secara default tentang apa yang kamu lakukan di media sosial. Media sosial seperti Tiktok dan Instagram, yang fokus pada modern broadcast, mengandalkan hubungan antara kamu dengan teman dekat kamu.

Fragmentasi Menurut Garis Politik dan Etika

Polarisasi semakin meningkat. Para “pemberontak”, antikemapanan, yang menantang status quo, agar dunia tidak “stuck“, akan menjadi gaya hidup. Umpatan, turun-naik ledakan tren, semaunya, akan semakin didengarkan orang. Orang-orang akan menjadi versi populer yang dicari platform media sosial untuk mendatangkan iklan. Pada saat yang sama, semua orang bisa mempertegas identitas mereka.

Perhatian (Traction) untuk Model Bisnis Baru

Siapa yang bisa membajak perhatian, akan menang. Iklan akan menjadi “alasan kuat” di balik pendirian bisnis baru, dengan model baru. Semakin banyak pekerjaan menunggu. Startup semakin mengabaikan model lama, mereka memilih langganan dengan segmentasi jelas, pembayaran melalui aplikasi, atau e-commerce. Eksperimen tentang selera dan kekuatan membayar akan semakin memunculkan banyak pekerjaan baru.

Hubungan Virtual

Banyak orang menyukai kepribadian buatan dalam pertemanan dan hubungan romantis. Media sosial, tepatnya akun media sosial, akan menjadi aset yang mahal dalam mengembangkan kepribadian. Orang membangun reputasi online, menjadi yang tercepat dan terbaik, melalui akun mereka. Aktivitas yang secara psikologis bermanfaat bagi orang-orang, untuk belajar, menonton, membuat sesuatu, yang juga menguntungkan perusahaan media sosial.

Aplikasi AI Pemroses Konten

Pemroses konten berbasis AI akan semakin banyak. Deepfake tidak lagi berurusan dengan “fake”, lebih banyak berurusan dengan estetika dan pengalaman merasakan “masa lalu” dan memprediksi masa depan. Generator untuk image, video, sudah menjadi urusan menarik tak-menarik, bukan lagi “fake versus fact“.

— o O o —

Seiring meningkatnya kekhawatiran tentang privasi data, platform media sosial diperkirakan akan mengadopsi kebijakan yang lebih ketat dan teknologi canggih untuk melindungi data pengguna.

Platform yang melayani komunitas atau minat spesifik akan menjadi lebih populer, menawarkan ruang yang lebih terfokus dan relevan untuk interaksi pengguna.

Penggunaan blockchain akan meningkatkan transparansi dan memberikan kontrol yang lebih besar kepada pengguna atas data dan konten mereka.

Perangkat IoT akan semakin terhubung dengan platform media sosial, memungkinkan interaksi yang lebih lancar antara pengguna dan perangkat mereka.

Karakter buatan yang dibuat dengan AI, seperti influencer virtual, akan menjadi lebih umum, menawarkan cara baru dan inovatif untuk pemasaran dan hiburan. Mereka bisa berinteraksi dengan pengguna secara real-time dan menyesuaikan konten mereka untuk menarik audiens tertentu.

Teknologi analitik prediktif akan digunakan untuk memahami preferensi pengguna dan menyediakan konten yang lebih dipersonalisasi, meningkatkan keterlibatan dan retensi pengguna.

Konten interaktif seperti kuis, polling, dan permainan akan menjadi lebih populer, memungkinkan pengguna untuk terlibat lebih dalam dengan konten.

Augmented Reality (AR) memungkinkan pengguna untuk mencoba produk secara virtual sebelum membeli, meningkatkan pengalaman berbelanja online.

Platform yang mendukung kesejahteraan mental dan fisik, seperti yang menawarkan pelatihan mindfulness atau konseling, akan menjadi lebih populer.

Seiring platform media sosial menjadi lebih berpengaruh dalam masyarakat, pemerintah di berbagai negara kemungkinan akan meningkatkan regulasi dan pengawasan untuk mengatasi masalah seperti ujaran kebencian, berita palsu, dan manipulasi data. Pemerintah akan semakin mengawasi media sosial. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.