in

Ngakunya Punya Toko, Ternyata Mengemis di Emperan Swalayan

Dalam beberapa bulan terakhir ada ratusan kasus orang tua terlantar di Kota Semarang.

Para camat mengikuti rapat koordinasi penanganan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di kantor Dinsos Kota Semarang. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Keberadaan pengemis, gelandangan, dan orang telantar (PGOT) menjadi masalah pelik di Kota Semarang. Tak jarang petugas mendapati fakta bahwa para pengemis yang terjaring bukan kategori miskin.

Selama ini, Tim Penjangkauan Dinsos (TPD) Kota Semarang terlibat aktif dalam penertiban PGOT. Koordinator TPD, Dwi Supratiwi mengungkapkan, kasus pengemis di Kota Semarang terbilang tinggi. Umumnya pengemis berasal dari pedesaan yang berupaya mengadu nasib di Ibu Kota Jawa Tengah.

Namun, kata Dwi, tidak semua pengemis merupakan orang miskin. Pihaknya pernah menangani pengemis yang ternyata mempunyai rumah mewah di kampung, bahkan keluarganya banyak yang sukses.

“Keluarganya kami hubungi dan mau menjemput ke Semarang, njemputnya pakai (Toyota) Fortuner,” ungkap Dwi, Kamis (20/1/2021).

Berdasarkan hasil komunikasi dengan keluarga pengemis, anaknya tidak tahu kalau ternyata ayahnya di Kota Semarang mengemis. Selama ini ayahnya mengaku punya toko di swalayan.

“Ngakunya punya toko elektronik di swalayan, padahal mengemis di depan swalayan,” cerita Dwi.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinsos Kota Semarang Tri Waluyo mengatakan, yang juga menjadi fokus penanganan adalah orang telantar. Dalam beberapa bulan terakhir ada ratusan kasus orang tua telantar.

Menurut dia, yang melatarbelakangi fenomena orang tua telantar di perkotaan, khususnya di Kota Semarang ada beberapa hal. Salah satunya persoalan keluarga.

“Jadi ada masalah keluarga seperti kurang perhatian dengan anaknya saat kecil sehingga anaknya tidak mau menerima kembali dan mengakui (orang tuanya),” jelasnya.

Belum lama ini, Tri memimpin rapat koordinasi penanganan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Rapat yang digelar di kantor Dinsos Kota Semarang itu diikuti camat se-Kota Semarang. (*)

editor : tri wuryono

Baihaqi Annizar