in

Alasan Ilmiah Mengapa Orang Tidak Mau Baca Berita

Hasil riset ilmiah. Yang punya web berita, perlu baca ini. Berita punya efek seperti menonton pornografi. Dari informasi, berubah menjadi pemihakan, dan sederet ekses negatif.

ilustrasi vector perempuan terkejut baca berita buruk
CEMAS DAN TIDAK PERCAYA. Masih banyak ekses negatif dari baca sembacang berita. Bukan alasan untuk pesimis menghadapi masa depan bersama. (Credit: Saul Herrera)

Kalau sedang nongkrong di warung kopi, saya sering dengar orang membahas berita yang sedang viral di YouTube dan konten agregasi yang masuk ke notifikasi Android mereka. Berita berubah menjadi perbincangan. Sementara itu, ada juga yang tidak mau baca berita. Perhatian saya tertarik kepada kelompok orang yang mengaku tidak mau membaca berita.

Mereka ini lebih suka diam. Tidak mau terlibat perbincangan tentang berita. Sekalipun orang di sebelahnya merasa paling mengerti atau paling update tentang suatu berita yang sedang menjadi trending topic.

Mengapa sebagian orang tidak mau mengikuti berita?

Padahal ada ada banyak fitur berita yang menjadi bawaan Android. Mereka bisa baca dan mengikuti kapan saja.

Saya punya “daftar” (list) akun di Twitter yang saya buka 3 kali sehari, isinya feed berita terbaru menit ini jam ini, dari media online. Ada issue apa saja, saya lihat dari daftar ini. Bisa diakses orang yang tidak punya akun Twitter. Belum lagi, di Android selalu ada notifikasi dari aplikasi agregasi berita.

Penyelidikan berlanjut, untuk mendengar alasan mengapa mereka tidak mau baca berita.

Dari Baca Berita ke Membuat Keputusan

“Seberapa besar pengaruh informasi media dalam pembuatan keputusanmu?”

Itu pertanyaan awal saya kepada kawan-kawan yang suka baca berita.

Ketika mereka baca berita di sana macet, tidak jadi pergi. Ada review bintang 1 tentang konsumen kecewa, tidak jadi beli di toko itu. Membaca doa ini bisa membuatmu masuk surga, lalu kamu baca doa ini. Masih banyak contoh lain. Itu contoh pengaruh informasi dalam mengambil keputusan.

Sebagian besar orang.. Membaca berita untuk membicarakan berita itu. Bukan karena relevansinya dengan hidup mereka. Pertarungan, perdebatan, menyala dan hangat, kemudian ada berita serupa, menjadi perbincangan, sampai kemudian tidak menjadi perbincangan lagi.

Tujuan berita adalah agar kamu mengkonsumsi berita itu. Semakin sering, semakin lama, semakin “terlibat”. Media sosial juga tidak ingin kamu pergi. Semakin lama kamu di Facebook, YouTube, dan Instagram, semakin media sosial itu mendapatkan keuntungan. Mereka menerapkan strategi sama. Install aplikasi ini, pasang dan dapatkan kebaikan. Kalau kamu pergi, izinkan kami mengirimkan notifikasi. Buka lagi. Scroll tiada-henti.

Membuat pembaca betah, juga menjadi “agenda” semua media online. Setelah kita klik URL, terbuka apa yang ingin kita baca. Masih ada “tulisan terkait”, call to action, permintaan berlangganan, dst.

Perspektif Media Online

Tentu saja ini sangat wajar. Internet tanpa informasi dan berita, apa jadinya. Informasi dan berita tanpa motif komersial, apa jadinya.

Setidaknya, itulah kata beberapa kawan di media online. Mereka membuat media, selain untuk mengembangkan skill menulis, di pekerjaan yang sangat mereka suka, tidak lupa pesan dari rumah: untuk dapat iklan. Tanpa iklan, tidak mungkin media bisa jalan. Strategi yang mereka jalankan adalah mengajak orang untuk membaca dan tidak berhenti mengkonsumsi berita.

Selama 1 hari, rata-rata media online memproduksi 15-50 berita. Apa saja ada di sana. Sebisa mungkin lengkap dan terus bertambah. Mulai dari berita singkat dengan kuantitas 350 kata sampai indepth di atas 1000 kata.

Yang perlu diketahui publik, media online berdiri sebagai industri. Ada kepentingan komersial, sistem produksi, kepegawaian, dll. Memang bentuknya harus industri. Tidak bisa berbentuk lain. Tidak boleh ada yang macet, agar produksi lancar. Di balik 500 kata yang kita baca, ada pekerjaan berat seorang reporter. Mereka mencari data, mengkonfirmasi narasumber, menentukan struktur berita, menimbang kemungkinan yang terjadi kalau berita ini berkembang, menjawab tanggapan, menentukan angle, dll. Belum lagi kalau content berisi foto dan video.

Para pekerja media sangat senang ketika ada tanggapan dari pembaca, walaupun kebanyakan media memilih tidak mengurusi kotak komentar yang bisa menjadi jembatan komunikasi langsung antara media dan pembaca.

Orang lebih suka membincang suatu link berita di media sosial. Di sanalah suatu berita mendapatkan “pengadilan” dan apresiasi langsung.

Faktor Sentuhan Emosional

Media menyajikan informasi berdasarkan content yang memiliki muatan emosi, agar terasa penting. Bikin citraan bahwa ini “yang pertama”, “yang tidak bisa kamu lewatkan”, dan memintamu waspada.

Tidak jarang, tingkat keparahan ini dibesar-besarkan — dengan prediksi, analisis ahli, yang bertugas membenarkan dan memihak pada keinginan media, “Mari kita lihat saja apa yang terjadi berikutnya..”. Itu kalimat lain dari “Ikuti terus berita kami..”.

Orang terobsesi pada detail yang tak-relevan dengan hidup mereka sendiri, seperti: bagaimana kebiasaan tidur Anya Geraldine, BTS, berapa biaya pembuatan film ini, dst.

Engagement

Untuk mempertinggi “engagement“, media mereka membuat segmen khusus. Rubrikasi seperti traveling, wisata, sejarah, lokalitas, dan hiburan yang berisi video lucu, agar semua orang tertawa. *) Khusus tentang video dan teks lucu, sekarang ini sampai menjadi tren di mana-mana.

Efeknya, konsumen merasa seperti diberitahu tentang apa yang sudah mereka tahu. Misalnya, ada tulisan tentang bahaya es teh dan mi instant. Atau ketika terjadi polarirasi dukungan terhadap 2 tokoh yang bertentangan.

Mereka diarahkan ke perspektif minor tentang peristiwa yang tak-relevan. Ledakan di luar proporsi, memancing luapan emosi (sedih, marah, haru), dan pikiran kita terus dimanipulasi dengan berita berjalan.

Informasi di antara Berguna Tak-Berguna

“Apa yang Membuat Informasi Berguna Bagimu?”

Media berita mengoptimalkan informasi yang terasa penting dengan sedikit memperhatikan kepentingan aktualnya.

Jika kita melihat ke belakang melalui sejarah, ini adalah keadaan umum era di mana jaringan informasi sangat terdesentralisasi.

Era jaringan informasi terpusat memiliki masalah sebaliknya: mereka berbagi informasi yang tampaknya tidak penting tetapi sebenarnya cukup penting.
Informasi makro yang berguna adalah informasi yang secara langsung berdampak pada Anda dan/atau memiliki pengaruh besar terhadap perekonomian. Kebijakan harga obat resep merupakan informasi penting. Peringkat keamanan mobil Anda adalah informasi penting. Tarif gula adalah informasi penting.

Hal-hal ini membosankan, tetapi penting karena itu adalah efek tingkat pertama yang mendorong hampir semua hal lainnya. Seperti pepatah lama, “Ini ekonomi, bodoh.” Masalah budaya biasanya terjadi di hilir; dengan pengecualian signifikan: rasisme, seksisme. Pada sebagian besar, ekonomi mendorong budaya, bukan sebaliknya.

Selainnya, tidak terlalu penting.

Berita Seperti Pornografi

Media menyajikan berita dengan efek seperti kalau orang menonton pornografi.
Trauma Berulang – Studi menemukan bahwa banyak orang yang melihat peristiwa bencana (serangan teroris, penembakan massal, bencana alam) berulang-ulang di televisi dapat mengembangkan gejala seperti PTSD, meskipun mereka tidak memiliki pengalaman langsung dari bencana tersebut.

Kita bisa membaca “efek negatif” ini dalam Mark A. Schuster, et al., (2001) A National Survey of Stress Reactions After the September 11, 2011, Terrorist Attacks, New England Journal of Medicine, 345(20).

Agenda Setting

Yang menggiring orang untuk menganggap suatu berita penting, karena terjadi perulangan (di mana-mana) dan mereka takut ketinggalan. Ini disebut “agenda setting”. Ketika media berita menjadi terobsesi dengan suatu topik dan menayangkannya berulang kali, orang-orang mulai percaya bahwa topik itu penting, baik itu benar-benar penting atau tidak. Dearing, J; Rogers, E tahun 1988 sudah menulis tentang ini dalam “Agenda-setting research: Where has it been, where is it going?“. Communication Yearbook. 11: 555–594.

Liputan berita negatif menyebabkan orang melebih-lebihkan masalah, percaya bahwa masalah itu jauh lebih luas daripada yang sebenarnya. Ini berlaku pada berita negatif.

Teori Kultivasi

Orang yang menonton lebih banyak berita cenderung melebih-lebihkan jumlah kejahatan dan kekerasan yang terjadi di dunia nyata. Mereka juga umumnya lebih sering tidak mempercayai sesama warga, menjadi paranoid bahwa semua orang berusaha mendapatkannya.

“Hati-hati”, “waspada”, “awas”, “sadar”, menjadi kata-kata yang sebenarnya dipengaruhi informasi yang beredar di media. Orang bisa lebih panjang dalam menilai tetangga dan kawan mereka, setelah mengerti seperti apa tetangga dan kawan mereka.

Riddle, K. (2009) menyebutkan ini dalam Cultivation Theory Revisited: The Impact of Childhood Television Viewing Levels on Social Reality Beliefs and Construct Accessibility in Adulthood, terbitan International Communication Association, hlm. 1–29.

Misinformasi dan Propaganda

Orang yang menonton berita kabel partisan (misalnya, Fox News dan MSNBC di Amerika Serikat) sebenarnya memiliki informasi yang lebih buruk daripada seseorang yang tidak menonton berita.

Perang informasi Russia juga tidak terlepas dari media. Mereka menerapkan metode rasional dan irasional, serta merancang leksikal-semantik dari kata-kata yang keluar di media. Propaganda, gaslighting, misinformasi, menjadi bagian dari peperangan di media.

Sebagian besar industri berita secara aktif memberikan informasi yang salah kepada orang-orang.

Stres dan Kecemasan

Percaya atau tidak, orang tidak mau stress dan cemas — karena mengkonsumsi berita. Jangan ceritakan bahaya makanan instan kepada emak-emak yang “terancam” ketika melihat bakso lezat di sore hari. Jangan ceritakan pentingnya berolahraga kepada orang yang ingin jadi juara rebahan tingkat kecamatan. Bukan hanya itu. Berita sudah beralih dari level “informasi” menjadi “sikap” percaya atau tidak-percaya. Akhirnya, orang memilih percaya kepada apa yang mereka percaya. Berita membuat mereka memihak. Dan agar tidak cemas, mereka memilih mengabaikan informasi yang membuat mereka cemas.

Konsumsi berita membahayakan kesehatan mental kita. Mengkonsumsi berita menghasilkan rasa pesimisme yang lebih besar tidak hanya tentang dunia, tetapi juga kehidupan kamu sendiri, seperti yang dijelaskan Mary E. McNaughton-cassill (2001) di The news media and psychological distress, Anxiety, Stress & Coping, 14:2, hlm. 193-211.

Pesimis bukan berarti patah-semangat. Mari kita lihat cara orang memandang uang.

Jika kamu pekerja media, perlihatkan dunia secara apa adanya.

Konten kamu baik karena berisi nasehat dan ajaran agama? Mungkin. Namun jika dirancang untuk membajak perhatian, itu tidaklah baik. Misalnya dengan memberikan “sembulan” (pop-up), mengirim notifikasi paksa, atau copy-paste content di group WhatsApp keluarga.

Mendorong perilaku kompulsif dan berulang-ulang pada pembaca.

Ketika saya menilik Beranda kawan-kawan saya suka baca berita, saya justru menemukan sikap alay. Apa saja di-klik. Apa saja diceritakan sebagai hal “penting”. Sikap ini disebut “fear of missing out” alias fomo. Ini sebutan untuk “penyakit” yang berwujud “rasa takut” karena dia cemas kalau tidak update, merasa kurang sempurna harinya kalau tidak mengikuti apa yang baru. Selalu bertanya kabar dan menceritakan kabar. Termasuk ketika ada aplikasi baru untuk edit foto, dia akan pakai potret kawannya untuk ia edit, demi menunjukkan kalau dia update.

Beranikah kamu dinilai dari Beranda medsos kamu?

Ada semacam kewajiban moral untuk mengikuti berita.

Media sosial, dengan cara kita meluangkan waktu, tidak selalu buruk.

Media Sosial Tidak Terlalu Berbahaya

Kajian longitudinal selam 8+ tahun menemukan, sedikit efek negatif dari pemakaian media sosial. Ini temuan penelitian yang dilakukan Coyne, S. M., Rogers, A. A., Zurcher, J. D., Stockdale, L., & Booth, M. (2019) dalam Does Time Spent Using Social Media Impact Mental Health?: An Eight-Year Longitudinal Study. Computers in Human Behavior, 106160. Mungkin hasilnya bisa berbeda (lebih baik, lebih buruk) untuk tahun ini.
Selain itu, media sosial yang digunakan dengan baik juga bisa meningkatkan kesejahteraan, seperti kata Collis, A., & Eggers, F. (2020, January 14) dalam “Effects of Restricting Social Media Usage

Jaringan Informasi Manusia

Ketika jaringan informasi terpusat memiliki keuntungan, kami mendapatkan jumlah yang lebih kecil dari informasi yang sangat relevan. Bahaya dari jaringan informasi ini adalah bahwa mereka dapat dengan mudah dirusak untuk tujuan tirani.

Jaringan terdesentralisasi mempromosikan jumlah yang lebih tinggi dari informasi berkualitas rendah. Kuantitas informasi umumnya memecah-mecah penduduk menjadi faksi-faksi yang bertikai berdasarkan identitas suku atau agama. Mereka hanya mempercayai utusan pilihan mereka dan tidak mempercayai orang lain.

Sementara jaringan informasi terpusat mendorong konflik “antara” badan-badan politik, jaringan informasi terdesentralisasi mendorong konflik “di dalam” badan-badan politik.

Di mana jaringan informasi terpusat memperkuat dan memperkuat identitas budaya, jaringan informasi terdesentralisasi cenderung menggulingkan dan merevolusi identitas budaya. Kadang-kadang revolusi ini merupakan lompatan besar bagi kemanusiaan (Pencerahan, hak-hak sipil, dll.) Tetapi di lain waktu, itu hanya sekelompok pertempuran gaya agama yang sewenang-wenang.

Jaringan informasi yang terdesentralisasi menciptakan keragaman informasi yang jauh lebih besar, tetapi rasio signal-to-noise buruk, sehingga setiap individu berkewajiban untuk menavigasi informasi dan dengan hati-hati memilih apa yang layak dikonsumsi dan apa yang harus diabaikan.

Frustrasi yang kita alami dengan media berita—negatif, kebohongan, pertengkaran partisan—tidak akan berubah. Ini tidak akan menjadi lebih baik.

Kita harus belajar bagaimana menavigasi lingkungan media dan memilih dengan bola mata kita. Untuk melakukan itu, kita harus memahami informasi apa yang sebenarnya berguna dan penting, dan apa yang hanya omong kosong.

Bagaimana Media Berita Membajak Perhatian Kamu

Terkait bias emosi, orang lebih memperhatikan dan memiliki respons emosional yang lebih intens terhadap peristiwa negatif daripada peristiwa positif, kata Vaish, A., Grossmann, T., & Woodward, A. (2008) di Psychological Bulletin, 134(3), hlm. 383–403

Orang cenderung memberi bobot dan kepentingan lebih pada peristiwa yang terjadi baru-baru ini, sebagai lawan jauh di masa lalu atau masa depan.

  • Bias Narasi. Keinginan untuk mengatur informasi dalam kerangka struktur cerita yang koheren (Peristiwa X terjadi karena Peristiwa Y), meskipun itu tidak benar.
  • Bias Konfirmasi. Kecenderungan untuk menyusun informasi baru sehingga sesuai dengan keyakinan yang kita pegang sebelumnya.

Jadi, berita yang akhir-akhir ini kamu konsumsi biasanya begini: negatif, baru, sesuai cerita, nggak unik (ada di mana-mana), dan kamu anggap baik kalau dia “relevan” dan bisa mengubah hidupmu, dan kamu hanya pilih berita yang mendukung kepercayaan kamu.

Berita adalah..

  • “Ekonomi Perhatian” (Attention Economy).
  • Memanipulasi pikiranmu. *) Jangan “negatif” terhadap kata “manipulasi”.
  • Memanfaatkan apa yang kamu punya.
  • Didorong narasi.
  • Sangat terlihat.

Sebaliknya, inilah sifat informasi yang penting:

  • Jangka panjang.
  • Lambat.
  • Impersonal.
  • Abstrak dan tak-terlihat.
  • Tidak harus negatif.
  • Panjang.
  • Butuh waktu untuk memahami.

Informasi penting apa yang kamu tahu? Coba pilih satu dan gunakan daftar di atas.

Dan sebaiknya kita optimistis menghadapi masa depan.

  • Kecelakaan mobil membunuh lebih banyak orang daripada gabungan terorisme, penembakan massal, dan bencana alam.
  • Urutan genom manusia membuka jalan untuk memprediksi penyakit dan kondisi sebelum terjadi, mengubah dan meningkatkan kesehatan jutaan, jika tidak miliaran, orang selama generasi yang akan datang.
  • Lebih dari 1 miliar orang telah diangkat dari kemiskinan ekstrem di seluruh dunia, karena kombinasi akses yang lebih besar ke perawatan kesehatan, sanitasi, dan pembukaan pasar untuk perdagangan yang lebih besar.
  • Banyak sekali temuan sains tentang kerja para ilmuwan dan peneliti yang tidak tidur ketika kita sedang tidur. Ada banyak hal positif tentang masa depan, yang sedang dibangun sebagian orang.
  • Kita bisa menulis lebih baik, tanpa mengandalkan kecepatan dan tidak demi traffic.

Seperti apa update dan koleksi informasi kamu?

Kita hanya bisa andalkan diri-sendiri untuk membaca informasi.

Saya punya cara membaca informasi. Cari konten bernilai tertinggi yang dapat Anda temukan, lalu bayar untuk itu. Batasi konsumsi Anda hingga beberapa potong konten per minggu. Pergi untuk kualitas daripada kuantitas.

Jika kamu menulis content, buatlah content kamu mahal, berjangka panjang, orang lain tidak bisa menirunya. Bangun keahlian kamu, tunjukkan keahlian kamu.

Berhentilah.. Menonton televisi. Mengikuti berita di media sosial. Clickbait. Berita singkat. Konsumsi dari 1 sumber.

Kamu ingin menjadi berita apa besok untuk dirimu sendiri? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.