in

Dystopia di Hari-hari Terakhir Kejahatan Amerika

Ketika Amerika punya rencana menetralkan keinginan jahat seluruh warga, para penjahat melakukan perampokan terbesar sebelum keluar dari Amerika. Membaca dystopia dan metagora di balik film “The Last Days of American Crime”.

Sinopsis Film “The Last Days of American Crime”

Pemerintah Amerika sedang hitung-mundur untuk mengaktifkan sinyal ke seluruh negara. Sinyal yang akan langsung mengedalikan otak warga negara agar tidak lagi punya niatan jahat. Kriminalitas akan menjadi nol. Mantan perampok bank, sedang merencanakan momen peralihan ini, untuk merampok 1 miliar dolar Amerika sekaligus membalas dendam adiknya yang mati di penjara. Apakah akan berhasil? Kejutan apa di dalam cerita nanti?

Film “The Last Days of American Crime”, merupakan adaptasi dari novel grafis dengan judul sama, karya Rick Remender dan Greg Tocchini. Film ini launching tahun 2020. Sutradara: Olivier Megaton. Termasuk genre scifi, dystopia, crime. Ini jenis film “heist” yang memang ngehit di Netflix.

Plot film ini lumayan complicated. Saya nggak mau “spoiler“. Tidak ada detail rencana. Tidak ada pihak pemerintah yang menjadi protagonis. Sejak awal, tokohnya adalah Bricke, yang anti-hero. Tema sci-fi, crime, dan setting dystopia tahun 2025, sudah seru dengan sendirinya.

Karakter di film ini kurang kuat, bukan karena acting mereka buruk. Tidak ada karakter yang unik. Kita sudah sering lihat kriminal anti-hero, polisi korup, perempuan hacker, dan sistem yang gagal, di dalam film.

Tempo film ini juga kacau. Perhatian yang kurang seimbang. Bagian cepat dan lambat, seperti tidak punya prioritas. Dukungan musik latar dan pernik-pernik filmnya, kurang kuat. Percakapan klise. Kalimat-kalimat yang tidak quotable. Normalitas yang terlalu beku dan murung. Tidak ada degan menegangkan, kecuali di opening dan adegan penyiksaan di trailer. Sebenarnya, beberapa kali flashback, menyingkap motivasi dan latar belakang, sayang sekali, ini semacam “jawaban” atau “kejutan” yang dipaksakan. Banyak lubang di plot yang membuat saya mundur 10 detik beberapa kali, karena memastikan, “Mengapa begini?”.

Terlepas dari sinematografi itu, lagi pula, itu pendapat subjektif saya sebagai penonton, menurut saya, ide film ini menarik. Tentang sistem dystopia yang ingin menghapus niat jahat dan mengendalikan perilaku warga negara, demi kejahatan nol.

Dystopia yang isinya zaman “berbeda” di masa depan, bukan ide baru. Film “Minority Report” punya ide lebih keren: memprediksi “kejahatan yang akan terjadi” dengan algoritma mesin PreCogs. Tidak masalah, karena begitulah dyatopia. Film “Tomorrow’s Land” memakai ide sinyal penormal, berupa Menara Eiffel. Dalam game, ide tower seperti ini milik pasukan Russia di game “Red Alert”.

Konsep Film “The Last Days of American Crime”

William Burroughs, yang dikutip Kevin, dalam film ini, punya gagasan tentang “polisi di dalam”, yang dimiliki semua manusia, termasuk sosiopat semacam Kevin. Ide sinyal penormal dari sistem bernama “API”, adalah ide untuk mengaktifkan “polisi di dalam” itu, agar semua orang bisa mengawasi dirinya sendiri. Mekanisme psikologi dan sosial, yang membuat tindakan manusia menjadi “aman terkendali”.

Bayangkan, dunia tanpa kriminalitas. Pistol di tangan, tidak jadi ditembakkan. Perampok tersadar di tengah perampokan. Polisi tidak perlu lagi patroli untuk mencegah kriminalitas.

William Burroughs memang terkenal dengan tema-tema kendali sosial dan manipulasi mental.

Yang menarik, “polisi di dalam” baru aktif karena ada sinyal eksternal. Jalan hanya ketika API (nama sistem ini) berfungsi normal.

Dalam “The Last Day of American Crime”, sifat spesial manusia, yang membuatnya menjadi manusia adalah “kejahatan”. Hanya manusia yang bisa jahat, mengorganisasikan kejahatan, mendorong orang lain melakukan kejahatan, dan paling kejam dibandingkan makhluk lain.
Kejahatan ini ingin diredam. Sampai titik nol.

Kondisi Dystopia di Film “The Last Days of American Crime”

Apa yang terjadi ketika tindakan manusia bisa dinormalkan, secara merata, di seluruh negara?

Ketika kebijakan ini dipublikasikan, kontroversi terjadi. Pro-kontra. Jembatan Ambassador, perbatasan Amerika-Canada menjadi tempat konflik antara yang mau pergi dari Amerika, yang sudah tidak bebas lagi, melawan barikade keamanan bersenjata. Api, ledakan, tembakan, dan warga tewas, menjadi pemandangan di film ini. Perdebatan etis, di televisi, tentang kebebasan warga. Amerika punya Amandemen Kedua, tentu menghadapi perdebatan ramai.

Kekuasaan penuh, kebijakan tanpa protes, akan mengubah suatu negara menjadi negara totaliter, satu suara. Apalagi jika protes dan kebebasan bicara sudah dianggap sebagai kejahatan. Politisi dan pemerintah selalu berada di posisi strategis.

Secara ekonomi, pemegang investasi sistem penormal ini akan menentukan apa yang akan terjadi besok.

Apalagi, jika sistem mengalami “failure”, sementara tatanan keamanan dan politik sudah berubah, tentu chaos menanti.

Secara hukum, ini bagian terpenting, siapa yang menentukan sesuatu sebagai jahat atau tidak-jahat. Pada cerita “Minority Report”, kebenaran ditentukan PreCogs.

Apa yang terjadi pada tindakan non-kriminal dan kreatif? Dunia tidak hitam-putih. Dunia diciptakan bukan untuk mengatasi yang jahat dan tidak-jahat saja. Ada barisan remaja bermain, orang punya gagasan start-up, bisnis bersama, dll.

Singkatnya, yang menjadi masalah di masyarakat bukan lagi pengendalian kriminalitas dan pencapaian angka nol kejahatan. Yang menjadi masalah adalah akibat dan konsekuensi logis, jika sistem baru ini diterapkan.

Fitur Dystopia

Apa saja ciri-ciri utama dari film genre dystopia?

  • Setting masyarakat dalam kekuasaan otoriter. Selalu ada narasi tentang keadaan yang sama-sekali berbeda, misalnya: setelah dunia melewati bencana, atau sedang dalam bencana, pengendalian populasi, atau mengerjakan ide lain melalui teknologi. Seringnya, sistem ini menindas.
  • Kebebasan dan otonomi perorangan dalam masa kritis. Cara mereka makan, berpakaian, memakai waktu (seperti di film “In Time”), membuat keputusan (seperti di “Minority Report”), sudah menipis. Pengawasan masif dan totaliter terjadi di mana-mana. Patroli, kamera, penandaan kelas, jadwal, sangat ketat. Cerita biasanya dimulai ketika ada yang bisa mengakali sistem ini. Individu menjadi horisontal, rata, garis semu, keseragaman, pelabelan, datar.
  • Teknologi mengambil setengah atau tiga perempat sistem. Bukan soal komputer atau internet. Teknologi adalah teknologi.

Film Genre Dystopia itu Inspiratif

Film-film dystopia menampilkan konstruksi ruang dan teknologi yang inspiratif. Kita tentu ingat dengan desain visual kota di film Matrix, Goa Zion yang menjadi Bahtera Nuh tempat perlindungan manusia-terakhir, yang kuno, tangguh, sekaligus berteknologi kelas tinggi. Atau adegan pemakaian telpon sekali pakai seperti di film “Aeon Flux”, yang menjadi ide “one time password” sampai sekarang. Atau “Minority Report” yang mempercayakan deteksi kejahatan kepada algoritma PreCogs. Arsitektur, desain, pemrograman, hanya sebagian kecil bidang yang mendapatkan inspirasi dari film-film dystopia.

  • Muram dan murung. Sangat sering terjadi di film genre dystopia. Setting yang kelam. Puing-puing atau penataan yang terlalu teratur. Sangat kotor atau terlalu bersih. Kondisi yang tampak lagi di film-film bertema dystopia adalah ekonomi yang membuat hal-hal yang non-fisik dan “mental”, menjadi komoditas. Waktu, umur, keputusan, rahim, kebebasan, semua memasuki sistem perdagangan.
  • Perlawanan diametral, berhadap-hadapan, antara pemerintah dan oposisi, atau sistem melawan divergen, peraturan melawan anti-hero. Pemberontakan menjadi “fashion”, mode eksistensi, yang mempertegas sifat mendasar manusia.

Metafora

Sinyal penormal dari sistem API dalam film “The Last Days of American Crime” adalah metafora kendali pemerintah atas warganya.Tanpa sinyal ini pemerintah sudah punya tanggung jawab untuk mengendalikan tindakan manusia, agar tidak jahat. Sinyal penormal ini juga “penanda” (signifier) dari hilangnya kebebasan individu. Apakah masih disebut sebagai manusia jika seseorang sudah kehilangan “potensi” jahat. Tentu sangat susah. Tidak ada prasangka buruk, tidak ada kecurigaan akan adanya hal-hal negatif. Menara di film ini identik dengan kendali, pengawasan, dan anggapan kejahatan sebagai “masalah”.

Karakter Bricke, Kevin, dan pacar segitiganya, sejak awal digambarkan memiliki motivasi berbeda. Sosok mereka anti-hero. Jenis yang dibela para penonton, yang jahat karena harus jahat, yang mewakili harapan penonton agar sistem penghapus kejahatan ini memperoleh perlawanan.

Warga yang terlibat dalam demonstrasi dan riot, yang ingin keluar dari Amerika, dan sebagian lain ingin bebas merampok, adalah refleksi dari kejenuhan melawan sistem. Kita perlu merampok karena setelah sinyal API aktif nanti, tidak ada polisi yang mengejar mereka. Sebaliknya, untuk apa uang banyak kalau segalanya nanti akan adil dan tanpa kejahatan? Kejahatan berubah menjadi nihilisme, bentuk perlawanan atas kepastian sistemik, atas dominasi negara. Kejahatan menjadi pembuktian kemanusiaan mereka. Kejahatan menjadi satu-satunya cara untuk melawan pengendali moralitas yang sudah tidak akan berfungsi sebentar lagi.

Kondisi ini didukung dengan tampilan kebakaran, remang-remang kegelapan, lorong-lorong sepi, perbatasan yang penuh kekacauan, dan ini menjadi simbol degradasi moral, ketidakpuasan sosial, dan keputusasaan. Bahkan para polisi kebingungan. Apakah mereka tetap menjadi polisi jika pelatihan mereka, komitmen mereka, tidak lagi punya “musuh” bernama perilaku kejahatan? Konsultan psikologi, pengacara, sekolah, agamawan, yang tidak disebutkan di film ini, tentu memiliki “krisis” seperti para polisi ini.

“Kekuasaan” dan politik dalam film ini, terlihat dalam obyek ikonik yang merepreseentasikan kekuasaan, seperti: senjata, peledak brankas, suap, uang-palsu, ruang kendali API yang penuh jaringan komputer, dll.

Berita buruknya, banyak film memakai obyek ikonik kekuasaan seperti ini. Berita baiknya, cara ini memperkuat kebosanan penonton terhadap sistem API.

Penanda (Signifier) dalam Film

Sistem kendali milik kekuasaan, bisa menyentuh, bisa tanpa-menyentuh. Kekuasaan punya sistem eksplorasi ekstrim dalam menormalkan dan mendisiplinkan “tubuh” manusia.

Identitas kemanusiaan, individual maupun sosial, dalam film ini mengalami distorisi dan dekonstruksi. Ada peralatan legal-total, sampai memasuki otak manusia, yang membuat mereka “dipastikan” akan berubah menjadi normal, penurut, atau (dalam bahasa Kevin) menjadi “singa yang bodoh”, tidak mampu lagi mengendalikan tindakannya sendiri. Tidak ada kebebasan bicara, tidak ada kebebasan memilih.

Film ini representasi praktik hegemoni budaya. Gramsci menulis tentang bagaimana cara kekuasaan merawat dirinya.

Teknologi dalam film ini mengubah cara-pandang kita tentang kekuatan jaringan, nanoteknologi, frekuensi, yang ternyata mengubah “fungsi” pikiran. Manusia menjadi sangat sosial. Selera, tindakan, kecemasan, dan ketakutan yang hampir sama. Televisi, sepanjang film, sering menampilkan riot dan pendapat para ahli tentang dampak kebijakan sinyal penormal ini.

Teknologi tidak lagi menghibur, mengorganisasikan waktu dan pekerjaan kita, karena di film ini, keadaan berbalik: manusia menjadi “fungsi” eksistensi dan “obyek” yang dikendalikan teknologi.

Realitas dihitung dan dikuasai teknologi. Realitas tidak lagi menjadi realitas, seudah menjadi simulakra, yang direproduksi oleh teknologi, seperti dalam pemikiran Baudrillard.

Menurut konsep behaviorisme sosial, manusia sebagai subyek-dan-tindakannya, menjadi obyek yang dimanipulasi secara eksternal, “dikondisikan”, seperti anjing percobaan Pavlov.

Kekasaan, dalam film ini, jika kita mengingat pengetahuan/kekuasaan Foucault, memperlihatkan pengendalian panoptikon, konsep penjara cincin di mana para narapidana (warga negara) diawasi dengan menara vertikal. Kekuasaan tidak lagi memusat, namun telah menyebar.

Dan kekacauan yang terjadi adalah perjuangan manusia mempertahankan kebebasannya.

Apa yang terjadi, jika sinyal penormal dalam film ini, dalam dunia nyata tidak dipancarkan dari tower, melainkan dari suatu kebijakan pemerintah? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.