SEMARANG (jatengtoday.com) – Kampus Politeknik Maritim Negeri (Polimarin) Semarang berupaya membuat terobosan baru untuk melakukan inovasi bidang maritim. Mereka menggandeng pemerintah Inggris. Diantaranya akan didatangkan ahli dari Inggris ke Indonesia untuk membantu penguatan kurikulum.
Selain itu, bakal memanfaatkan teknologi canggih terbaru dengan komitmen membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia. “Kami berharap kerjasama dengan pemerintah Inggris ini bisa sebagai jembatan komunikasi bisnis maritim,” kata Direktur Polimarin Semarang, DR Sri Tutie Rahayu, Kamis (12/7).
Ini menjadi salah satu upaya mewujudkan kemitraan industri atau kerjasama dengan kampus maritim Inggris, seperti menciptakan program double degree dan join degree.
“Kami akan terus berkreasi dan melakukan inovasi lewat kerjasama dengan berbagai pihak,” katanya.
Selain kerjasama dengan pemerintah Inggris, juga membangun kerjasama lintas kementerian nasional, yakni Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi serta Kementerian Tenaga Kerja.
“Ini menjadi langkah nyata mendukung komitmen pemerintahan Presiden Jokowi mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia,” kata Sri.
Lebih lanjut, Sri menjelaskan, kerjasama dengan Kementerian Ketenagakerjaan diharapkan bisa mewujudkan cita-cita Polimarin Semarang membuka program studi baru yaitu Mekatronika. “Sebab Balai Latihan Kerja (BLK) yang dimiliki Kementerian Ketenagakerjaan mempunyai alat-alat laboratorium yang bisa mensuport keinginan tersebut,” tandasnya.
Di Polimarin Semarang, tercatat 95 persen lulusan Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga (KPN) terserap di lapangan kerja.
Kepala Bagian Politik Kedubes Inggris, Theresa O’Mahony telah berkunjung ke Polimarin Semarang pada Rabu, 11 Juli 2018 lalu.
Dalam kunjungannya, Theresa mengaku ingin membantu pemerintah Indonesia memperbaiki pendidikan tinggi vokasi. Kerjasama yang dilakukan pemerintah Inggris tidak hanya dengan Polimarin Semarang. Namun juga beberapa perguruan tinggi maritim lain di Indonesia. “Kami akan membantu kurikulum, memberi saran yang bersifat teknis, ada kemungkinan mendatangkan ahli dari Inggris,” katanya.
Menurut Theresa, mutu atau kualitas pendidikan maritim di Indonesia sudah cukup bagus. Hanya saja perlu lebih ditingkatkan. Melalui kerjasama ini diharapkan bisa saling berbagi pengetahuan dan teknologi terbaru. “Kami punya alat yang sangat canggih di Inggris. Saya baru melihat disini, ternyata juga memiliki alat sangat canggih. Nantinya bisa berbagai pengetahuan dan keahlian. Indonesia dan Inggris sama-sama negara maritim,” katanya. (abdul mughis)
editor: ricky fitriyanto